Buka Lagi Akses ke Keraton

 

KABAR miris santer terdengar dari Keraton Kasunanan Surakarta. Tidak hanya persoalan konflik internal yang tak kunjung usai, namun juga karena ditutupnya museum dan sejumlah sarana. Sudah setahun lebih terhitung sejak April 2017 keraton menutup sejumlah fasilitas, seperti museum dan perpustakaan, yang berimbas pula pada kunjungan wisata dan aktivitas kebudayaan, lebih-lebih para peneliti yang bakal melakukan studi.

Dampak dari ditutupnya tempat tersebut juga secara langsung mengancam berbagai macam barang berharga dan bernilai sejarah di dalam keraton. Kita tahu di dalam keraton terdapat aset yang sangat berharga dan masuk dalam kategori benda cagar budaya, seperti senjata, wayang, dan naskah-naskah kuno yang harus rutin dirawat. Konsekuensi dari ditutupnya keraton juga membawa dampak yang tak main-main. Berbagai barang tersebut terancam rusak karena sudah lebih dari setahun ini tak dirawat. Para abdi dalem yang bertugas merawat pun tak diperbolehkan masuk.

Terlepas dari konflik berkepanjangan yang dialami internal, keraton mesti tetap menghadirkan fungsi bagi publik. Ia mesti terus memiliki spirit mengedukasi publik dan menyediakan kebutuhan para peneliti. Tanpa masyarakat, keraton tak akan dikenal, lebih-lebih oleh generasi milenial yang sering disebut semakin berjarak dengan warisan masa lampau. Kepada generasi yang tak pernah bisa lepas dari media sosial dan kecanggihan teknologi itu, kita justru berharap keraton menumbuhkan kesadaran kepada mereka akan nilai-nilai luhur kebudayaan, cinta bangsa dan negara.

IMG_20180507_072902

Kita ingat dalam sejarahnya keraton selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan bangsa Indonesia. Salah satu koleksi adalah Makloemat Soenan Pakoe Boewono XII bertarikh 1 September 1945. Di dalamnya tertulis bahwa “Kami Pakoe Boewono XII Soesoehoenan Negeri Soerakarta Hadiningrat menjatakan Soerakarta Hadiningrat jang bersifat keradjaan adalah daerah istimewa dari Negara Repoeblik Indonesia dan berdiri di belakang Pemerintah Poesat Negara Repoeblik Indonesia”. Ada pula foto presiden pertama RI Ir Soekarno, Sri Sultan Hamengkubuwana IX, dan Paku Buwana XII. Di dekatnya, juga dipajang silsilah dinasti Mataram Islam.

Peran dan Fungsi

Mengacu pada 11th General Assembley International Council of Museum di Denmark (1974), museum memiliki sembilan fungsi. Di antaranya, selain sebagai pengumpulan dan pengamanan warisan budaya, dokumentasi dan penelitian ilmiah, juga cermin pertumbuhan peradaban umat manusia (Sutaarga, 1991). Demikian luhur peran dan fungsi strategis tempat tersebut membuat segenap pihak di dalamnya mesti menyadari hal ini secara objektif, terlepas dari beragam kepentingan dan polemik yang melanda. Keberpihakan terhadap publik, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan mesti dijunjung tinggi. Untuk itu, sekalipun di luar orbit keraton, kita mesti “turut campur” dan mendorong agar hak tersebut terpenuhi.

Kita juga tak menginginkan keraton menutup museum dan perpustakaan selamanya. Untuk hal ini, kita bisa bercermin dari Belanda yang meski telah ratusan tahun mengelola tempat untuk aktivitas yang sama, namun akhirnya terpaksa menutupnya karena terkendala. Itu seperti dilakukan Lembaga Kerajaan Belanda untuk Kajian Asia Tenggara dan Karibia (KITLV) yang berpusat di Leiden, Juni 2014. Seluruh koleksi perpustakaan lembaga berumur 163 tahun itu kemudian diserahkan ke Universiteitsbibliotheek Leiden yang terletak tak jauh dari tempat itu. Departemen penelitiannya akan terus eksis namun tidak lagi menyandang nama KITLV, sedangkan perusahaan KITLV Press diambil alih oleh Penerbit Brill yang tetap menerbitkan Jurnal BKI dan KITLV Jakarta.

Penutupan Perpustakaan KITLV di Leiden menyusul penutupan Institut Tropen Belanda yang dilakukan Desember 2013. Tropen menyimpan jutaan naskah, buku, dan benda bersejarah dari banyak negara, termasuk Nusantara, juga menyatakan diri tak dapat beroperasi karena bangkrut (Majalah Tempo, 27/1/2014). Padahal, tak terhitung sumbangsih KITLV dan Tropen terhadap dokumentasi dan kajian kebudayaan Indonesia. Para peneliti pun merasa kehilangan.

Pada era disrupsi dan revolusi industri 4.0 ini, justru yang dibutuhkan adalah beragam inovasi untuk membuat sentra kebudayaan terus eksis dan menebarkan nilai luhur yang tak lekang zaman. Digitalisasi menjadi cara yang mutlak dibutuhkan untuk menjawab tantangan itu. Dengan cara ini, koleksi dapat diakses secara cepat, akurat, dan global. Sebagai penyedia akses, keraton mau tidak mau harus menjawab tantangan global ini. Upaya ini juga sebagai salah satu solusi terselenggaranya pelayanan yang baik. Di sisi lain, digitalisasi juga solusi atas besarnya dana yang harus dikeluarkan, karena biaya perawatannya tentu tak akan sebesar perawatan konvensional (Zustiyantoro, 2014).

Jika kita sepakat dengan pendapat Widianarko (Suara Merdeka, 5/5/2018) yang menyebut politikus kita hari ini mengalami “kematian retorika” karena tak memiliki bekal kebudayaan yang memadai, kita setidaknya berharap dari Keraton Kasunanan Surakarta agar teguh merawat nilai sebagai bekal kebudayaan bagi generasi mendatang.

– Dhoni Zustiyantoro, pengajar Prodi Sastra Jawa FBS Universitas Negeri Semarang

*Versi lebih pendek dari tulisan ini dimuat di harian Suara Merdeka, Senin, 7 Mei 2018: https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/82892/buka-lagi-akses-ke-keraton

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s