“Cina Tuwa” yang Tak Perlu dan Cerita yang Serba Dilalah

Oleh Dhoni Zustiyantoro KITA nampaknya masih akan menemukan rasisme, setidaknya pengotak-kotakan yang tak perlu terhadap kesukuan, dalam karya-karya sastra. Ketiadaan anasir kritis, termasuk tumpulnya cara bercerita, menjadi musabab kemunculan hal tak perlu itu. Mengemukanya rasisme yang tak perlu itu ada dalam crita cekak “Calon Wartawan” di majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat, Nomor 49 edisi 9 […]

Lima Buku Prosa dan Kusala Sastra Khatulistiwa 2014

Saya masih ingat status Facebook prosais kenamaan Tanah Air, Linda Christanty, yang menyita perhatian banyak orang. Status tersebut diunggah sesaat setelah tim juri Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2013, yang tahun ini berganti nama menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa, mengumumkan pemenang dari ajang tahunan itu. Pada kategori puisi, Linda menjagokan buku puisi AS Laksana, yang kemudian pada […]

Menggagas Novel Pengganti Skripsi

UNIVERSITAS Gadjah Mada Yogyakarta memunculkan wacana bahwa novel dapat menggantikan skripsi. Gagasan tersebut dinilai dapat menjadi sarana mendorong kemunculan banyak sastrawan muda berkelas. Hal itu sekaligus menjawab kegelisahan akan minimnya sastrawan sekelas Rendra, Umar Kayam, atau Sapardi Djoko Damono (Koran Tempo, 8 Agustus 2014). Gagasan itu menarik untuk diperbincangkan dan sudah sepatutnya disambut baik oleh […]

Tubuh, Seks, dan Modal: Menyusur Aksara Amananunna

SEPENDEK apa pun sebuah cerita, kita senantiasa berharap ia mampu berkisah. Namun nyatanya, tak mudah menyajikan cerita yang mampu berkisah dalam bingkai seketat cerpen. Banyak pengarang hanya menyajikan fragmen dengan cara yang tergesa-gesa, dengan tokoh dan banyak hal yang berebut ingin dihadirkan. Membaca buku kumpulan cerpen Aksara Amananunna karya Rio Johan (Penerbit KPG, 2014) sama […]