Iseng-iseng Berhadiah PNS: Obrolan di Warung Kopi

ADA satu ungkapan satire dari seorang teman setelah mengikuti tes seleksi calon pegawai negeri sipil di salahsatu kementerian. Karena tidak memenuhi batas nilai tertentu, ia tidak masuk dalam kategori peserta yang lolos ke tahap berikutnya. Ia menceritakan jika dari sekitar 50 peserta yang menjalani tes dalam satu ruangan yang sama, yang lolos sekitar lima orang.

“Ah, ikut tes ini ibarat iseng-iseng berhadiah menjadi PNS,” kata dia sembari tertawa lepas. Kami berbincang di sebuah warung kopi, beberapa hari setelah ia menjalani tes.

“Kok bisa?” saya masih tergelitik dengan ungkapan yang baru kali ini saya dengar.

“Ibarat orang menjaring, jadi PNS itu 90 persen bergantung tangan Tuhan. Keberuntungan. Kita bersaing dengan ribuan pendaftar. Kita tidak tahu apa yang terjadi dalam 90 menit waktu mengerjakan soal itu. Hidup kita selanjutnya ditentukan setelah 90 menit itu.”

Saya terbengong mendengar penjelasan itu. Dalam tuturannya itu saya melihat ada tegangan antara harapan dan kekecewaan. Selanjutnya, dia bercerita jika peserta tes kebanyakan merupakan para pemuda yang baru saja lulus.

“Bagaimana kamu tahu?” tanya saya.

“Ya mereka masih unyu-unyu, kayak mahasiswa,” jawab kawan saya itu, yang memang secara penampilan nampak lebih tua meski umurnya juga belum genap 35 tahun. Saya pikir ia tidak terima dengan pesaingnya yang berumur jauh di bawahnya.

Ia lantas bercerita banyak mengenai kehidupannya yang, menurut dia, telah ia abdikan selama lebih kurang tujuh tahun di sebuah lembaga pemerintahan. Ia mula-mula bekerja di sana sebagai pegawai tidak tetap selama tiga tahun lantas menjadi pegawai kontrak. Namun, dari tahun ke tahun, belum juga ada formasi PNS di lembaga tempatnya bekerja. Padahal, ia sangat mengidam-idamkan menjadi pekerja yang dibayar dan diakui secara resmi oleh negara.

“Jadi PNS itu idaman semua orang. Kalau sudah jadi PNS, selesai sudah kehidupan kita,” katanya sedikit retoris.

Lebih-kurang tiga kali kami bertemu—setelah ia melewatkan tes PNS itu—dan dia masih juga ingin membahas kegetirannya. Sebagai kawan dan pendengar yang baik, saya berupaya berempati kepadanya, yang telah berkeluarga dan memiliki dua anak.

Namun, obrolan kali terakhir membuat saya terenyak. Dengan mimik muka muram ia bercerita jika beberapa kawan dekatnya yang tinggal dalam satu kompleks perumahan telah berstatus sebagai PNS. Si A yang rumahnya di ujung gang telah berstatus PNS. Ia dosen di sebuah perguruan tinggi negeri. Si B yang tinggal di gang yang berbeda, umurnya terpaut jauh di bawah kawan saya itu, juga “berhasil” jadi PNS. Ia guru dan kini membangun rumahnya menjadi dua lantai.

“Lihat, jadi PNS itu ibarat disuwargakke,” kata dia, sembari menyesap kopi yang hampir habis dari cangkir.

Saya tak menimpali omongan itu. Kami terdiam beberapa saat. Saya sebenarnya sedang mencari topik obrolan lain yang bisa mengalihkan  perbincangan, alih-alih menghibur dia.

“Kabarnya awal tahun 2018 akan ada lagi tes PNS. Ayo ikut, siapa tahu Tuhan berpihak pada kita,” kata dia sembari memerlihatkan sebuah laman berita daring yang ia buka dari gawai Android-nya.

“Apakah Tuhan juga bisa iseng?” tanyaku. Dan kami pun berpisah karena kesibukan masing-masing.

Kuharap dalam pertemuan selanjutnya ia tak lagi membahas ihwal kegagalan itu karena sudah diterima sebagai PNS sesuai harapan besarnya. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s