Secuil Cerita Bersama Ki Sayuti

PAGI sudah beranjak ketika saya dan sejumlah kawan menyuguhkan gending-gending untuk menyambut peserta seminar bertema “Kearifan Jawa” di Dekanat Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Kamis, 2 November 2017. Baru saja selesai memainkan Ladrang Wilujeng Slendro Manyura, lelaki sepuh namun energik yang selalu mengenakan blangkon gaya Solo ketika datang ke berbagai acara itu datang dan duduk di kursi paling depan, dekat dengan kami yang memainkan gamelan di sudut kanan panggung pembicara seminar.

Seperti biasa, Pak Sayuti—begitu kami terbiasa memanggil pria bernama lengkap Sayuti Anggoro itu—melontarkan guyon khasnya. Ya, guyon antarpencinta kebudayaan, pelaku seni, terkadang hanya dipahami di antara mereka saja. Misalnya terkait dengan aktivitas kesenimanan yang pelakunya tak bakal menjadi kaya dan lebih sering sambatan ketimbang peye (payu, ditanggap dan mendapat uang pentas). Guyonan jika mendengar gending yang dibawakan maka langsung lali utange, karena saking menikmati. Sampai guyon pada tataran cengkok atau cakepan (syair/ teks) gending waktu membawakan gending-gending itu.

Beberapa di antara teman dekat juga memanggilnya dengan Ki Sayuti karena dia juga mahir mendalang klasik. Ya, meski juga lebih sering sambatan dan tombok (tekor uang/ rugi) ketika mendalang, karena mesti mengeluarkan uang untuk iuran kegiatan atau membayar pengrawit (penabuh gamelan) dan sinden.

Dalam kesempatan seminar itu, kami memainkan gamelan Jawa dalam format cokekan yang hanya terdiri atas gamelan instrumen tertentu. Selama sekitar satu jam kami membawakan gending, diselingi guyon maton oleh Ki Sayuti yang mengajak bercanda salah satu peserta dari Afrika menggunakan bahasa Inggris. Ki Sayuti juga “menantang” peserta untuk maju ke depan dan nembang. Suasana terbangun gayeng, menunggu seminar yang diikuti ratusan peserta itu.

Saya dan kawan-kawan di kampus, terlebih dosen dan mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa dan anggota Karawitan Sekar Domas, boleh dikatakan sangat dekat dengan beliau. Sekar Domas acap mengiringi Ki Sayuti membawakan acara dalam pahargyan. Karawitan ini juga sering mengiringi Ki Sayuti mendalang. Boleh dikatakan, ketika beliau mendalang, yang mengiringi selalu Sekar Domas—karena memang area pentasnya terbatas pada wilayah dan acap sambatan atau bahkan tekor tadi.

Ungkapan-ungkapan khas beliau sangat akrab di telinga kawan-kawan, seperti menirukan suara tokoh Semar, “Lole, lole….” Tak jarang, kedatangan Ki Sayuti, entah dalam acara tertentu atau sekadar menyambangi untuk bertegur sapa, selalu disambut kawan-kawan dengan suara itu. “Lole, lole….”

Ia juga ringan tangan. Hampir-hampir Ki Sayuti tak pernah absen dalam berbagai acara kebudayaan yang diselenggarakan di kampus maupun luar kampus. Sebutlah Sarasehan Selasa Legen di Kampung Budaya Unnes, Sarasehan Setu Wagen di Sekretariat Pakarjawi di Sekargading, dan acara-acara kebudayaan di Kota Semarang yang biasanya terpusat di Taman Budaya Raden Saleh.

Enthengan (ringan tangan),” begitu komentar sejumlah kawan mengakui. Pun ketika diminta untuk mendalang dan tak dibayar, tanpa basa-basi, Ki Sayuti akan langsung mengiyakan.

Seneng aku Mas, sanajan wayangan asile embuh, tapi puas tur seneng,” ujar Ki Sayuti, suatu ketika setelah turun dari panggung wayangan. Bahkan, ia acap mengusulkan untuk wayangan pada acara-acara kampus maupun kawan dekat yang masih dalam tahap direncanakan.

***

KABAR mengagetkan itu muncul di Jumat pagi, 3 November 2017: Ki Sayuti Anggoro telah meninggal dunia di salahsatu rumah sakit di Semarang, pukul 03.00. Sebelumnya, menurut penuturan sejumlah orang yang melayat, ia tak mengeluh sakit. Bahkan hingga jelang tengah malam, ia masih berbincang dengan sejumlah orang di rumahnya.

Mereka yang melayat silih berganti sejak pagi hingga siang, sebelum ia diberangkatkan menuju pemakaman di Heaven Hill, Ungaran. Banyaknya pelayat yang datang, termasuk di antaranya adalah para tokoh di Jawa Tengah, menunjukkan luasnya pergaulan Ki Sayuti. Beberapa di antara pelayat tidak sempat melihat jenazah untuk terakhir kali karena ia diberangkatkan lebih awal, dari rencana semula pukul 14.00, menjadi sekitar pukul 12.30.

***

KAMIS, 2 November 2017 siang, ketika seminar sudah dimulai, saya menemani sejumlah kawan mahasiswa yang menabuh gamelan untuk sarapan di kantin kampus. Di tempat parkir, saya bertemu dengan Ki Sayuti yang akan keluar kampus menaiki mobil. “Takbalik sik, tanggaku ana sing duwe gawe. Mengko ketemu maneh,” ucapnya ketika saya salami.

Selamat jalan, Ki Sayuti. Namamu akan dikenang tidak hanya sebagai sosok yang ramah dan enthengan, namun juga sosok gigih pejuang kebudayaan Jawa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s