Dalang (Majalah Tempo, 7-13 Mei 2018)

KITA mengenal dalang sebagai orang yang punya kemampuan retorika di atas rata-rata sekaligus piawai merangkai cerita. Masyarakat Jawa tradisional dengan enteng berujar “dhalang ora kurang lakon” (“dalang tidak kurang cerita”) bagi mereka yang pandai berkelit dari kegaduhan yang sebenarnya diciptakan “dalang” sendiri. Menariknya, selain mengartikan dalang sebagai orang yang mahir memainkan dan menceritakan wayang, kamus […]

Buka Lagi Akses ke Keraton

  KABAR miris santer terdengar dari Keraton Kasunanan Surakarta. Tidak hanya persoalan konflik internal yang tak kunjung usai, namun juga karena ditutupnya museum dan sejumlah sarana. Sudah setahun lebih terhitung sejak April 2017 keraton menutup sejumlah fasilitas, seperti museum dan perpustakaan, yang berimbas pula pada kunjungan wisata dan aktivitas kebudayaan, lebih-lebih para peneliti yang bakal […]

Puisi yang Berimaji dan Esai yang Menjelaskan

Kepadatan bahasa puisi mengajak pembaca masuk ke wilayah multitafsir. Kaidah licentia poetica menengahkan puisi bisa memiliki bahasa tak lazim, mengalihkan dari apa yang maksud pengarang, dengan gejala semiotis yang berserak dan ingin ditafsirkan pembaca. Bahasa dalam puisi merupakan bahasa yang menangguhkan. Bagi puisi, imaji adalah kunci atau justru pembebas. Jadi licentia poetica merupakan hak yang […]

Istirahatlah Api-api

: untuk Darmanto Jatman Janganlah api kau kobarkan sementara kau menjauhinya menatap teduh lalu menganggapnya bergejolak. Pada serpihan kayu-kayu yang menghitam arang dan yang kalah kau ingatkan kami pada jati diri pada ilmu jiwa Jawa dan hal-hal yang tak perlu disesali. Pada Bilung yang Kesasar satire dan gurauan saling mengumpat bahwa api juga bisa jadi […]

Mendamba Organisasi atau Kritik Sastra?

Oleh Dhoni Zustiyantoro JIKA diibaratkan, mencari kritik sastra kita hari ini sama halnya dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Kritik sastra, baik secara kuantitas maupun kualitas, dipastikan menurun karena produktivitas para kritikus berkurang. Dalam sejarah sastra Indonesia, nyaris hanya HB Jassin yang tertabalkan sebagai penggawa kritik sastra. Kini, alih-alih mencari kritik sastra di media massa, […]

“Cina Tuwa” yang Tak Perlu dan Cerita yang Serba Dilalah

Oleh Dhoni Zustiyantoro KITA nampaknya masih akan menemukan rasisme, setidaknya pengotak-kotakan yang tak perlu terhadap kesukuan, dalam karya-karya sastra. Ketiadaan anasir kritis, termasuk tumpulnya cara bercerita, menjadi musabab kemunculan hal tak perlu itu. Mengemukanya rasisme yang tak perlu itu ada dalam crita cekak “Calon Wartawan” di majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat, Nomor 49 edisi 9 […]

“Janganlah Kaya Sebelum Waktunya”, Pandangan Konservatisme Kaum Borjuasi, dan Pentingnya Logika Postmodernisme

DI sela waktu bekerja, tiga orang pemuda pada suatu siang mendapat nasihat dalam sebuah pertemuan yang dihadiri orang-orang “berpengaruh pada zamannya”. Setiap hari, ketiga pemuda berumur 30-an tahun itu bekerja selama minimal delapan jam—sebagaimana diatur dalam UU Nomor 13/2003 Pasal 77 tentang Ketenagakerjaan. Apa yang dimaksud sebagai orang-orang yang berpengaruh pada zamannya adalah mereka yang, […]