Raffles, atau tentang Masa Itu….

KE sebuah pulau nun jauh, ia berlayar dari Inggris—sebuah negeri paling maju di belahan Eropa, yang kemudian kita tahu menjadi tempat lahirnya kapitalisme. Lelaki tegap itu lantas menemukan surga berpenghuni “orang-orang ramah bermoral tinggi” yang dalam aktivitasnya sehari-hari diselimuti alam nan indah.

Bersama 60 kapal dan balatentara yang diperintah Lord Minto, lelaki yang mangkat pada usia 44 tahun itu merebut dan menguasai Pulau Jawa yang ketika itu bernama Hindia Belanda, meski sangat singkat, yaitu pada 1811—1816. Setahun berikutnya, anak dari keluarga yang silsilahnya tak banyak dibaca orang itu menerbitkan The History of Java yang termasyhur itu.

Ia pun sesumbar. “Saya yakin tak ada orang yang memiliki informasi mengenai Jawa sebanyak yang saya miliki…”

Ia nampak jemawa. Ia lupa hanya sebentar melihat Jawa. Sebuah pulau yang menurutnya dihuni orang-orang “baik, lembut, kasih sayang, dan penuh perhatian.” Jawa rupanya membuat Raffles jatuh hati.

Raffles mungkin tak membayangkan bagaimana Jawa 200 tahun kemudian, seperti yang ia tulis pada 1817. Jawa hari ini, bukan lagi terkotak dalam kelas yang benar-benar berbeda, seperti yang ia sebut-sebut dalam buku yang terbit dalam dua jilid itu. Gambaran paling menonjol dari karakter masyarakat Jawa, menurut Raffles, “Adalah sangat penting untuk membedakan antara kelas masyarakat yang diuntungkan dengan masyarakat kebanyakan (kelas bawah).”

the history of java

Kita tak tahu apakah Raffles terpikat pemikiran Marx, yang melihat Jawa masa itu terbagi dalam dua struktur besar: proletar dan borjuasi. Namun yang jelas, Karl Marx baru lahir di Trier, Jerman, pada 1818.

Atau mungkin Raffles telah jauh melampau cita-cita Marx tentang sosialisme dengan membuat pelbagai pembaruan struktur sosial di Jawa. Kita tahu Raffles menghapus perbudakan yang sebelumnya dilakukan Belanda. Ia juga mengangkat bupati sebagai pegawai negeri yang digaji. Sejarah mencatat Raffles membagi Jawa dalam 18 karesidenan dan mempraktikkan sistem juri dalam persidangan—seperti yang dilakukan di Inggris.

Yang jelas Raffles memiliki kegelisahan karena melihat Jawa ketika itu didominasi atas apa yang ia sebut sebagai “kelas bawah”. Kelak, suku yang ia selamatkan menjadi penduduk terbesar negeri ini.

***

KRISIS ekonomi yang melanda Inggris pada akhir abad ke-17 membuat Benjamin Raffles kesulitan menghidupi keluarganya. Suami dari Anne Lyde Linderman itu sehari-hari bekerja sebagai tukang masak di sebuah kapal, sebelum akhirnya menjadi kapten. Thomas Raffles, sang anak yang masih muda itu, pun tak ingin hanya ongkang-ongkang. Raffles muda beruntung karena ayah dari seorang sahabatnya memberi pekerjaan sebagai juru tulis sebuah perusahaan Hindia-Timur, pada 1795.

Thomas Raffles baru menyematkan nama Stamford, ketika ia menjadi sosok yang sangat dihormati di kawasan Laut Cina Selatan. Laut adalah kehidupan bagi pria yang dikaruniai lima anak dari hasil pernikahannya dengan istri keduanya, Sophia Hull. Lord Minto menyukainya karena kecerdikan, keterampilan, dan keterampilannya dalam berbahasa Melayu. Itu membuatnya ditugaskan ke Malaka.

Mungkin sejarah selalu berpihak pada Raffles.

Tak lama setelah tiba di Jawa, Raffles muda memimpin perlawanan terhadap Belanda yang menguasai pulau itu. Meski kemudian, ia harus kembali menyerahkan kekuasaan akibat Perang Napoleon. Raffles lantas kembali ke London pada 1815, meski kembali lagi pada 1816 dan menjadi Gubernur Bengkulu.

Satu hal yang patut kita catat: kemerdekaan atau perasaan ingin merdeka diketahui Raffles ada pada manusia Jawa. “Nasionalisme mereka sangat kuat meskipun sangat menjunjung cerita tradisional tentang hal-hal luar biasa yang terjadi pada masyarakat Jawa kuno, dan mendorong harapan masa depan yang merdeka, yang tidak mereka sembunyikan, tidak membuat mereka memandang rendah dan tidak menghargai bangsa asing.”

Jika Inggris waktu itu terus menguasai Jawa. Jika seorang Raffles terus melihat dan memotret Jawa sebagai surga…

Raffles mengingat orang Jawa sebagai pihak yang tak akan menimbulkan chaos. Adapun kekerasan yang muncul adalah akibat dari kehidupan di bawah pemerintahan yang tak adil, yang mestinya ditegakkan tanpa pandang bulu. Raffles tak setuju anggapan Belanda yang melihat Jawa sebagai “pendendam, bengis, tidak taat pada atasan, meremehkan terhadap orang di bawahnya, cenderung merampok dan membunuh ketimbang bekerja….” Ia dengan tegas mengatakan, “Inggris justru melihat sebaliknya.”

200 tahun kemudian kita melihat Raffles sebagai orang yang giat mencitrakan diri.

Namun kita perlu berterima kasih kepada Raffles atas narasi deksriptifnya yang memikat dan menjadi kitab bagi banyak akademisi di pelbagai penjuru dunia. Mungkin Tuhan mengirim Raffles agar 200 tahun kemudian kita merasa berutang budi kepadanya, setidaknya agar kita melihat diri pernah menjalani hidup secara bersahaja.

Dhoni Zustiyantoro

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s