“Cina Tuwa” yang Tak Perlu dan Cerita yang Serba Dilalah

Oleh Dhoni Zustiyantoro

KITA nampaknya masih akan menemukan rasisme, setidaknya pengotak-kotakan yang tak perlu terhadap kesukuan, dalam karya-karya sastra. Ketiadaan anasir kritis, termasuk tumpulnya cara bercerita, menjadi musabab kemunculan hal tak perlu itu.

Mengemukanya rasisme yang tak perlu itu ada dalam crita cekak “Calon Wartawan” di majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat, Nomor 49 edisi 9 Desember 2017. Di awal cerita, cerkak yang ditulis Imam Hidayat itu menyebut “Cina tuwa” untuk menyebut seorang lelaki tua keturunan Cina sebagai salah satu tokoh.

“Calon Wartawan” berkisah mengenai aku sebagai seorang perempuan yang sedang belajar menulis reportase. Dia mendapat arahan dari lelaki bernama Ferry untuk liputan dan mencari data di lapangan. Di sejumlah tempat, tokoh aku mengumpulkan data dengan mewawancarai orang-orang terkait dengan sejarah tempat. Dalam proses belajar menjadi wartawan, Ferry memberi sejumlah nasihat kepada aku terkait hal-hal yang mesti dilakukan, antara lain tak boleh mamasukkan interpretasi dalam berita, mengedepankan data dan fakta, juga kritis terhadap keadaan di sekitar.

Di awal cerita, dikisahkan tokoh aku yang mencari informasi mengenai awal mula cerita daerah Baba Layar. Setelah tiba di kanan-kiri pusat perbelanjaan Ramayana Sidoarjo itu, tokoh aku lalu duduk di sebuah warung, di sebelah “Cina tuwa”. Tokoh aku tak ingin langsung bertanya kepada “Cina tuwa”. Namun untuk menarik perhatiannya, aku menelepon Ferry dan menanyakan apa yang akan dilakukan di tempat itu—dalam proses pencarian informasi tersebut.

“Mas, iki aku wis tekan Baba Layar. Terus aku kudu piye?”
“Yen kepengin dadi wartawan, kudune kowe sekolah dhisik neng AWS.”
“AWS iku singkatan apa?”
“Akademi Wartawan Surabaya. Kampuse lek gak salah neng Kaliasin. Eh, embuh ya, aku lali. Wis ta. Pokoke sekolaha dhisik neng AWS. Dadi ben gak takon-takon waae ngono iku.”
(Hidayat, 2017: 23)

Ferry menyarankan tokoh aku agar terlebih dulu menempuh pendidikan di AWS sebelum menjadi wartawan profesional. Dalam cerita tersebut nampak jika Ferry merasa bosan karena terus ditanya oleh tokoh aku perihal kerja kewartawanan. Ferry lantas meminta tokoh aku untuk menemui orang yang sekiranya paham tentang sejarah Baba Layar. Dan, tokoh aku merasa telah menemukannya. Dialah “Cina tuwa” yang sedang duduk di sebelahnya, di dalam warung pojok itu.

“Cina tuwa” pun menengok aku dan menanyakan apakah dia berprofesi sebagai wartawan. Tokoh aku menjawab tidak. Dia hanyalah orang yang sedang belajar menulis di majalah Panjebar Semangat. Gayung pun bersambut. Cina tuwa yang sedari tadi mendengar perbincangan tokoh aku dengan Ferry lantas menanyakan ihwal Baba Layar.

“Kala wau kok ngrembag perkawis lokasi Baba Layar?” Cina tuwa iku malih basa.
“Inggih. Kula kepengin nyerat sejarahipun Baba Layar, kenging menapa dhaerah mriki kok dipunwastani Baba Layar.”
(Hidayat, 2017: 23)

Lelaki itu lantas menceritakan perihal sejarah Baba Layar secara panjang lebar. Tokoh aku mencatat dalam kertas. Inti cerita itu adalah daerah yang kini terdapat Mal Ramayana itu ditempati oleh Babah-Layar yang memiliki nama asli Sham Po Kong.

IMG_1183

Rasisme?

Dalam “Calon Wartawan”, kita setidaknya akan menemukan penyebutan “Cina” dan “Cina tuwa” yang merujuk pada lelaki tua keturunan Cina itu sebanyak tujuh kali. Dalam cerita tersebut, tokoh aku melihat orang lain—dalam konteks ini adalah orang yang belum dia kenal—dari persepsi pandangan awal dan identitas yang melekat: Cina.

Rasisme, menurut Fredickson (2002), adalah prasangka atau praktik memperlakukan orang lain secara berbeda dengan memberikan penilaian yang diukur berdasarkan karakteristik ras, sosial, atau konsep mental tertentu mengenai diri sendiri. Sedangkan menurut Syofyan (2012), sejak tahun 1970-an, ras dianggap sebagai konsep sosial, budaya, dan politik yang sebagian besar didasarkan pada penampilan luar yang dangkal dan semu.

Gagasan tentang ras ditanggapi secara emosional sehingga diskusi-diskusi objektif tentang signi­fikansi ras dalam kaitannya dengan isu-isu sosial menjadi sulit. Munculnya isu ras dalam karya sastra, di lain pihak juga wujud keanehan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip postmodernisme. Rasisme, dengan demikian, mengusung semangat konservatisme atau prinsip pemikiran modern karena ia mendukung pemaknaan yang final terhadap ras.

Identitas tokoh lelaki tua keturunan Cina dalam “Calon Wartawan”  secara tersurat bukan dibangun atas dasar realitas atau bahkan imajinasi sekalipun. Tokoh tersebut, misalnya, tidak dibentuk dengan kata ganti atau ciri yang melekat pada personal orang keturunan Cina, seperti berkulit putih, bermata putih, berambut tebal, tinggi, logat dan dialek dalam berbicara, dan sebagainya. Ciri tersebut, secara imajinatif akan mengarahkan pembaca pada kesimpulan identitas yang diinginkan oleh pengarang.

Namun, tokoh “Cina tuwa” sekadar disebut-sebut sebagai “Cina tuwa”. Tokoh itu dimatikan.  Pengarang, dalam konteks ini, dalam karyanya miskin imajinasi untuk menghidupkan tokoh-tokoh di dalamnya—termasuk tokoh aku yang tak punya identitas melekat sebagai upaya membangun imajinasi pembaca dan memperkuat karakteristik atau stereotipe seorang perempuan yang baru belajar menjadi wartawan.

Meski demikian, karya sastra ini cukup menampulkan realitas zaman melalui aktivitas tokoh yang tak bisa lepas dari perangkat teknologi. Antara lain disebutkan, tokoh aku yang dalam kedatangannya ke mal Ramayana mengenakan headset yang dicolokkan ke telepon genggam. Sepanjang cerita, komunikasi yang dibangun tokoh aku dengan Ferry juga menggunakan perangkat tersebut. Angan-angan memiliki pekerjaan sebagai wartawan juga menjadi perwujudan jiwa muda yang dinamis atau semangat kesetaraan gender. Cita-cita pekerjaan tokoh aku (berjenis kelamin perempuan), misalnya, bukan menjadi seorang petani, pegawai negeri sipil, atau sekadar ingin membantu keluarga di rumah. Pilihan untuk menjadi wartawan juga mencerminkan tokoh aku yang memiliki keinginan bekerja keras, dengan menghadapi dunia yang sama sekali baru baginya. Namun, meski sama sekali tidak tahu perihal dunia kewartawanan, ia mau belajar dengan menggali data dan bertanya kepada Ferry.

Serba “Dilalah”

Tidak terbangunnya kesadaran kritis dalam cerita “Calon Wartawan” juga berakibat fatal. Setiap bagian cerita sekadar tersambung melalui keadaan yang serba dilalah. Akibat dari keruntutan cerita yang logis membuat cerita dibangun secara tergesa, tidak runtut, dan tidak masuk akal.

Ketika tokoh aku selesai menemui “Cina tuwa”, ia menemui kakak yang vernama Endah yang memiliki rumah di Buduran. Malamnya, tokoh aku berencana untuk mengetik hasil wawancara. Namun, telepon dari Ferry membuyarkan rencana.

Bengine aku arep ngetik asil wawancara bab papan panggonan sing aran Babar Layar mau. Tapi, lagi wae nutul power laptop, ha-peku muni. Enek bel ka Mas Ferry.
“Hallo, wa’alaikumsalam. Enek apa, Mas?”
(Hidayat, 2017: 24)

Tokoh aku diminta untuk mencari informasi di desa kakak. Kabarnya, desa tersebut memiliki sebuah makam kramat. Tokoh aku diminta untuk menelusuri informasi tersebut. Saat obrolan inilah tokoh aku mendapat pelajaran sebagai wartawan, agar ia tak memiliki interpretasi pribadi atas berita yang sedang diliput. Namun, lagi-lagi ada dilalah. Saat tokoh aku membuka website untuk mencari informasi terkait tugas yang diberikan Ferry, ia menemukan lowongan kerja menjadi fotografer. Keesokan harinya, ia meminta pertimbangan kepada Ferry untuk melamar pekerjaan menjadi fotografer. Ferry pun kembali memberi wejangan, bahwa menjadi wartawan foto “aja mung foto sing apik-apik thok”. Sing elek-elek uga kudu diangkat neng permukaan. Upamane, foto sampah sing ngebaki Kali Ciwira sacedhake Mesjid Baitussalam, Sukodono kuwi.” (hlm. 24)

Cerita juga bergerak cepat dan tergesa pada penelusuran tokoh aku terhadap makam keramat dilanjutkan dengan pertemuan dia dengan dua orang perempuan di warung es buah.

Kesel wawancara karo juru kunci makam, aku mlebu warung es buah. Saking panase anggonku ngombe es nganti entek rong mangkok… (hlm. 43)

Kedua orang tersebut rupanya sedang membincang seorang pria bernama Ferry. Tokoh aku pun kaget. Ia menduga dan bertanya dalam hati, apakah perempuan itu benar pacar Ferry? Ia dilema. Setengah cemburu, namun ia sadar tak punya hak karena bukan siapa-siapa bagi Ferry. Tokoh aku lantas berniat mengambil gambar orang itu secara sembunyi, meski akhirnya diketahui oleh keduanya. Keesokan harinya, ia menelepon Ferry untuk melaporkan data yang diperoleh. Tokoh aku juga menyebut pertemuan dengan perempuan yang ia duga sebagai pacar Ferry. Karena itu, ia berniat untuk menjauhi Ferry. Namun, di akhir cerita, Ferry menyatakan jika perempuan yang ditemui tokoh aku tersebut adalah seorang janda. Sedangkan, dia adalah jejaka.

“Lengkape, Sri iku randha duwe anak loro. Angke aku jik jaka. Ujaring kandha, jaka iku kudu oleh prawan. Lek randha ya kudu oleh dhudha. Supaya tembe mburine ben ora ana rasa cuwa.” (hlm. 43)

Utomo (2002) menyatakan, keberadaan ciri dilalah lumrah muncul dalam alur karya sastra Jawa picisan. Kecenderungan penggunaan berbagai peristiwa yang bersifat dilalah dalam roman picisan sastra Jawa dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, adanya kesengajaan pengarang untuk menggiring cerita menuju ke arah yang dikehendaki tanpa harus bersusah payah membuat logika sebuah peristiwa dan/atau membuat hubungan sebab-akibat. Dalam sebuah kisahan yang pendek, pengarang agaknya kesulitan jika harus membuat cerita yang logis dengan pengaluran yang baik. Oleh karena itu, pengarang membuat penyelesaian atau jalan keluar yang bersifat instan. Singkatnya, apabila pengarang kesulitan membangun alur cerita yang logis, maka ia menggunakan konsepsi dilalah sebagai pengesahan. Namun, dilalah bisa dilakukan secara implisit (dengan tidak menggunakan kata atau ungkapan dilalah dan sejenisnya, maupun eksplisit (dengan menggunakan kata dilalah dan sejenisnya). Kedua, berkaitan dengan unsur dilalah sebagai alat pengesah sebuah peristiwa, hal itu sejalan dengan pandangan hidup masyarakat Jawa yang memiliki sandaran vertikal atau Ilahiah. Segala sesuatu atau nasib yang diterima dianggap sebagai sebuah takdir. Manusia tidak dapat menghindar dari takdir itu karena kekuasaan Tuhan sangat mutlak.

Pada akhirnya kita menginginkan cerita yang mampu bercerita, bukan cerita yang mendikte dan tergesa, apalagi berisi hal-hal yang tak perlu, seperti rasisme.

Dhoni Zustiyantoro

Rujukan

Fredickson, M. George. 2002. Racism a Short History. America: Princeton University Press.

Hidayat, Imam. 2017. “Calon Wartawan”. Surabaya: Panjebar Semangat.

Syofyan, Donny. 2012. “Teori Sastra dan Rasisme”, http://sastra-indonesia.com/2014/03/teori-sastra-dan-rasisme/

Utomo, Imam Budi, dkk. 2002. Eskapisme Sastra Jawa. Yogyakarta: Gama Media.

Advertisements

“Janganlah Kaya Sebelum Waktunya”, Pandangan Konservatisme Kaum Borjuasi, dan Pentingnya Logika Postmodernisme

DI sela waktu bekerja, tiga orang pemuda pada suatu siang mendapat nasihat dalam sebuah pertemuan yang dihadiri orang-orang “berpengaruh pada zamannya”. Setiap hari, ketiga pemuda berumur 30-an tahun itu bekerja selama minimal delapan jam—sebagaimana diatur dalam UU Nomor 13/2003 Pasal 77 tentang Ketenagakerjaan. Apa yang dimaksud sebagai orang-orang yang berpengaruh pada zamannya adalah mereka yang, baik langsung maupun tidak langsung, pernah terlibat dalam upaya membangun dan membesarkan tempat di mana mereka bersama bekerja.

“Wah, kalau melihat posisi anak-anak now memang sangat menguntungkan. Mereka sudah kaya dan makmur, tidak seperti era saya, sangat menderita,” salah seorang tetua.

“Dulu, saya bergaji sekian ribu rupiah, berangkat kerja naik angkot. Motor pertama baru saya miliki setelah sekian tahun bekerja, itu pun harus dibeli dengan susah payah menabung. Bahkan bisa dihitung berapa orang yang memiliki motor ketika itu,” lanjutnya.

“Betul. Tetangga saya, keluarga muda, sudah punya tiga mobil,” ujar yang lain.

Menurut tetua, kondisi yang ia alami sangat berbeda dengan masa sekarang. Kini, menurut dia, pegawai dengan status belum tetap atau kontrak pun sudah memiliki segalanya: rumah, mobil, hidup kecukupan, pakaian pantas. Fenomena ini, secara teori, tidak masuk akal karena untuk bisa memiliki semua itu siapa pun mesti bekerja keras selama kurun waktu tertentu dan/atau memiliki jabatan agar mempunyai gaji lebih tinggi.

Dan, dengan demikian, sebelum mencapai kehidupan ideal itu, para pekerja mesti terlebih dulu menunjukkan kepayahan: memperlihatkan kehidupan yang menderita, memakai baju ala kadarnya, dan seterusnya.

***

BAGAIMANA kita mesti melihat kasus di atas dalam perspektif postmodern? Atau, ini mungkin pertanyaan yang lebih tepat diajukan: mengapa cara pandang postmodern semakin penting bagi kita, pada era di mana globalisasi, kapitalisme, dan digitalisasi disebut-sebut sebagai tolok ukur kemajuan peradaban?

Bagaimana pula logika sosialisme Marx mengakomodasi kaum proletar yang terus ditindas oleh borjuasi, bahkan secara ideologi?

Memang telah lama pandangan-pandangan konservatisme dianggap berbahaya terhadap kelangsungan kehidupan yang lebih cair, yang tidak lagi melihat sekat antara yang lampau dan yang yang mendatang, dan melihat perubahan sebagai “neraka”. Pandangan konservatisme terus melihat bahwa yang telah lampau, dengan “aku” sebagai pelaku, adalah romantisisme yang perlu untuk tidak hanya terus dihadirkan, namun juga dilakukan. Hal demikian dianggap sangat penting karena pandangan tersebut dinilai menjadi perilaku final untuk merespons kondisi sosial dan budaya.

4006590-kronik-april

Pandangan-pandangan yang menjaga pada kemurnian ajaran, untuk tidak terlalu jauh menyebutnya sebagai “ideologi”, dan cenderung memisahkannya dengan hal yang baru, menjadi cermin jika konservatisme sejalan dengan prinsip-prinsip pemikiran modern yang melihat dunia sebagai rumus yang pasti dan final. Pemikiran modern melihat pelbagai hal yang “pramodern” perlu untuk dirunutkan, diidentifikasi, distrukturkan, dijustifikasi dan/atau dimaknai.

Modern pun pada akhirnya menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang sejalan dengan “hati nurani”, sebagaimana diartikan KBBI sebagai, “Putusan (alasan, pertimbangan) berdasarkan hati nurani”. Alih-alih mengedepankan intelektualitas, pemikiran modern justru terjebak pada klaim dan tidak membebaskan pandangan-pandangan sebagai dialektika. Rumusan yang final dan klaim totalitarian kaum modern, demikian halnya dengan konservatisme, menyempitkan dan mematikan nalar sehat dan lebih jauh kritisisme terhadap pengetahuan.

Untuk itulah postmodernisme hadir untuk membongkar logika final tersebut. Logika postmodernisme dibangun dengan konstruksi berpikir bahwa tidak ada yang tunggal dan final atas alam kasunyatan. Penolakan terhadap pandangan-pandangan tersebut, dengan demikian, adalah koreksi atas finalisasi yang dibuat dengan berbagai hal yang mengatasnamakan ilmiah, teori, fakta empirik, maupun pengalaman.

Pandangan postmodernisme penting untuk kita bumikan di tengah masih masifnya konservatisme di sekitar kita, yang cenderung mengebiri kebebasan dan hak-hak atas individu untuk berpikir dan bertindak. Dengan kata lain, keinginan untuk terus mengoreksi, sekalipun tetap mengedepankan prinsip akomodatif terhadap pelbagai hal, adalah keniscayaan dalam konstruksi postmodernisme. Lebih jauh, menurut Giddens, postmodernisme adalah pandangan modernisme yang sudah sadar diri dan menjadi bijak.

***

SATU hal yang mesti kita tolak dari doktrin totalitarian dalam konteks kasus yang mengemuka di atas, salah satunya, ialah keniscayaan bahwa lama bekerja selalu berbanding dengan penghargaan dan apa yang dicapai oleh si pekerja. Penolakan itu tentu saja berdasar bahwa tidak ada korelasi memadai antara materi yang dimiliki dengan kompetensi pekerja. Kekayaan, dalam hal ini materi, yang dimiliki pun tidak selalu berbanding lurus dengan kapasitas intelektual, integritas kinerja, hubungan sosial, dan nilai-nilai keutuhan yang berhubungan dengan kemanusiaan.

Orang, dalam hal ini pekerja, yang belum memiliki kekayaan materi cukup bukan halangan untuk terus meningkatkan kapasitas diri atau sekadar nraktir temannya di warung kopi. Pun mestinya bukan hal yang aneh jika jabatan tertentu dalam sebuah lembaga atau perusahaan diduduki oleh mereka yang lebih muda. Dalam perspektif Bourdieu, orang-orang ini sejatinya tengah mengupayakan dan memiliki kapital budaya, sosial, intelektual.

2209ld1

Kaum pekerja, sebagaimana pandangan Marx, adalah mereka yang terus tereksploitasi karena tak memiliki alat-alat produksi. Pekerja hanya memperkaya pemilik modal untuk menjadikan mereka bagian dari pelanggengan kapitalisme. Alih-alih membuat peraturan untuk meningkatkan kinerja dan kesejahteraan, pekerja terus diperas secara fisik maupun kapabilitas pemikiran dan keseharian mereka. Para pekerja telah dipisahkan dari realitas sosial dan sepenuhnya dimanfaatkan oleh pemodal, pemilik alat-alat produksi. Dalam perkembangannya, pekerja juga mengalami penindasan ideologis karena terjadi pengekangan bahkan sejak dalam pikiran. Dampak dari perilaku kapitalisme yang dirasakan oleh pekerja terutama adalah alienasi, keterasingan terhadap realitas sosial dan terhadap dirinya sendiri sebagai manusia.

Maka sejatinya pandangan kaum borjuasi, pekerja kelas menengah dan dalam konteks ini merasa menjadi bagian “yang berpengaruh” dan “orang yang berhasil”—dan terus berupaya melanggengkan pandangan konservatisme: menindas, telah gugur sejak diucapkan. Penolakan terhadap logika manusia modern yang cenderung memberi klaim yang tak sepenuhnya—dan tak selalu—tepat, mengabaikan sekaligus mengkhianati nalar sehat, juga berbahaya bagi upaya mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Dhoni Zustiyantoro