“Honorer Tak Dapat THR”, Puasa Status, dan Pentingnya Memahami Konteks

Saya tergelitik membaca respons seseorang terhadap status yang saya unggah di Whatsapp. Saya mengunggah foto sebuah halaman surat kabar harian Suara Merdeka yang memuat berita utama di halaman 2, Sabtu (26/5/2018), dengan judul besar “Honorer Tak Dapat THR”. Dalam status di aplikasi perpesanan itu, saya membubuhkan komentar: “Selamat akhir pekan, pekerja honorer dan kontrak. Mari terus bekerja agar dapur tetap mengepul”.

Suara Merdeka 26 Mei 2018 Dhoni

Harian Suara Merdeka halaman 2, Sabtu (26 Mei 2018).

Di dalam berita, juga demikian halnya seperti kita berkali ulang mengetahui dari media massa dan jejaring sosial, disebutkan bahwa pemerintah bakal menggelontorkan tunjangan hari raya kepada aparatur sipil negara. Selain THR, kepada mereka juga bakal ditransfer gaji ke-13. Yang beda pada tahun ini, pensiunan juga mendapat THR. Bagi partai politik di luar pemerintah, wacana yang dibangun atas pemberian total dana sebesar Rp35,76 triliun jelang Idul Fitri itu adalah agenda populis yang sarat kepentingan politis.

Namun, saya tak sedang membahas hal tersebut.

Seorang teman—karena saya menyimpan nomor dia dan dia juga menyimpan saya sehingga kami bisa saling melihat status di WA—memberi komentar bahwa intinya, apa yang didapatkan merupakan hasil jerih payah selama ini. Ia juga menulis jika apa yang disedekahkan bakal menjadi tabungan kelak di akhirat.

Oke. Kita memang bebas berkomentar, yang jika komentar itu bermutu bisa disebut sebagai “pendapat” dan memungkinkan ruang bagi dialektika. Namun, lagi-lagi kita mesti mendudukkan konteks: realitas atau masalah apa yang sedang atau ingin kita komentari, setelah itu berikan komentar secara komprehensif, menyeluruh dengan cara pandang tajam dan menjadi cermin dari kematangan berpikir.

Bahwa permasalahan yang saya komentari adalah perihal honorer dan kontrak yang memang tak mendapat alokasi THR dari pemerintah. Kelas pekerja ini mesti dibela karena tak pernah menjadi perhatian utama. Alih-alih diperhatikan, honorer dan kontrak justru jadi yang terdepan dalam pelbagai lini pekerjaan. Dalam kasus tertentu, mereka bisa secara fleksibel bekerja tanpa terpatri oleh jam kerja. Ketidakmampuan “abdi negara”—sebutan bagi ASN masuk pada wilayah itu yang lantas memunculkan ungkapan satire “mental PNS” yang hanya melakukan kerja normatif tanpa tenggat dan target progresif dan terpatri pada jam kerja.

Hari Buruh yang diperingati setiap 1 Mei pun telah dimobilisasi dan dinormalisasi sedemikian rupa dengan diisi pelbagai kegiatan macam senam atau jalan sehat disisipi motivasi dan doa bersama agar tahun depan bisa lebih sejahtera dan ajakan untuk selalu bersyukur.

Lantas, bagaimana berpihak? Dalam konteks pemberian THR, tentu memberi perlakuan yang sama.

Ihwal tersebut, saya lantas ingat bagaimana sengkarut kebijakan soal mempekerjakan dosen asing yang bakal diberlakukan Kemenristek dan Dikti bagi perguruan tinggi di Indonesia. Kebijakan tersebut menuai kontroversi dalam sejumlah hal lantaran tak menyentuh akar permasalahan sesungguhnya. Salah satu yang mengemuka adalah perihal gaji dosen asing. Konon, mereka bakal mendapat gaji mencapai Rp60 juta sebulan untuk tugas mengajar dan meneliti.

Ada yang menilai jika minimnya publikasi ilmiah dosen Indonesia—sebagai salah satu hal yang terus dipacu setiap negara—disebabkan kecilnya gaji dosen di dalam negeri jika dibandingkan dengan luar negeri. Secara tidak langsung, kebijakan dosen asing, di sisi lain, adalah jalan pintas dan solusi murah untuk mengatasi permasahalan tersebut.

Seorang dosen kelahiran Indonesia yang kini mengajar di Australia pun menceritakan pengalamannya melalui media sosial. Di universitas tempat ia bekerja, dosen dengan leluasa mengajar dan membimbing mahasiswa tanpa dibebani pelbagai administrasi. Waktu di kampus nyaris dihabiskan untuk mencurahkan pikiran untuk aktivitas akademik: mengajar, membimbing, meneliti, me-review jurnal, juga sesekali mengisi seminar akademik.

Sedangkan di dalam negeri, dosen yang telah memiliki pangkat tertentu justru dibebani dengan jabatan struktural dan pekerjaan administrative, yang dengan demikian justru cenderung mengesampingkan pekerjaan utamanya. Gaji yang konon kecil juga menjadi alasan dosen nyambi atau mencari “pekerjaan sampingan” lain di luar melaksanakan tridarma perguruan tinggi. Kita tak perlu membahasnya di sini karena hal ini bukan rahasia lagi.

Padahal, dosen bukanlah orang yang—sebagaimana diartikulasikan Marx—bekerja karena “tak punya alat produksi”. Dosen adalah pekerja pengetahuan yang mesti mendedikasikan diri untuk masa depan peradaban. Untuk itu, pemerintah semestinya membuat siapa pun yang berada pada wilayah pekerjaan ini selesai dengan dirinya sendiri. Persoalan perut seharusnya tak jadi soal di tengah tanggung jawab besar di samping kompetensi yang mesti terus ditingkatkan.

Ya, jika kita ditanya “Apakah aturan Kemenristek dan Dikti memecahkan masalah?” Jawabnya adalah ya, karena aturan itu menjadi upaya mengatasi permasalahan di muara. Namun, di hulu, aturan tak sesuai dengan konteks masalah makro yang dialami oleh ribuan dosen negeri ini.

Tempo Dhoni

Kover Majalah Tempo, 28 Mei–3 Juni 2018.

Soal status di WA saya, ada satu lagi respons lucu. Sewaktu saya mengunggah kover majalah Tempo (28 Mei—3 Juni 2018) yang menurunkan investigasi ihwal radikalisme di kampus, ada respons yang mengajak agar kita juga “berpuasa status”. Bahkan, lebih jauh, unggahan saya itu bisa dianggap menguarkan aib. Itu karena saya mengajar di perguruan tinggi. Untuk hal ini, maukah Anda berkomentar?

Ya, semoga puasa menjadikan kita terus sehat lahir-batin dan waras dalam berpikir di tengah zaman yang kian edan-edanan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s