Mahabenar Pengendara Motor dengan Segala Kelakuannya

RABU, 15 November 2017 sore kemarin adalah kali ke sekian saya menjadi korban pengendara motor yang secara sembarangan nyelonong belok kanan dari kiri mobil yang saya kendarai. Sore kemarin, pengendara motor itu adalah seorang emak-emak yang hendak belok, di daerah Srondol, Semarang. Untunglah, saya berkendara tak kencang karena memang keadaan jalan sedang padat.

Akibat ciuman tak terkehendaki itu, bemper depan sebelah kiri menjadi baret. Ya, meski tak begitu nampak, hanya baret yang kemudian saya poles compound sehingga hanya nampak titik hitam. Namun tetap saja, kelakuan emak-emak itu—juga pengendara motor lainnya—terus saja membikin ngilu bagi siapa pun yang sedang nyetir. Ini berdasar pada pengakuan kawan-kawan yang juga bisa mengemudi. Masih perlu survei atau penelitian untuk membuktikan hal ini? Cobalah Anda Tanya kepada kawan yang bisa nyetir….

Pada minggu sebelumnya, ketika melintas di wilayah Gajahmungkur dari arah Jalan Diponegoro, bemper depan bagian kiri juga lecet karena dicium motor pengendara gojek. Ketika sampai di pertigaan, pengendara motor itu langsung nyelonong belok dan memaksa untuk mendahului dari sebelah kiri saya. Alhasil, dia nyenggol bemper dan hasilnya pun sama: meninggalkan bekas goresan hitam di bemper. Ah, mungkin bemper itu memikat dan dicintai sehingga banyak yang ingin nyium….

Untung saja, pengendara gojek tak jatuh. Kami sama-sama tak berhenti karena motor itu dikendarai dengan kecepatan tinggi. Ia pun langsung ngacir.

Jauh sebelumnya, sekitar sepekan setelah Lebaran 2017, saya ke Yogyakarta bersama istri untuk menikmati libur sebelum kembali rutinitas. Kepadatan Jalan Malioboro pun menyisakan kenangan bagi bemper depan sebelah kiri itu: dua orang berboncengan mengendarai motor nyelonong ke sebelah kanan dalam keadaan kendaraan sama-sama berjalan.

Ya, mungkin itulah yang namanya kenangan, tak selalu manis namun bisa menyisakan tanda agar kelak memaksa dikenang. Halah

Setidaknya, ada beberapa kelakuan faktual yang menjadi kebiasaan umum para pengendara motor di jalanan kita.

  1. Tak memfungsikan spion

Pengendara motor tak benar-benar memfungsikan spionnya untuk melihat ke belakang, terutama saat akan mendahului kendaraan di depannya atau saat akan belok. Tak jarang spion bawaan pabrik itu berubah bentuk menjadi bervariasi. Emak-emak pengendara motor malah mengarahkan spion ke arah muka. Agar bisa ngaca sepanjang jalan? Hellooo….

  1. Lupa mematikan lampu sein

Kebiasaan pemotor yang juga sering kita temui yakni sering lupa mematikan lampu sein setelah belok. Ia baru sadar setelah akan menggunakannya lagi, di belokan depan saat akan menghidupkan sein kembali. Solusinya, pabrikan mesti memproduksi lampu sein yang berbunyi, seperti dulu kita tahu ada pada motor Yamaha Alfa, bisa menjadi alternatif. Kan keren, sein berkedip dan bersuara tit-tit-tit…. Kalaupun tak lihat lampu sein saat belok, kita bisa mendengar suara….

  1. Tak pakai helm

Karena berkendara dalam jarak dekat, keselamatan pun tak jadi prioritas. Helm sebagai peranti keselamatan utama pemotor pun tak selalu dipakai dengan alasan itu. Padahal, kita tak tahu musibah setiap waktu bisa mengintai. Atau mungkin kita mengira Malaikat Izrail butuh istirahat.

  1. Paling penting

Saat berkendara, seorang pemotor acap memosisikan diri paling penting di antara masyarakat pengguna jalanan. Ia hobi membunyikan klakson saat mau menyalip meski melihat kendaraan di depannya juga mau menyalip. Bahkan, ia tak mau disalahkan saat tak memberi tanda saat mau belok. Pemotor juga memiliki tensi emosi tinggi saat berkendara. Dengan sigap marah-marah jika ada pengendara lain yang dianggapnya tak sesuai keinginan.

  1. Paling benar

Dengan segala kelakuan dan keputusan-keputusan yang didasarkan semata atas persepsi individu dan cenderung mengesampingkan sekitar, pemotor adalah makhluk paling benar di antara masyarakat pengguna jalan. Mungkin pemotor sejatinya penganut ulung totalitas yang egoistik: yang liyan adalah musuh, dan akulah kebenaran itu.

Penyangkalan: tulisan ini tentu subjektif dan tak bermaksud menyudutkan pemotor (termasuk emak-emak) apalagi mengultuskan kasta pengendara mobil. Karena itu, tetaplah memiliki the power of emak-emak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s