Bahasa Jawa di Persimpangan Zaman

KEBIJAKAN Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang tidak mewajibkan pelajaran Bahasa Jawa masuk dalam ujian sekolah kelas XII, praktis mengancam kelangsungan bahasa ini. Lantas, masihkah kita berharap bahasa Jawa menjadi salah satu pilar internalisasi karakter dan nilai moral generasi penerus, seperti yang selama ini diharapkan? Masihkah berguna dan diperlukan peringatan Hari Bahasa Ibu setiap 21 Februari? Desakan untuk tetap mengajarkan pelajaran tersebut sudah mengemuka di sejumlah media massa.

Harian ini menulis, justru diperlukan adanya penguatan terhadap pelajaran yang pada pelaksanaan di Jawa Tengah menjadi muatan lokal melalui Peraturan Gubernur 57/2013 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 9/2012 tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa. Komisi E DPRD Jateng bersama Dinas Pendidikan Jateng dan Dewan Pendidikan Kota Semarang, mendorong evaluasi sekolah yang tak mengajarkannya dua jam/minggu pada jenjang SD, SMP, dan SMA/sederajat (SM, 27/1 dan 14/2).

Dengan kata lain, bahasa Jawa adalah pelajaran penting sehingga tidak ada alasan mengurangi atau menghilangkannya. Yang lebih dibutuhkan justru penguatan melalui berbagai upaya. Guru di sekolah, orang tua di rumah, dan masyarakat luas, mesti bersama menggunakan bahasa Jawa sebagai moda ungkap sehari-hari untuk meningkatkan ketertarikan kawula muda menuturkannya.

Hanya dengan cara ini kita memberi daya hidup bahasa Jawa sekaligus menjadikannya tetap kontekstual, atau dalam bahasa anak muda: kekinian! Upaya itu perlu menjadi gerakan bersama karena di sisi lain, alih-alih melestarikan dan mengembangkan produk kultural itu, berbagai komponen yang bersinggungan langsung dengan bahasa ini tak punya daya kreatif memadai untuk membuatnya makin digemari.

Jika diibaratkan, bahasa Jawa dan generasi muda kini ibarat jauh kendang dari penari. Surat Edaran Gubernur Jateng Nomor 430/9525 tertanggal 7 Oktober 2014 yang di dalamnya terdapat imbauan berbahasa Jawa tiap Kamis, bak angin lalu.

Tak ada sanksi memadai bagi organisasi perangkat daerah yang mbalela. Alih-alih berbahasa Jawa, rapat dan pertemuan setiap Kamis (terkadang) hanya dibuka dengan kalimat pembuka berbahasa Jawa sebagai formalitas. Bahkan, ada pula instansi yang menghindari kegiatan di hari tersebut untuk menghindar dari kewajiban berbahasa Jawa. Realitas faktual yang semakin menambah deret panjang ironis bahasa Jawa.

Kalangan Muda

Rohmadi (2007) mencatat, bahasa Jawa semakin jauh dari generasi milenial. Meskipun dalam kehidupan sehari-hari mereka masih menggunakan bahasa Jawa, dalam lingkungan yang seharusnya menggunakan bahasa Jawa krama, tidak semuanya dapat menggunakan dengan baik. Di lingkungan sekolah, tempat mengaplikasikan dan sebagai kawah candradimuka, siswa masih juga enggan berbahasa Jawa.

Industrialisasi media dan perkembangan teknologi informasi, semakin menyampingkan keingintahuan dan semangat belajar yang muda untuk berbahasa Jawa. Tentu saja, alih-alih beranggapan moda ungkap itu tak lagi relevan dengan kondisi kekinian, bahasa Jawa dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Lebih jauh, bahasa Jawa tak lagi mampu menjadi media ekspresi yang muda dan dinamis.

Dalam konteks inilah media perlu memberi porsi memadai untuk mendukung kebudayaan Jawa. Hal itu dirasa penting itu tidak sekadar memperlihatkan, tetapi juga memperkukuh jati diri sebagai upaya internalisasi nilai kebudayaan. Pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Jika memang tak pernah mengapresiasi, jangan harap bahasa sebagai produk budaya Jawa bakal ngrembaka nut lakuning jaman.

Peran itu bisa memberikan porsi penayangan cerita cekak, gurit, maupun esai. Harian ini mengambil peran melalui kolom ”Rame Kondhe” (bahasa Jawa semarangan) tiap Senin di Semarang Metro dan ”Pamomong” di Edisi Minggu. Penguatan juga dilakukan berkala melalui Kongres Bahasa Jawa (KBJ) dan Kongres Sastra Jawa (KSJ) tiap lima tahun sekali.

Sekalipun diadakan dua ”kubu” berbeda, keduanya memiliki misi besar yang sama: memberi daya hidup terhadap bahasa- sastra Jawa, berupaya mengembangkan sekaligus mengupayakan langkah taktis melalui rekomendasi kepada pemangku kepentingan agar bahasa-sastra ini tak cepat masuk liang lahat. Bahasa Jawa bukanlah bongkah keangkuhan antimodernisasi yang terbungkus spirit keadiluhungan.

Kalaupun identik dengan orang tua dan ndesa, maka sudah saatnya Jawa mengambil hati yang muda agar melu handarbeni. Bukan saatnya lagi untuk saling menyalahkan, namun lebih bermakna bila kita menjaga dan ikut ambil bagian dalam upaya menghadirkan kejawaan biar tak sirna. Sebab, meminjam ungkapan Triyanto Triwikromo, generasi kita pada detik ini adalah generasi the net and the next.

Hari Bahasa Ibu tahun ini momen tepat untuk melihat sampai di mana upaya memperjuangkan bahasa Jawa yang sedang di persimpangan zaman. Tepat kiranya di momen ini, ketika pelajaran Bahasa Jawa dikesampingkan di sekolah, kita mesti segera menjawab pertanyaan: ”Hendak kubawa ke mana bahasa Jawa?” (21)

Dhoni Zustiyantoro, wartawan Suara Merdeka, Ketua Kongres Sastra Jawa IV

Terbit di kolom “Wacana Nasional” Harian Suara Merdeka, 21 Februari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s