Ketika “Panjebar Semangat” Membela Semen

Paling lucu, pabrike semen ana dhaerah Rembang, kok demone ana Palembang. Dupeh padha dene nganggo “mbang”-e ngono apa?

– Panjebar Semangat, No. 14, 8 April 2017

 

TULISAN berjudul “YU PATMI BANTENE DEMO NYEMEN SIKIL ING ISTANA: Nulak Madege Pabrik Semen Tiwas Mung Nyenyiksa  Awak” yang terbit di majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat itu menggelitik saya. Tulisan berformat opini yang ditulis oleh Gunarso TS itu subjektif, mengabaikan fakta historis, dan tak melihat polemik pendirian pabrik semen di Rembang, Jawa Tengah, secara komprehensif. Untuk itu, saya perlu menulis catatan ini sebagai pengimbang, atau pembanding—terutama bagi mereka yang tak mengikuti konflik itu.

Majalah Panjebar Semangat menyebut Patmi (48), yang meninggal dalam aksi mengecor kaki di depan Istana, Jakarta, 21 Maret 2017, sebagai korban tindakan yang tidak sepatutnya dilakukan. Dalam tulisan itu disebut, selain menyiksa diri, aksi tersebut juga dinilai sia-sia karena “pabrike wis dadi!”, pabriknya sudah jadi!

Ditulis pula, masyarakat, aktivis, hingga mahasiswa yang melakukan aksi di berbagai lokasi, adalah “korban yang diperalat” Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). “Bareng ing Palembang, iku mung petani abal-abal, mahasiswa sing gelem-geleme diperalat Walhi (Wahana Lingkungan Hidup). Padha dipacaki sandhangane wong tani, ning kulite resik-resik wong jan-jane ora atul karo tandur lan macul. Paling lucu, pabrike semen ana dhaerah Rembang, kok demone ana Palembang. Dupeh padha dene nganggo “mbang”-e ngono apa?” (Panjebar Semangat, hlm 7).

Tak Dipatuhi

Kita mesti melihat masih berlangsungnya aksi perlawanan warga Rembang—atau siapa pun yang mengatasnamakan diri dan menjadi bagian dari warga Rembang—sebagai akibat tidak dipatuhinya putusan Mahkamah Agung terkait pembatalan izin pendirian pabrik yang dioperasikan oleh PT Semen Indonesia itu. Pada 11 Oktober 2016, MA telah membatalkan izin pabrik yang dilaporkan melalui objek sengketa dengan SK Nomor 660.1/17 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan di Kabupaten Rembang tertanggal 7 Juni 2012.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, sebagai “penguasa wilayah”, tak kurang cara. Ia “melawan” putusan itu dengan membuat kebijakan sendiri dengan menerbitkan izin untuk mengatur kegiatan penambangan dan pembangunan pabrik semen di Rembang yang dituangkan dalam Keputusan Gubernur Nomor 660.1/6 Tahun 2017. Keputusan Gubernur ditandatangani Kamis, 23 Februari 2017.

Kalah di tingkat daerah, warga wadul kepada Presiden Joko Widodo dengan cara mengecor  kaki. Harian Kompas (22 Maret 2017) menulis, petani Kendeng menyatakan akan terus menyuarakan penolakan terhadap pendirian pabrik semen pelat merah itu. Kematian Patmi, justru makin mengukuhkan semangat perlawanan terhadap pembangunan pabrik semen. “Dengan adanya peristiwa ini, semoga pemerintah, terutama Presiden Joko Widodo, semakin tahu betapa besar perjuangan ibu-ibu Kendeng mempertahankan sampai-sampai merenggut nyawa mereka,” ujar Gunritno, perwakilan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng.

Menurut Gunritno, warga akan tetap berunjuk rasa sampai tuntutan pencabutan izin pabrik semen dibatalkan (Kompas, 21 Maret 2017). Namun demikian, pemerintah menghentikan penambangan sementara hingga terbitnya kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) baru.

Foto halaman 1 Harian Kompas 23 Maret 2017 memuat Gunarti, seorang petani di Kendeng memberikan kertas berisi tembang Pangkur kepada Joko Widodo. Presiden mengatakan persoalan daerah tak harus diselesaikan oleh pusat, dalam hal ini presiden. Ia mempertanyakan jika semua persoalan dibawa ke pusat, lantas di mana peran pemerintah daerah?

Maka sesungguhnya perlawanan oleh rakyat menunjukkan bahwa negara belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat. Keinginan masyarakat Rembang yang menolak pendirian pabrik semen—dengan tujuan menjaga kelestarian alam—tiada lain mesti dilihat sebagai “kemauan orang-orang yang ingin menjaga alam secara nyata”. Tujuan sederhana yang jauh dari faktor ekonomi kapitalistis itu mesti dilihat melalui konstruksi berpikir masyarakat yang mengukuhi alam tidak hanya sebagai tempat tinggal, namun sebagai sarana mereka mempertahankan kehidupan.

Secara antropologis, kehilangan sawah dan ladang akan membuat mereka kehilangan eksistensi. Karena tanah, berikut air dan hasil bumi, adalah gantungan hidup mereka sebagai orang Jawa yang kurmat marang alam. Setiap hari, masyarakat mengakrabi alam, berinteraksi, dan memetik hasil sambil terus menjaganya dengan harapan keturunan mereka kelak tetap bisa menikmati. Toh jika tak menjadi petani, kelak warisan kelestarian alam itu bisa dinikmati dalam wujud lain: sumber air yang tak kurang, hijau pegunungan, udara yang tak tercemar, sekaligus mendukung kemandirian pangan.

Representasi “Negara”

Praktis, pendirian pabrik semen—yang oleh masyarakat penolak disebut tidak hanya bakal menghilangkan sawah, tanah, dan sumber air tapi juga merusaknya—adalah “musuh bersama” yang mesti dilawan secara bersama pula. PT Semen Indonesia, sebagai representasi “negara” karena merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tak menyentuh aras antropologis lebih-lebih kebudayaan dan justru mengabaikannya.

Bahkan, mengutip CNN, Kementerian BUMN menegaskan operasional pabrik PT Semen Indonesia tetap jalan meski nantinya hasil KLHS terbaru menyebut perusahaan tidak bisa melakukan kegiatan tambang di daerah itu (http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170411124445-92-206586/kementerian-bumn-jamin-pabrik-semen-rembang-tetap-beroperasi/). Isu lain yang juga belakangan dikembangkan adalah pabrik di Rembang diyakini mampu mncegah agar negara kelak tidak mengimpor semen dari luar negeri.

Tagline “Ibu Bumi Wis Maringi, Ibu Bumi Dilarani, Ibu Bumi kang Ngadili” yang acap mereka gaungkan melalui aksi maupun digunakan dalam berbagai sarana penyampaian pendapat (kaus, poster, meme di jejaring sosial), adalah puncak ekspresi masyarakat penolak yang “menyerahkan” permasalahan kepada “Ibu Bumi”: semesta, jagat, alam. Dalam konteks inilah sebenarnya konsep memayu hayuning bawana, menjaga dan memperindah dunia, ingin dibumikan.

Baca Juga: Sukinah: Kami sedang Melawan Kebatilan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s