Ala lan Becik Puniku….

Penggalan teks Pangkur dalam Wulangreh karya Mangkunegara IV (1811-1881) itu mengajak kita mengetahui “yang ala” dan “yang becik”. Teks yang terakhir termaktub dalam cetakan ketiga buku terbitan Tan Gun Swi di Kediri, 1931 itu, menarik untuk dihadirkan sekaligus dimaknai kembali.

Kang sêkar pangkur winarna
lêlabuhan kang kanggo wong ngaurip
ala lan bêcik puniku
prayoga kawruhana
adat waton puniku dipun kadulu
miwah ta ing tatakrama
dèn kaèsthi siyang ratri

Teks itu mengajak kita untuk weruhana, (baca: melihat, memahami) yang ala terlebih dahulu ketimbang yang becik. Kebaikan, termasuk di dalamnya kesalehan dan kenormatifan, yang jika terlebih dahulu dipahami dengan mengesampingkan yang ala, bisa otomatis berakhir dengan keburukan. Dalam praktik Hermeneutik, memahami berbeda dengan mengetahui. Orang bisa memiliki banyak pengetahuan, tapi sedikit pemahaman. Dengan demikian, yang baru mengetahui, belumlah memahami.

Becik dadi bekas gali ketimbang dadi mantan kiai (lebih baik menjadi bekas gali ketimbang jadi mantan kiai).” Begitulah ustad di kampung sering mengatakan.

Maka dengan memahami “yang ala” terlebih dahulu, manusia diajak untuk melihat sisi bahwa ada hal-hal tidak ideal yang berkelindan dalam kehidupan. Jika ala dimaknai sebagai hal serbaburuk, atau dalam konteks mendasar adalah menyakiti, membuat susah, dan menyengsarakan liyan, maka sebagai manusia yang diberi kewarasan berpikir, maka janganlah tumindak ala. Itulah konstruksi berpikir yang ditanamkan teks Pangkur tersebut.

Liyan dalam konteks Jawa pun tidak sekadar dipahami sebagai “yang lain”—seperti halnya the others dalam bahasa dan budaya Inggris. Liyan bukan hanya wong liya, “orang selain aku”. Tidak pula Wong Njaba, novel Orang Asing karya Albert Camus (L’Étranger dalam bahasa Prancis) yang diterjemahkan Revo Arka Giri Soekanto dalam bahasa Jawa namun kurang bagus itu.

Liyan adalah sesama, yang bisa dipahami secara luas: sesama manusia, sesama makhluk ciptaan Tuhan, sesama penghuni bumi. Karena itu dalam budaya Jawa berlaku ajakan untuk selaras dengan liyan, antara lain, aja gawe sengsaraning liyan dan amemangun karyenak tyasing sasama.

Maka, becik dalam konteks ini adalah hal yang sudah semestinya. Becik adalah “kesalehan normatif” yang didapat dari hasil memahami realitas objektif “yang ala”. Becik adalah keniscayaan karena keberadaan ala.

Dalam konteks saat ini pula, ala di bagian lain tak sekadar dimaknai sebagai “yang buruk”, namun juga “yang lain”: di luar aku, kami, mayoritas. Ala adalah the others yang bukan jadi bagian dari kami. Ia salah dan mesti dikalahkan. Politik mayoritas ini pada akhirnya melahirkan politik identitas untuk meraih dan melanggengkan kekuasaan. Mereka membangun narasi besar bahwa menjadi bagian dari aku dan kami yang becik akan mengalahkan mereka yang ala itu. Inilah akar dari kegaduhan panggung politik kita belakangan ini.

Karena itulah teks pada baris berikutnya buru-buru mengingatkan kita untuk tetap mengukuhi adat dan tatakrama: adat waton puniku dipun kadulu/ miwah ta ing tatakrama. Pada konteks inilah, Jawa mengajarkan kita untuk reflektif. Di satu sisi, kita diajak untuk mengenal ala terlebih dahulu ketimbang becik. Namun di sisi lain, Jawa mengajak kita untuk tidak secara sembarangan melanggar adat dan tatakrama.

Jawa mengajak menyelami ala dan becik tanpa mengenal waktu: den kaesthi siyang ratri. Dalam Jawa, kedua hal itu bukan semata-mata sebatas hitam dan putih. Keduanya adalah loro-loroning atunggal: ada ala maka ada becik, tidak ada becik jika tidak ada ala. Maka dalam titik inilah Jawa mengajak masyarakatnya untuk melihat diri pribadi masing-masing untuk sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada yang sempurna: “Kurangku dadi luwihmu, semono uga suwalike.”

Teks Pangkur di atas mengajak kita untuk senantiasa waras dan reflektif sebagai manusia. Jika sudah tak punya kemampuan untuk menengok dan menertawakan diri sendiri sebagai sarana refleksi, itu berarti kita sudah jauh dari nalar sehat dan mesti bersiap menyambut ketidakwarasan.

Dhoni Zustiyantoro

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s