Istirahatlah Api-api

: untuk Darmanto Jatman

Janganlah api kau kobarkan
sementara kau menjauhinya
menatap teduh
lalu menganggapnya bergejolak.

Pada serpihan kayu-kayu
yang menghitam arang dan yang kalah
kau ingatkan kami pada jati diri
pada ilmu jiwa Jawa
dan hal-hal yang tak perlu disesali.

Pada Bilung yang Kesasar
satire dan gurauan saling mengumpat
bahwa api juga bisa jadi teman.

“Api tak padam
api adalah psikologi
dan rekadaya. Api adalah diri.”

“Api,” katamu, “tak pernah mati…”
api adalah mereka yang memilih
jadi kelas menengah
atau yang memilih menolak takdir
dan enteng bilang, “Sori, Gusti!”

Kupikir kau tak lelah
kupikir api hanya sesaat
beristirahat
dalam gelap dan keabadian.

“Sori, Gusti. Kan kubawa api ke hadapan Yang Mahaapi.”

~ Dhoni Zustiyantoro

Tentang Darmanto Jatman:

Advertisements

Jangan Lagi Percaya

jangan lagi percaya kepada para wakil
yang dengan manis tutur mengumbar
janji dan angan kemakmuran

jangan lagi percaya kepada pemimpin
yang kepadamu berteriak “alam adalah kekayaan”
lihatlah ia sedang menghitung uang
di bawah bantal dan di dalam rekening
dari cukong dan sekumpulan makhluk asing

jangan lagi percaya kepada yang berkata “tuanku ya rakyat”
karena acara-acara akan membuatnya tak sempat
sibuk dengan kawalan sekumpulan jagoan birokrat
hingga mereka seukuran celeng yang terus mengerat

jangan lagi percaya kepada intelektual
yang hanya mampu menjaga jarak, mengamati, dan menyimpulkan
yang tak mampu menggeser kerikil di jalanan
yang diam dan tak mampu terlibat lebih dalam

sekaran, 1/8/2014

Lusa Lebaran

Beranda yang dingin.

Kunanti malam hingga menggigil
yang mengampuniku
hanya sekawanan nyamuk
yang tak mau lagi
menghisap darah dari
kurus tubuh ini.

Jangan kau cari ke mana kebahagiaan
kalau kita tak mampu lagi duduk bersama
jika kau telah lupa ke mana nikmatnya
kehangatan pagi
sambil mencecap kopi.

Tawa-tawa sirna dengan mudahnya
karena kita pula yang membikin
rinai hujan tak lagi
tertawa merdu.

Mengapa pula ia lebih suka memilih haru
sepanjang waktu.

Hujan menyisa gerimis,
gemericik, dan petasan
namun abadi.

Sekaran, 25 Juli 2014

Pukul Tiga Pagi yang Dingin

anak berumur sepuluh tahunan itu
terbangun karena kedinginan
tak ada selimut tebal apalagi kasih sayang
apalagi derai pujian
dari seorang ibu

pukul tiga pagi yang dingin,
adalah waktu
di mana ia selalu terbangun
oleh nyaringnya speaker merek toa
oleh takmir yang selalu menghardik
“hoe sahur!”

di beranda itu
ia berumah
hanya di sudut itu
ia diterima
di tempat itu
ia beberapa jam
berbaring

tak ada selimut tebal apalagi kasih sayang
apalagi derai pujian
dari seorang ibu

namun ia nyaman

jauh dari cacian
jauh dari hujatan
keluarga yang tak ingin ia dengarkan

pukul tiga pagi yang dingin,
ia mulai menyusur
gang-gang kecil nan sempit

ia ingin menyaingi
tikus-tikus kurus
yang mencari makan
pada bungkus-bungkus
yang telah terbuang

sekaran, 13 juli 2014

Dhoni Zustiyantoro

Pada Malam

hujan belum ingin berhenti, di sepanjang perjalanan
yang memintaku tuk selalu berlari. memastikan diri
tuk selalu mengikuti deras―sungai-sungai yang mencari laut
padahal belum jua pagi.
padahal belum ada kopi pahit di samping ambin ini.

mengapa pula tadi kutangisi tawa yang terlanjur abadi
hingga pekat malam kekal merengkuh,
mengisi nestapa dengan bulir padi yang tak kunjung menguning.

mengapa pula selalu ada ketakutan
dan ketidakpastian
pada malam.

2014

Tiga Puisi di Pengujung Mei

SUARA

Ia memaksa masuk
dalam malam
yang telah khusyuk.

Ia meniru-niru siang
namun selalu gagal.

Ia tak tahu
malam lebih berkuasa
berani untuk tak menghamba
kepada yang bukan tanda.

Kepada yang selalu tak dapat hinggap
di mana pun dahan
adalah pengasingan.

Karena tak diharap
karena bukan
suara yang harus dianggap.

DIAM

Maka tak ada yang lebih khidmat
dari kekosongan.

Ketika diam tak menjawab tanya
dan tanya tak lagi harus dijawab
pada suatu malam yang tak dikehendaki.

Seperti angin yang berhenti
membisiki jiwa yang masih tertatih
dan merintih.

Berbincang kepada kekosongan,
kepada diam,
untuk menemu harap.

Maka malam adalah terbaik penanya
pun kepadanya, jawab bermuara.

KETAHUILAH

Lama tak kudengar suaramu
lantun gamelan nan rawit
yang engkau menari di depannya
dengan begitu rumit.

Dan aku terkesima.

Atau kau memang tak ingin
kukagumi secara sembrana
buta
dan tak suci.

Dengan penuh curiga
kau menerka-nerka tanda

Ketahuilah,
kan kulantunkan Lambangsari
kan kutembangkan Kinanthi
untukmu yang piniji.

Sekaran, 31 Mei 2014

Diam

Maka tak ada yang lebih khidmat
dari kekosongan.

Ketika diam tak menjawab tanya
dan tanya tak lagi harus dijawab
pada suatu malam yang tak dikehendaki.

Seperti angin yang berhenti
membisiki jiwa yang masih tertatih
dan merintih.

Berbincang kepada kekosongan,
kepada diam,
untuk menemu harap.

Maka malam adalah terbaik penanya
pun kepadanya, jawab bermuara.

Sekaran, 31 Mei 2014