“Janganlah Kaya Sebelum Waktunya”, Pandangan Konservatisme Kaum Borjuasi, dan Pentingnya Logika Postmodernisme

DI sela waktu bekerja, tiga orang pemuda pada suatu siang mendapat nasihat dalam sebuah pertemuan yang dihadiri orang-orang “berpengaruh pada zamannya”. Setiap hari, ketiga pemuda berumur 30-an tahun itu bekerja selama minimal delapan jam—sebagaimana diatur dalam UU Nomor 13/2003 Pasal 77 tentang Ketenagakerjaan. Apa yang dimaksud sebagai orang-orang yang berpengaruh pada zamannya adalah mereka yang, baik langsung maupun tidak langsung, pernah terlibat dalam upaya membangun dan membesarkan tempat di mana mereka bersama bekerja.

“Wah, kalau melihat posisi anak-anak now memang sangat menguntungkan. Mereka sudah kaya dan makmur, tidak seperti era saya, sangat menderita,” salah seorang tetua.

“Dulu, saya bergaji sekian ribu rupiah, berangkat kerja naik angkot. Motor pertama baru saya miliki setelah sekian tahun bekerja, itu pun harus dibeli dengan susah payah menabung. Bahkan bisa dihitung berapa orang yang memiliki motor ketika itu,” lanjutnya.

“Betul. Tetangga saya, keluarga muda, sudah punya tiga mobil,” ujar yang lain.

Menurut tetua, kondisi yang ia alami sangat berbeda dengan masa sekarang. Kini, menurut dia, pegawai dengan status belum tetap atau kontrak pun sudah memiliki segalanya: rumah, mobil, hidup kecukupan, pakaian pantas. Fenomena ini, secara teori, tidak masuk akal karena untuk bisa memiliki semua itu siapa pun mesti bekerja keras selama kurun waktu tertentu dan/atau memiliki jabatan agar mempunyai gaji lebih tinggi.

Dan, dengan demikian, sebelum mencapai kehidupan ideal itu, para pekerja mesti terlebih dulu menunjukkan kepayahan: memperlihatkan kehidupan yang menderita, memakai baju ala kadarnya, dan seterusnya.

***

BAGAIMANA kita mesti melihat kasus di atas dalam perspektif postmodern? Atau, ini mungkin pertanyaan yang lebih tepat diajukan: mengapa cara pandang postmodern semakin penting bagi kita, pada era di mana globalisasi, kapitalisme, dan digitalisasi disebut-sebut sebagai tolok ukur kemajuan peradaban?

Bagaimana pula logika sosialisme Marx mengakomodasi kaum proletar yang terus ditindas oleh borjuasi, bahkan secara ideologi?

Memang telah lama pandangan-pandangan konservatisme dianggap berbahaya terhadap kelangsungan kehidupan yang lebih cair, yang tidak lagi melihat sekat antara yang lampau dan yang yang mendatang, dan melihat perubahan sebagai “neraka”. Pandangan konservatisme terus melihat bahwa yang telah lampau, dengan “aku” sebagai pelaku, adalah romantisisme yang perlu untuk tidak hanya terus dihadirkan, namun juga dilakukan. Hal demikian dianggap sangat penting karena pandangan tersebut dinilai menjadi perilaku final untuk merespons kondisi sosial dan budaya.

4006590-kronik-april

Pandangan-pandangan yang menjaga pada kemurnian ajaran, untuk tidak terlalu jauh menyebutnya sebagai “ideologi”, dan cenderung memisahkannya dengan hal yang baru, menjadi cermin jika konservatisme sejalan dengan prinsip-prinsip pemikiran modern yang melihat dunia sebagai rumus yang pasti dan final. Pemikiran modern melihat pelbagai hal yang “pramodern” perlu untuk dirunutkan, diidentifikasi, distrukturkan, dijustifikasi dan/atau dimaknai.

Modern pun pada akhirnya menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang sejalan dengan “hati nurani”, sebagaimana diartikan KBBI sebagai, “Putusan (alasan, pertimbangan) berdasarkan hati nurani”. Alih-alih mengedepankan intelektualitas, pemikiran modern justru terjebak pada klaim dan tidak membebaskan pandangan-pandangan sebagai dialektika. Rumusan yang final dan klaim totalitarian kaum modern, demikian halnya dengan konservatisme, menyempitkan dan mematikan nalar sehat dan lebih jauh kritisisme terhadap pengetahuan.

Untuk itulah postmodernisme hadir untuk membongkar logika final tersebut. Logika postmodernisme dibangun dengan konstruksi berpikir bahwa tidak ada yang tunggal dan final atas alam kasunyatan. Penolakan terhadap pandangan-pandangan tersebut, dengan demikian, adalah koreksi atas finalisasi yang dibuat dengan berbagai hal yang mengatasnamakan ilmiah, teori, fakta empirik, maupun pengalaman.

Pandangan postmodernisme penting untuk kita bumikan di tengah masih masifnya konservatisme di sekitar kita, yang cenderung mengebiri kebebasan dan hak-hak atas individu untuk berpikir dan bertindak. Dengan kata lain, keinginan untuk terus mengoreksi, sekalipun tetap mengedepankan prinsip akomodatif terhadap pelbagai hal, adalah keniscayaan dalam konstruksi postmodernisme. Lebih jauh, menurut Giddens, postmodernisme adalah pandangan modernisme yang sudah sadar diri dan menjadi bijak.

***

SATU hal yang mesti kita tolak dari doktrin totalitarian dalam konteks kasus yang mengemuka di atas, salah satunya, ialah keniscayaan bahwa lama bekerja selalu berbanding dengan penghargaan dan apa yang dicapai oleh si pekerja. Penolakan itu tentu saja berdasar bahwa tidak ada korelasi memadai antara materi yang dimiliki dengan kompetensi pekerja. Kekayaan, dalam hal ini materi, yang dimiliki pun tidak selalu berbanding lurus dengan kapasitas intelektual, integritas kinerja, hubungan sosial, dan nilai-nilai keutuhan yang berhubungan dengan kemanusiaan.

Orang, dalam hal ini pekerja, yang belum memiliki kekayaan materi cukup bukan halangan untuk terus meningkatkan kapasitas diri atau sekadar nraktir temannya di warung kopi. Pun mestinya bukan hal yang aneh jika jabatan tertentu dalam sebuah lembaga atau perusahaan diduduki oleh mereka yang lebih muda. Dalam perspektif Bourdieu, orang-orang ini sejatinya tengah mengupayakan dan memiliki kapital budaya, sosial, intelektual.

2209ld1

Kaum pekerja, sebagaimana pandangan Marx, adalah mereka yang terus tereksploitasi karena tak memiliki alat-alat produksi. Pekerja hanya memperkaya pemilik modal untuk menjadikan mereka bagian dari pelanggengan kapitalisme. Alih-alih membuat peraturan untuk meningkatkan kinerja dan kesejahteraan, pekerja terus diperas secara fisik maupun kapabilitas pemikiran dan keseharian mereka. Para pekerja telah dipisahkan dari realitas sosial dan sepenuhnya dimanfaatkan oleh pemodal, pemilik alat-alat produksi. Dalam perkembangannya, pekerja juga mengalami penindasan ideologis karena terjadi pengekangan bahkan sejak dalam pikiran. Dampak dari perilaku kapitalisme yang dirasakan oleh pekerja terutama adalah alienasi, keterasingan terhadap realitas sosial dan terhadap dirinya sendiri sebagai manusia.

Maka sejatinya pandangan kaum borjuasi, pekerja kelas menengah dan dalam konteks ini merasa menjadi bagian “yang berpengaruh” dan “orang yang berhasil”—dan terus berupaya melanggengkan pandangan konservatisme: menindas, telah gugur sejak diucapkan. Penolakan terhadap logika manusia modern yang cenderung memberi klaim yang tak sepenuhnya—dan tak selalu—tepat, mengabaikan sekaligus mengkhianati nalar sehat, juga berbahaya bagi upaya mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Dhoni Zustiyantoro

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s