Perampasan Buku dan Perilaku Tidak Bisa “Move On” dari AADC 2

SEMOGA saja analogi saya ini keliru. Jika orang-orang pintar identik dengan aktivitasnya membaca buku, maka mereka yang “tidak pintar” adalah orang yang tidak gemar membaca buku. Dalam alam pikir saya, “tidak gemar membaca buku” bisa disebabkan beberapa hal. Mungkin bisa karena mulanya tidak punya kesempatan membaca, tidak membeli dan tidak meminjam buku, atau karena memang tidak ingin membaca buku. Lalu, apa hubungan masalah ini dengan Cinta dan Rangga, dua tokoh yang dua kali ciuman basah di AADC 2 itu? Ah, sudahlah…

Bagi mereka yang tidak memiliki kesempatan membaca buku, mungkin karena kesibukan, segala informasi terkait buku bisa diakses melalui media massa cetak maupun elektronik. Resensi buku terbaru segera bisa dibaca setelah buku terbit. Bahkan, pada beberapa kasus, resensi sudah disiapkan atau dipesan oleh penulis buku untuk disampaikan kepada pembaca bahkan ketika buku belum diterbitkan. Dengan hanya membaca resensi, pembaca sudah “membaca secara keseluruhan” buku setebal ratusan halaman, berikut kekurangan dan kelebihannya—tentu saja dari sudut pandang peresensi.

Membaca buku pun sebenarnya tak harus dengan cara terlebih dahulu memiliki buku. Kita bisa datang ke perpustakaan, mengunduh e-book di internet, atau datang ke rumah teman yang punya banyak buku untuk meminjam dan membacanya. Jika tak punya teman yang punya banyak buku, mungkin karena rumahmu jauh di pelosok dusun, berjuanglah menuju kota.

Ya, mirip-mirip perjuangan Rangga yang memutuskan untuk terbang dari New York ke Yogyakarta dan akhirnya ketemu Cinta itulah….

Maka pergilah ke toko buku untuk membaca buku yang tidak tersegel. Lumayanlah, meski gak ketemu sama Cinta, kamu bisa membaca di antara hawa nyes pendingin ruangan toko buku. Syukur-syukur kamu bisa ngecengin cewek-cewek ABG yang lagi nyari teenlit kegemaran mereka. Sudah dapat pengetahuan, dapat pula cewek idaman. Alamak!

Nah, persoalannya, ketidakgemaran membaca buku juga disebabkan oleh faktor ketidak-inginan untuk membaca buku. Ini parah banget. Bayangin aja, kamu benci banget sama cewek, misalnya Cinta—yang tak akan bisa diperankan orang selain Dian Sastro itu, dan kamu dipaksa buat jatuh hati sama dia. Kan sulit banget gitu….

Analogi yang terakhir itu maksa banget. Lupakan.

Dan, seminggu belakangan ini, muncul kembali satu hal fenomenal yang dulu pernah hits di era Orde Baru. Kalau saja ketika itu sudah ada media sosial serupa Twitter, Faceboook, IG, dan sejenisnya, pasti jadi trending topic selama berhari-hari, deh. Tapi, kamu-kamu yang coba ikutan nyinyir pasti kebanyakan akan pakai akun anonim. Ya, bayangin aja kamu hidup di era 70—90-an. Bisa-bisa kamu didata sama Kamtibmas, dipanggil, atau parahnya diilangin karena sudah bikin kegaduhan dan mengganggu stabilitas nasional!

Udah deh, jangan bayangin wajah Pak Harto gitu… Wkwkwkwk…

Oke. Salah satu hal paling parah yang pernah dilakukan pada masa Orde Baru, dan ternyata berhasil diwariskan hingga kini, adalah perilaku tidak gemar membaca buku ditambah dengan kegemaran untuk melarang orang membaca buku. Sebenarnya, mungkin, tak jadi soal kalau pelakunya adalah segelintir orang yang terkumpul dalam sebuah perkumpulan, dalam hal ini macam aliran sesat gitu. Tapi persoalannya, itu dilakukan oleh negara. Ya, aku ulang, oleh NEGARA, bro!

Buku yang dianggap “berbahaya”—mungkin karena bisa melacak kamu yang lagi berduaan sama cewek lain—disita dari toko buku. Puluhan judul buku tersebut diangkut, sampai-sampai toko buku besar pun untuk sementara waktu tidak menjualnya.

Padahal, kamu tahu sendiri jika buku memberi sumbangsih pada ilmu pengetahuan. Seorang pembaca buku pasti akan paham, atau pernah membayangkan, betapa sulitnya menerbitkan buku. Penulis harus memulainya dari riset, ngumpulin bahan atau referensi yang relevan, menulis, mengedit, dan menghubungi penerbit.

Selesai? Belum, Jenderal! Tidak semua penerbit begitu saja mau menerbitkan naskah yang sudah jadi. Selain melihat kualitas tulisan, penerbit juga akan melihat siapa penulisnya. Belum karuan juga buku itu laku di pasaran. Nasib paling ngenes: sudah dipajang di rak buku, dirampas pula. Alamak!

Nah, jika demikian, mungkinkah kita melawan? Emang gak takut sama bedil? Gimana caranya melawan?

Maka, yuk, kita ajak Pak Presiden Jokowi buat nonton AADC 2. Eits… Ini penting, bro! Kita harus mulai dulu dari Pak Jokowi. Ya, lewat soft reconciliation macam ini, dikit-dikit kita ajari para perampas buku buat tahu kalau Rangga itu suka baca puisi-puisi Aan Mansyur dalam buku Tidak Ada New York Hari Ini, yang membius itu. Setelah beliau, kita perlu ajak Menkopolhukam, Menteri Pertahanan, sampai Kapolri, buat nonton. Gak harus rame-rame, sih. Tapi perlu disediakan ruang dan waktu dan memastikan mereka bener-bener nonton itu film.

Tujuan paling simpelnya: ngajak mereka untuk tahu isi film itu. Biar gak dirampas juga sih…. Khawatir aja.

Selama proses menonton, kita perlu menjadi pemandu yang baik, yang memberi penjelasan kepada mereka secara sistematis dan efisien dengan pendekatan keamanan nasional. Salah satunya, kenapa Cinta masih menyimpan foto Rangga di antara tumpukan buku.

Ya, karena Cinta dan Rangga masih saling menyimpan rasa meski telah melewati ribuan purnama….

Pak, baca buku, Pak! Baca buku!

16 Mei 2016

 

Advertisements

One thought on “Perampasan Buku dan Perilaku Tidak Bisa “Move On” dari AADC 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s