Iseng-iseng Berhadiah PNS: Obrolan di Warung Kopi

ADA satu ungkapan satire dari seorang teman setelah mengikuti tes seleksi calon pegawai negeri sipil di salahsatu kementerian. Karena tidak memenuhi batas nilai tertentu, ia tidak masuk dalam kategori peserta yang lolos ke tahap berikutnya. Ia menceritakan jika dari sekitar 50 peserta yang menjalani tes dalam satu ruangan yang sama, yang lolos sekitar lima orang.

“Ah, ikut tes ini ibarat iseng-iseng berhadiah menjadi PNS,” kata dia sembari tertawa lepas. Kami berbincang di sebuah warung kopi, beberapa hari setelah ia menjalani tes.

“Kok bisa?” saya masih tergelitik dengan ungkapan yang baru kali ini saya dengar.

“Ibarat orang menjaring, jadi PNS itu 90 persen bergantung tangan Tuhan. Keberuntungan. Kita bersaing dengan ribuan pendaftar. Kita tidak tahu apa yang terjadi dalam 90 menit waktu mengerjakan soal itu. Hidup kita selanjutnya ditentukan setelah 90 menit itu.”

Saya terbengong mendengar penjelasan itu. Dalam tuturannya itu saya melihat ada tegangan antara harapan dan kekecewaan. Selanjutnya, dia bercerita jika peserta tes kebanyakan merupakan para pemuda yang baru saja lulus.

“Bagaimana kamu tahu?” tanya saya.

“Ya mereka masih unyu-unyu, kayak mahasiswa,” jawab kawan saya itu, yang memang secara penampilan nampak lebih tua meski umurnya juga belum genap 35 tahun. Saya pikir ia tidak terima dengan pesaingnya yang berumur jauh di bawahnya.

Ia lantas bercerita banyak mengenai kehidupannya yang, menurut dia, telah ia abdikan selama lebih kurang tujuh tahun di sebuah lembaga pemerintahan. Ia mula-mula bekerja di sana sebagai pegawai tidak tetap selama tiga tahun lantas menjadi pegawai kontrak. Namun, dari tahun ke tahun, belum juga ada formasi PNS di lembaga tempatnya bekerja. Padahal, ia sangat mengidam-idamkan menjadi pekerja yang dibayar dan diakui secara resmi oleh negara.

“Jadi PNS itu idaman semua orang. Kalau sudah jadi PNS, selesai sudah kehidupan kita,” katanya sedikit retoris.

Lebih-kurang tiga kali kami bertemu—setelah ia melewatkan tes PNS itu—dan dia masih juga ingin membahas kegetirannya. Sebagai kawan dan pendengar yang baik, saya berupaya berempati kepadanya, yang telah berkeluarga dan memiliki dua anak.

Namun, obrolan kali terakhir membuat saya terenyak. Dengan mimik muka muram ia bercerita jika beberapa kawan dekatnya yang tinggal dalam satu kompleks perumahan telah berstatus sebagai PNS. Si A yang rumahnya di ujung gang telah berstatus PNS. Ia dosen di sebuah perguruan tinggi negeri. Si B yang tinggal di gang yang berbeda, umurnya terpaut jauh di bawah kawan saya itu, juga “berhasil” jadi PNS. Ia guru dan kini membangun rumahnya menjadi dua lantai.

“Lihat, jadi PNS itu ibarat disuwargakke,” kata dia, sembari menyesap kopi yang hampir habis dari cangkir.

Saya tak menimpali omongan itu. Kami terdiam beberapa saat. Saya sebenarnya sedang mencari topik obrolan lain yang bisa mengalihkan  perbincangan, alih-alih menghibur dia.

“Kabarnya awal tahun 2018 akan ada lagi tes PNS. Ayo ikut, siapa tahu Tuhan berpihak pada kita,” kata dia sembari memerlihatkan sebuah laman berita daring yang ia buka dari gawai Android-nya.

“Apakah Tuhan juga bisa iseng?” tanyaku. Dan kami pun berpisah karena kesibukan masing-masing.

Kuharap dalam pertemuan selanjutnya ia tak lagi membahas ihwal kegagalan itu karena sudah diterima sebagai PNS sesuai harapan besarnya. Amin.

Advertisements

Mahabenar Pengendara Motor dengan Segala Kelakuannya

RABU, 15 November 2017 sore kemarin adalah kali ke sekian saya menjadi korban pengendara motor yang secara sembarangan nyelonong belok kanan dari kiri mobil yang saya kendarai. Sore kemarin, pengendara motor itu adalah seorang emak-emak yang hendak belok, di daerah Srondol, Semarang. Untunglah, saya berkendara tak kencang karena memang keadaan jalan sedang padat.

Akibat ciuman tak terkehendaki itu, bemper depan sebelah kiri menjadi baret. Ya, meski tak begitu nampak, hanya baret yang kemudian saya poles compound sehingga hanya nampak titik hitam. Namun tetap saja, kelakuan emak-emak itu—juga pengendara motor lainnya—terus saja membikin ngilu bagi siapa pun yang sedang nyetir. Ini berdasar pada pengakuan kawan-kawan yang juga bisa mengemudi. Masih perlu survei atau penelitian untuk membuktikan hal ini? Cobalah Anda Tanya kepada kawan yang bisa nyetir….

Pada minggu sebelumnya, ketika melintas di wilayah Gajahmungkur dari arah Jalan Diponegoro, bemper depan bagian kiri juga lecet karena dicium motor pengendara gojek. Ketika sampai di pertigaan, pengendara motor itu langsung nyelonong belok dan memaksa untuk mendahului dari sebelah kiri saya. Alhasil, dia nyenggol bemper dan hasilnya pun sama: meninggalkan bekas goresan hitam di bemper. Ah, mungkin bemper itu memikat dan dicintai sehingga banyak yang ingin nyium….

Untung saja, pengendara gojek tak jatuh. Kami sama-sama tak berhenti karena motor itu dikendarai dengan kecepatan tinggi. Ia pun langsung ngacir.

Jauh sebelumnya, sekitar sepekan setelah Lebaran 2017, saya ke Yogyakarta bersama istri untuk menikmati libur sebelum kembali rutinitas. Kepadatan Jalan Malioboro pun menyisakan kenangan bagi bemper depan sebelah kiri itu: dua orang berboncengan mengendarai motor nyelonong ke sebelah kanan dalam keadaan kendaraan sama-sama berjalan.

Ya, mungkin itulah yang namanya kenangan, tak selalu manis namun bisa menyisakan tanda agar kelak memaksa dikenang. Halah

Setidaknya, ada beberapa kelakuan faktual yang menjadi kebiasaan umum para pengendara motor di jalanan kita.

  1. Tak memfungsikan spion

Pengendara motor tak benar-benar memfungsikan spionnya untuk melihat ke belakang, terutama saat akan mendahului kendaraan di depannya atau saat akan belok. Tak jarang spion bawaan pabrik itu berubah bentuk menjadi bervariasi. Emak-emak pengendara motor malah mengarahkan spion ke arah muka. Agar bisa ngaca sepanjang jalan? Hellooo….

  1. Lupa mematikan lampu sein

Kebiasaan pemotor yang juga sering kita temui yakni sering lupa mematikan lampu sein setelah belok. Ia baru sadar setelah akan menggunakannya lagi, di belokan depan saat akan menghidupkan sein kembali. Solusinya, pabrikan mesti memproduksi lampu sein yang berbunyi, seperti dulu kita tahu ada pada motor Yamaha Alfa, bisa menjadi alternatif. Kan keren, sein berkedip dan bersuara tit-tit-tit…. Kalaupun tak lihat lampu sein saat belok, kita bisa mendengar suara….

  1. Tak pakai helm

Karena berkendara dalam jarak dekat, keselamatan pun tak jadi prioritas. Helm sebagai peranti keselamatan utama pemotor pun tak selalu dipakai dengan alasan itu. Padahal, kita tak tahu musibah setiap waktu bisa mengintai. Atau mungkin kita mengira Malaikat Izrail butuh istirahat.

  1. Paling penting

Saat berkendara, seorang pemotor acap memosisikan diri paling penting di antara masyarakat pengguna jalanan. Ia hobi membunyikan klakson saat mau menyalip meski melihat kendaraan di depannya juga mau menyalip. Bahkan, ia tak mau disalahkan saat tak memberi tanda saat mau belok. Pemotor juga memiliki tensi emosi tinggi saat berkendara. Dengan sigap marah-marah jika ada pengendara lain yang dianggapnya tak sesuai keinginan.

  1. Paling benar

Dengan segala kelakuan dan keputusan-keputusan yang didasarkan semata atas persepsi individu dan cenderung mengesampingkan sekitar, pemotor adalah makhluk paling benar di antara masyarakat pengguna jalan. Mungkin pemotor sejatinya penganut ulung totalitas yang egoistik: yang liyan adalah musuh, dan akulah kebenaran itu.

Penyangkalan: tulisan ini tentu subjektif dan tak bermaksud menyudutkan pemotor (termasuk emak-emak) apalagi mengultuskan kasta pengendara mobil. Karena itu, tetaplah memiliki the power of emak-emak.

Kehilangan

widodo prasetyo

Widodo Prasetyo

 

TAK ada yang berharap kehilangan orang terdekat. Tak ada duka terdalam kecuali kehilangan. Tapi mungkin Tuhan menciptakan kehilangan yang kebetulan dan serbamendadak itu agar kita terus mengingatnya.

Sosok Widodo Prasetyo yang saya kenal adalah pribadi tangguh. Yang tergambar dari awal perkenalan dengan lelaki kelahiran Karanganyar ini adalah kendel. Dalam posisinya sebagai Wakil Kepala Biro Suara Merdeka di Semarang, dia kerap nataki banyak hal terkait pemberitaan.

Saya tak paham benar data tentang dirinya. Di awal keterlibatan saya secara intens di Suara Merdeka, dia termasuk orang pertama yang membimbing dan mengarahkan. Dia meminta saya untuk kritis, mengikuti masalah-masalah perkotaan, dan memberitakan sesuai fakta. Saya mengiyakan.

Widodo adalah kakak bagi saya. Ketika menemui kendala dalam peliputan di lapangan, dia langsung mengarahkan. Bahkan dia juga acap berkata siap untuk ndhadhani kalau ada siapa pun yang mencari masalah terhadap hasil pemberitaan—meskipun belum benar-benar terjadi. “Sejauh itu fakta, kita beritakan,” dia kerap berujar demikian, pada saya.

Dia adalah pria ramah. Setiap sore menjelang tenggat pengiriman berita, Widodo kerap menemani beberapa kawan-kawan. Dia sering tiba-tiba duduk di samping seorang kawan, bukan untuk melihat apa yang diketik, tapi mengajak ngobrol ngalor-ngidul. Apa yang dia katakan justru kerap tak menyangkut kejadian-kejadian dalam hari itu. Dia memilih memilih obrolan ringan.

Dan, ketika dia (di)pindah dari Wakil Kepala Biro Semarang ke Surakarta, saya sempat kaget. Tak cuma karena alasan kedekatan kami yang telah terbangun itu, tapi karena berpikir bahwa dia pernah bercerita sudah membeli rumah secara kredit di kawasan Tembalang. Beberapa saat setelah dia di Surakarta, dia menyilakan saya untuk menempati rumah itu. “Dipanggoni wae, timbang rusak. Mengko takomongke nyonyaku nek gelem. (Ditempati saja, daripada rusak. Nanti saya sampaikan istri kalau mau),” dia berkirim pesan BBM.

Entah kenapa kami sering berkirim pesan dan bercanda, entah secara langsung atau lewat layanan pesan itu, termasuk ketika dia sudah di Surakarta.

Awal November, dia meminta saya ke Surakarta untuk liputan Kongres Kebudayaan Jawa. Setelah sedikit “berdebat” aku menyerah. Aku bertanya apakah di sana belum cukup kawan untuk meliput acara itu? Dia tak menjawab. Sesampai di sana, kami juga selalu ngobrol berlama-lama di Biro Solo Metro. Di depan kantor itu, terdapat pedagang angkringan yang menu-menunya sungguh nikmat.

Lagi-lagi saya harus berkata dia orang baik. Ketika itu dia memintaku untuk menginap di sebuah penginapan di pusat kota. Padahal aku bilang bisa tidur di mana pun tempat, mungkin di Biro. Bahkan ketika dia bilang memiliki sebuah kamar kos di dekat Biro, saya meminta untuk menginap di tempat itu saja. Tapi dia bilang, “Aja, panggone panas. Mesakke. (Jangan, tempatnya panas. Kasihan)”.

Pada malam pertama liputan (10/11/2014), saya makan sega liwet bersama dia di depan gerbang kampus ISI Surakarta. Kami khidmat karena itu adalah pertemuan pertama semenjak dia pindah ke kota itu. Pada malam itu, dia sekaligus akan pulang ke Karanganyar. Hampir setiap hari dia pergi-pulang dengan waktu tempuh masing-masing 1,5 jam.

Kutunaikan tugasku di kota ramah itu dua hari berikutnya. Pada malam terakhir liputan, saya berpamitan lewat pesan BBM karena acara selesai terlampau larut, begitu juga penulisan berita. Tentu dia sudah pulang dari Biro. Saya pun menginap semalam lagi di sebuah penginapan di Jl Slamet Riyadi. Tugas selesai. Pagi harinya saya meluncur ke Magelang untuk tugas meliput Borobudur Writers & Cultural Festival.

Senin (8/12/2014), dia meminta nomor sinden yang bakal diberikan anugerah pada sebuah acara di gubernuran pada Kamis (11/12) malam. Di antara penerima itu adalah sinden dari Surakarta dan Boyolali. Setelah kumintakan pada panitia dan kukirim ke dia, seperti biasa, kami melanjutkan obrolan via teks itu dengan saling bertanya kabar dan bercanda.

Dia meminta diikutkan jika ada proyek crita cekak (cerita pendek dalam bahasa Jawa) atau tulisan berbahasa Jawa. Satu hal yang aneh menurut saya, meskipun dia sering bercerita suka membaca majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat.

Saya juga terlanjur tak percaya dia memiliki penyakit berat. Tapi kabar pagi hari itu menjadikan saya mengamini kembali bahwa kuasa Tuhan di atas segalanya. Pagi hari setelah sehari kami saling bertanya kabar dan bercanda itu, muncul kabar dia meninggal. “Widodo Prasetyo meninggal Selasa 9 Des pada 01.30 di Tawangmangu.” Tulisan itu masuk ke grup BBM Biro Kota.

Saya tak percaya dia sudah tiada. Widodo Prasetyo terus ada. Pada setiap berita-berita saya, spirit itu bakal selalu ada.

Matur nuwun, Mas Wid. Jembar papan Jenengan wonten mrika. Sugeng pinanggih malih. Adhimu lanang, Dhoni Zustiyantoro.

Mendekatkan Sastra Jawa kepada Kaum Muda

widyo leksono babahe semarang

Widyo “Babahe” Leksono, Penerima Anugerah Prasidatama 2014 kategori Pegiat Sastra Jawa dari Balai Bahasa Jateng. Foto: Dhoni Zustiyantoro

MENERIMA anugerah Prasidatama 2014 kategori Pegiat Sastra Jawa dari Balai Bahasa Jawa Tengah, Senin (3/11) lalu, tidak serta merta membuat Widyo Leksono berbesar hati. Lelaki yang hampir seluruh rambutnya telah memutih itu justru menganggap anugerah tersebut adalah tantangan untuk lebih mendekatkan sastra Jawa kepada generasi muda.

”Saya justru bingung. Penghargaan kemarin itu untuk saya atau karya-karya saya?” ujar Babahe, sapaan akrab Widyo, ketika ditemui Suara Merdeka di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Jalan Sriwijaya, kemarin.

Pria kelahiran Jepara, 19 Desember 1960, itu mengatakan orang-orang yang berkecimpung di dunia sastra Jawa harus lebih mengambil peran. Karena, menurut Babahe, para orang tua kerap menyalahkan anak-anak yang lagi mengenal berbagai ragam karya sastra itu.

”Tidak sedikit orang-orang mumpuni justru hanya maido saat melihat anak muda belum benar dalam berbahasa,” tuturnya. Babahe memilih jalan perlawanan terhadap keadaan semacam itu dengan cara mendongeng ke berbagai tempat. Dia juga sering membuat acara apresiasi supaya mereka mau dan berani untuk membaca geguritan, nembang macapat, dan berbicara dengan bahasa Jawa.

Paham Lapangan

Penulis buku kumpulan geguritan Blakotang (2012) itu juga berencana untuk berkeliling ke berbagai sekolah dasar lewat program ”Sabtu Bercerita”. Acara yang akan dia biayai sendiri tersebut bertujuan untuk mengakrabkan siswa dengan cerita berbahasa Jawa.

”Prosesnya lama kalau menunggu peran pemerintah dan pihak terkait. Mereka seharusnya jemput bola dan paham terhadap kondisi di lapangan,” katanya. Selain itu, dia mendesak pemerintah untuk lebih memberi perhatian. ”Perhatian tak harus berupa penghargaan, tapi kalau mau nilikiacara-acara sastra, kami wis seneng,” ujarnya.

Tidak hanya dengan membuat kegiatan, Babahe juga bergiat lewat tulisan. Selain buku, sejumlah naskah lakon telah ia buat dan dipentaskan berbagai kelompok teater, di antaranya Wedi Disunati (2010), Maknane Kekancan (2010), dan Genaon Kentrung (2007).

Dengan cara itu, Babahe berharap semakin banyak kawula muda yang berminat terhadap sastra Jawa. ”Mereka tak sayang karena tak kenal,” ujarnya. Dia juga berharap pemerintah lebih peduli dengan cara melibatkan para pelaku ketika membuat program kerja.

”Jangan hanya membuat acara-acara formal yang dihadiri oleh pejabat dan orang penting tapi tak ada gunanya,” ujar Babahe. (Dhoni Zustiyantoro)

*Harian Suara Merdeka, halaman “Semarang Metro”, 6 November 2014

Sukinah: Kami sedang Melawan Kebatilan

tolak-pabrik-semen-rembang-1

Truk melintas di kawasan pembangunan pabrik semen PT Semen Indonesia di Rembang, Minggu (20/7). Foto: Dhoni Zustiyantoro

TRUK yang lewat setiap 10 menit itu tiada hentinya menerbangkan debu di sekitar tenda yang mulai nampak lusuh. Tenda itu terletak persis di pinggir jalan pada ruas jalan terakhir menuju pembangunan pabrik semen oleh PT Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah.

Ada tiga tenda yang didirikan warga. Di dalamnya, Minggu (20/7) siang, terdapat puluhan warga yang semuanya perempuan. Mereka mengisi waktu dengan berbincang, petan, tiduran, atau sesekali memainkan lesung. Panasnya cuaca di dalam tenda tak menyurutkan niat mereka untuk bertahan melakukan aksi perlawanan terhadap pembangunan pabrik semen itu.

Panas bercampur keringat yang saya dan Widodo rasakan setelah menempuh perjalanan dari Semarang selama 4 jam terbasuh oleh hangatnya sambutan mereka. Sukinah, salah satu warga yang terlibat dalam aksi itu, dengan senyum mengembang pun langsung berkata, “Ayo, tanya apa, Mas? Kita ngobrol saja”. Di tengah perbincangan kami selama 2,5 jam, turut bergabung belasan pemuda asli Lasem, Rembang, yang hadir dengan niatan menyerahkan beberapa kardus berisi makanan instan.

Sudah sebulan lebih mereka bertahan dalam kondisi demikian. Menurut Sukinah, jumlah warga yang berada di tenda bisa meningkat jika sore menjelang. “Sekarang lagi musim panen, Mas. Banyak yang pulang ngopeni sawah. Tapi setiap sore mereka kembali ke sini. Kalau jumlahnya, ya seratus lebih ibu-ibu yang tetap bertahan,” ujarnya.

Mereka memilih melakukan aksi dan melarang para suami terlibat karena khawatir terjadi bentrok dan tindak kekerasan. Sebelum mereka berangkat untuk melakukan aksi itu, mereka masing-masing telah berpamitan dan menganggap ini sebagai “perang”. “Lilakna aku ya, Pak. Aku arep mangkat perang (Relakan aku ya, Pak. Aku akan berangkat perang),” kata Sukinah mengulangi apa yang pernah ia katakan kepada suaminya. Akibatnya, para suami yang telah berjanji untuk tak terlibat pun tak berbuat apa-apa ketika melihat istrinya mendapat perlawanan dari aparat ketika peletakan batu pertama pabrik itu, 16 Juni 2014.

tolak-pabrik-semen-rembang-3

Salah satu tenda tempat warga melakukan aksi penolakan pendirian pabrik semen, Minggu (20/7). Foto: Dhoni Zustiyantoro

Namun ada juga warga yang mulanya menolak kemudian berpaling dan memilih mendukung pendirian pabrik. Menurut pengakuan Sukinah, mereka justru orang-orang yang pada mulanya menjadi penggerak aksi itu. Setelah didekati oleh pihak pabrik dan diberi pekerjaan, mereka tak lagi melakukan aksi dan mengajak warga menghentikan aksinya.

Sukinah bahkan mengaku jika dia dan warga yang bertahan di tenda kerap mendapat intimidasi dari pihak itu. “Katanya kami ingin diculik,” katanya. “Tapi kami tidak takut. Kami percaya sedang melawan kebatilan.”

Menurutnya, jumlah orang yang berpaling sebenarnya hanya lima orang. Pekerjaan yang mereka dapat pun pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan khusus, seperti penjaga keamanan atau penjaga alat berat. “Tidak mungkin semua petani nanti akan kerja di sana. Kerja di sana butuh keahlian teknis, sedang kebanyakan petani di sini tidak sekolah,” katanya. “Mereka yang mendukung bukan petani.”

Selain itu, para pendukung juga selalu mendapat uang dari pihak pabrik untuk aksi yang mereka lakukan. Mulanya mereka juga sering bertanya kepada para wanita yang tetap melakukan aksi. “Entuk dhuwit pira? (Dapat uang berapa?),” seperti ditirukan Sukinah. Ia pun menjawab, “Dhuwitku bakal luwih akeh, suk yen wis ‘neng kana’ (Uangku akan lebih banyak, kelak jika sudah ‘di sana’)”.

Menurutnya, apa yang didapat sekarang jika menyetujui pembangunan pabrik tidak akan sebanding dengan akibat yang akan ditanggung oleh anak-cucu. “Apa yang terjadi 50 tahun lagi kalau pabrik itu berdiri, Mas? Dari tempat penambangan, air di sawah kami mengalir. Kalau tidak bertani, kami mau kerja apa?” kata Sukinah.

tolak-pabrik-semen-rembang-4

Sejumlah warga yang menolak pendirian pabrik semen mengisi waktu dengan bermain lesung, Minggu (20/7). Foto: Dhoni Zustiyantoro

Beruntung, mereka yang menolak juga melakukan upaya penyadaran terhadap warga yang tanahnya belum dibeli oleh PT Semen Indonesia. Tanah yang akan ditambang belum semuanya dibeli dari warga. Menurut Sukinah, semakin banyak warga yang sadar akan dampak yang akan timbul. Mereka memilih tidak akan menjual tanahnya.

Sebelum menemui Sukinah dan puluhan warga, saya dan Widodo berencana masuk ke area pembuatan pabrik yang terletak beberapa puluh meter dari tenda. Niat itu kami sampaikan kepada empat orang yang berjaga di pintu masuk. Mereka kompak berkata kami tidak boleh memasuki area. “Ada kegiatan. Selain pekerja dilarang masuk,” kata salah seorang. Dari kejauhan, nampak beberapa backhoe dan ekskavator terus mengayunkan lengan ayunnya, mengeduk dan mendorong bukit yang makin nampak rata.

Ketika saya bertanya kepada Sukinah tentang aksi apa yang akan dilakukan jika pabrik benar-benar berdiri, ia dengan tenang menjawab, “mungkin akan terjadi pertumpahan darah”.

Dhoni Zustiyantoro

Nikmat Puasa di Negeri Sendiri

BETAPA nikmatnya dapat menunaikan ibadah puasa di negeri sendiri. Terlebih jika dekat dengan sanak-keluarga dan teman yang setiap hari dapat menambah khusyuk puasa. Selain menjadi lebih menyenangkan, puasa juga terasa terasa ringan. Segala aktivitas dapat tetap dijalankan dengan semestinya.

Dua tahun lalu, pada Juli 2012, saya sempat merasakan awal puasa di Prancis ketika saya bersama rombongan mementaskan kesenian di sana. Ternyata, betapa susahnya menunaikan ibadah puasa di negeri asing. Terlebih di negara yang tidak memperbolehkan simbol-simbol keagamaan.

Di sana, suhu pada siang hari—yang ketika itu musim panas—dapat mencapai 5 derajat. Sungguh siksaan bagi orang yang terbiasa hidup di daerah tropis. Hari baru akan terasa gelap mulai pukul 22.00. Pada jam itu, matahari baru mulai lengser dan suhu mulai bertambah dingin. Waktu malam lebih pendek dibanding siang hari.

Karena negara tidak memperbolehkan segala macam simbol agama—seperti halnya negara Eropa lainnya, di Prancis tak akan pernah mendengar azan maupun peringatan imsya. Hal itu ternyata menyulitkan bagi saya dan teman-teman yang bahkan kerap terbangun karena kerasnya suara takmir masjid yang telah mengumandangkan tartil pada waktu sahur.

Tentang simbol agama, jangankan suara yang berkumandang semacam azan, simbol rumah peribadatan pun tak diperbolehkan. Selain itu, mereka yang menampakkan simbol agama seperti jilbab dan kalung salib bisa dikucilkan dari pergaulan.

Ketika telah memasuki awal bulan Ramadan di Prancis, sebenarnya saya sudah selesai mempergelarkan kesenian di sana. Tempat pergelaran terletak di Brest, kota paling ujung barat negara Prancis, berjarak sekitar 7 jam dari Paris. Menaiki bus sewaan yang dapat melintasi antar-negara sekaligus, kami meninggalkan Brest menuju Paris. Pada perjalanan itulah hari terakhir sebelum memasuki bulan Ramadan, sesuai dengan yang dijadwalkan pemerintah Prancis.

Di Paris, saya bersama rombongan menuju beberapa tempat terkenal di kota itu, seperti Eiffel, Gerbang Kemenangan, dan Gereja Rotterdam. Saya tak pernah menyangka sebelumnya bisa mengunjungi tempat-tempat fantastis di negara ini!

Malam harinya, kami menginap di rumah Wakil Duta Besar Indonesia untuk Prancis. Setelah mengembalikan sejumlah barang ke kantor Kedutaan Besar, kami makan malam dan sahur di rumah tempat menginap. Di Kedubes, saya melihat jadwal imsya, magrib, dan ceramah tertempel di bagian depan.

***

KESULITAN menemukan nasi adalah halangan terbesar ketika harus makan. Di sana hanya akan mendapati roti gandum seukuran lengan orang dewasa, yogurt, dan orange jus sebagai makanan utama sarapan. Meski ada pula daging ayam, namun cara penyajiannya membuat saya tak nafsu makan. Daging itu seperti belum matang ditambah saus yang bagi saya malah membikin tak ingin makan. Sungguh menyiksa dan tentu hal berat, apalagi harus berpuasa.

Kami baru bisa makan nasi beberapa hari setelah di Brest. Ada warung makan khas Indonesia di stan Kampung Indonesia—tempat kami mempergelarkan kesenian. Menu yang disajikan adalah sate ayam dan nasi goreng. Orang-orang yang pernah berkunjung ke Indonesia melepas rindu mereka pada nasi.

Ya, warung itu selalu ramai oleh orang Eropa yang ingin makan nasi. Termasuk beberapa orang mendekati Pak Widodo, pimpinan rombongan kami yang kerap merokok usai pentas. Dari bau asap rokok yang bisa tercium beberapa meter, mereka tau bahwa rokok itu dari Indonesia. Mereka pun memintanya sambil berusaha mengakrabi dan berbincang. Mereka sungguh orang-orang ramah.

Pada awal Ramadan itu—seperti halnya hari-hari yang telah lalu—udara masih selalu dingin. Hal itu sebenarnya membuat puasa tak begitu berat. Namun, kami harus mengemasi barang menuju bandara di Paris. Hari itu kami dijadwalkan meninggalkan Prancis untuk menuju Indonesia. Ya, telah sepuluh hari kami di sana untuk melakukan pentas kesenian.

Di pesawat dalam penerbangan dari Paris ke Dubai—transit pertama menuju Jakarta—saya merenung. Betapa nikmatnya dapat melakukan puasa di negeri sendiri. Dekat dengan siapa pun yang kita cintai. Semua tersedia. Ingin apa pun ada. Betapapun senang dan bangganya hidup di negeri orang, agaknya kampung halaman tak terganti.

Dan, hal ini mengingatkan saya agar selalu bersyukur.

Tentang Kuasa Materi dan Moralitas Akademik Itu…

Surahmat, yang juga kawanku. Kita berdua mungkin ditakdirkan untuk selalu gelisah. Dari niatan untuk bertemu dan ngobrol santai saja, ujung-ujungnya ke sana juga. Pada obrolan yang selalu mengerucut pada hal-hal yang sebenarnya tak melulu telah, sedang, atau bakal kita alami, tapi selalu kita anggap sebagai hal penting.

Tentang materi, kau kemarin malam juga bilang belum bisa lepas dari jerat pragmatis kuasa materi. Kau, atau juga aku dan banyak kawan seperjuangan lain, nyatanya masih butuh materi sebagai hal mendasar yang harus dipenuhi. Dan, kita belum mampu untuk memenuhi hal mendasar itu. Kau beristri tapi belum punya rumah seisinya, dan mobil. Aku belum punya istri, pun masih ngekos. Hal itu, kuanggap sebagai hal yang mendasari mengapa kau masih membawa perbincangan ini kepada apa yang kau sebut kuasa materi.

Jika aku balik bertanya, apakah ada yang tak takluk pada kapitalisme? Lihatlah laptop yang kugunakan untuk mengetik ini, juga Facebook yang sedang kau buka itu, semuanya hasil dari para pemodal besar, bukan? Belum lagi telepon genggam, baju, motor, dan banyak hal lain yang tanpa itu semua, kita mungkin tak bisa mempertahankan hidup normal di era kapitalis ini.

Kau juga tahu, kemarin aku tak begitu tertarik –atau tak paham– dengan perbincangan Martin yang mengupas asal-usul kekayaan. Namun, cukupkah kita mengutuk gerai ritel Indomart dan Alfamart yang kian menjamuri sekitar kampus, misalnya, yang menggusur pasar tradisional,  yang secara tidak langsung menggiring persepsi massa bahwa, misalnya, pasar krempyeng itu tak steril dan bersih karena konsep market yang ideal tiada lain adalah seperti ritel itu.

Dua puluh satu tahun lalu ketika aku hampir saban hari bermain umpet-umpetan ataugasingan bersama dua puluhan kawan di desa, aku tak ragu masuk rumah tetangga untuk minum air kendi. Dengan keringat yang bercucuran, aku tak segan untuk langsung masuk rumah tetanggaku dan menenggak air sepuasnya, sampai hilang dahaga agar bisa kembali bermain.

Namun, beberapa tahun belakangan ketika pulang ke desa, terutama pada Lebaran, kendi-kendi itu telah tergantikan oleh minuman mineral seukuran gelas 200 mililiter. Ya, warga desa tak ingin lagi repot-repot untuk sekadar memasak air dan menghidangkannya di atas meja, apalagi menyeduhkan teh atau kopi untuk para tamunya.

Juga kudapati anak-anak desaku sekarang lebih memilih untuk bermain perangkat elektronik macam telepon genggam Android yang sudah bisa diinstal game, mengakses Facebook, atau bermain Sony Play Station. Ya, orangtua lebih menghendaki mereka tak keluar rumah dan, bagi yang mampu, mereka menyediakan perangkat “pengekang” itu agar anak tak keluar rumah. Dengan tetap di rumah, orangtua leluasa untuk mengawasi anaknya tanpa harus khawatir salah pergaulan.

Syahdan, tak ada lagi anak-anak yang dengan riang bermain di halaman yang lapang. Banyak halaman rumah yang ketika itu berupa tanah sehingga bisa dipakai untuk bermain gasing, sekarang telah dicor. Anak-anak tak lagi bersama-sama bermain, tak ada lagi yang masuk-keluar rumah tetangganya untuk sekadar meminta minum.

Warga desa juga semakin tak percaya dengan air di sumur yang mereka gali sendiri. Air itu diyakini tidak steril dan berasa aneh. Ya, setelah beberapa lama terbiasa meminum air kemasan, mulai dari yang terbungkus plastik seukuran gelas yang telah terhidang di meja untuk njagani jika ada tamu, hingga air di galon yang tersaji di dapur. Mereka juga mengamini iklan yang setiap hari dilihat di televisi, bahwa air minum dalam kemasan itu “air minum untuk kesehatan keluarga”. Melalui nilai yang terus-menerus didistribusikan melalui iklan itu, kapitalisme makin merajai dan tak cuma sekadar hegemoni, tapi sudah menjadi laku hidup.

Kau tahu, betapa para pemodal besar telah menguasai tiap jengkal napas dan denyut nadi kita sekarang ini. Maka, kita sebagai kaum yang selalu mencoba kritis terhadap banyak hal kemudian melawan dengan berbagai cara. Kang Putu, misalnya, telah menggunakan perlawanan juga sebagai pilihan dan laku hidup sehari-hari. Ia tak ngunjuk air kemasan macam Aqua yang kini dimiliki oleh perusahaan asal Prancis, Danone.

Tapi, kemarin kau banyak dicecar oleh kawan-kawanmu setelah menulis “Sarjana Altruis” yang kau unggah pakai akunku di laman universitas itu. Kau membakar-bakar mereka, para sarjana itu, supaya bisa membikin nilai sendiri dan tak cuma mengekor. Termasuk memberi anjuran secara tak langsung untuk tidak memakai produk-produk kapitalistik. Kau menyebut manusia modern tak bisa lepas dari Apple dan Samsung, dua raksasa perusahaan yang telah merajai industri telepon seluler. Tapi, kau pakai Samsung dan menggelar tikar plastik, aku punya Apple, Martin minum air mineral, Kang Putu ngunjuk Fresh Tea…

***

Mat, di perguruan tinggi tempat kita bercokol sekarang ini, kita sering pula tak terima terhadap keadaan. Tapi, alih-alih bicara iklim akademik kampus, kita malah acap bicara politik yang tak seharusnya hinggap di sini. Dan, kita asyik membahas itu. Padahal, kau pernah SMS: “ngapain sih kita repot-repot mikirin itu?”

Di luar keadaan yang harus kita syukuri sebagai orang yang beruntung secara akademik, kita acap gelisah: kontribusi macam apa yang bisa kita lakukan untuk memajukan dunia keilmuan ini?

Kemarin malam aku memaparkan realitas yang kau amini, juga Mas Burhan: mahasiswa hanya mengandalkan pertemuan di kelas untuk menuntut ilmu. Padahal pengetahuan justru kian lebat didapat di luar kelas, pada pertemuan-pertemuan  komunitas, di sarasehan. Terlebih lagi, kasihan jika mereka diajar oleh para pengajar yang menganggap pendapat, referensi, dan semua yang dia hadirkan di kelas adalah yang paling benar. Alamak!

Sampai di sini, betapa kita, yang katamu masih muda ini, sangat butuh untuk selalu memantik-mantik iklim tak mudah terima terhadap realitas. Memang, mendobrak kemapanan yang sistemik macam ini sungguh tak mudah. Namun, kita bisa mengawalinya dengan memberi keteladanan untuk memberi sikap egalitarian. Mengajak mahasiswa untuk duduk dalam kursi yang sejajar, kalaupun tak ada kursi, maka lesehan, untuk terbuka berdiskusi, saling mengasupi.

Bukankah kita harus berbangga diri jika ada mahasiswa yang lebih tangguh dalam satu bidang saja? Itulah taruna ngungkuli bapa. Sekira 20-30 tahun ke depan, kita hendak bangga jika ada penulis, sastrawan, jurnalis, pendidik, presiden, atau minimal orang yang berguna bagi liyan yang ternyata orang yang pernah kita ajak duduk bersama dan saling hujat itu. Apa yang kita sebut sebagai mimbar akademik adalah keniscayaan yang harus terus-menerus diupayakan.

Aku yakin perkara macam ini selalu terjadi dari zaman ke zaman. Masa di mana Sucipto Hadi Purnomo, Saroni Asikin, Sendang Mulyana, Kang Putu, Achiar M Permana, Mukh Doyin, menempa diri misalnya, tak akan pernah kita dapati hari ini. Aku tak yakin mereka orang-orang yang tak gelisah, bahkan hingga detik ini. Dan, masa itu menghasilkan orang-orang seperti mereka. Kita berdua ini, yang tak patut untuk mematut-matut diri ini, mungkin adalah hasil dari generasi tempaan yang sudah makin banyak ngincipi kapitalisme yang justru makin meraja—karena kau selalu menyoal kapitalis.

Maka, mungkinkah kita mampu mencipta generasi yang, puluhan tahun ke depan dapat menatap dengan gagah berbagai tantangan hidup, yang mrantasi gawe, mumpuni dalam bidangnya, yang lebih menyalakan lilin dalam kegelapan timbang mengutuknya tiada henti?

Inikah juga yang kau sebut “anak muda yang memilih jalan hidup”? Cuma, satu hal yang selalu kuharap ada padaku dan padamu juga, semoga idealisme ini selalu berkobar, meski mungkin nanti kita menjadi PNS. Kau ingat kelakar malam itu?

Eh, iya, satu lagi, Mas Burhan wis berencana jadi penulis. Sepertinya kita harus cari profesi lain.

Kawanmu, yang juga teman ngopi,

Dhoni Zustiyantoro

————————————————————-