Kehilangan

widodo prasetyo

Widodo Prasetyo

 

TAK ada yang berharap kehilangan orang terdekat. Tak ada duka terdalam kecuali kehilangan. Tapi mungkin Tuhan menciptakan kehilangan yang kebetulan dan serbamendadak itu agar kita terus mengingatnya.

Sosok Widodo Prasetyo yang saya kenal adalah pribadi tangguh. Yang tergambar dari awal perkenalan dengan lelaki kelahiran Karanganyar ini adalah kendel. Dalam posisinya sebagai Wakil Kepala Biro Suara Merdeka di Semarang, dia kerap nataki banyak hal terkait pemberitaan.

Saya tak paham benar data tentang dirinya. Di awal keterlibatan saya secara intens di Suara Merdeka, dia termasuk orang pertama yang membimbing dan mengarahkan. Dia meminta saya untuk kritis, mengikuti masalah-masalah perkotaan, dan memberitakan sesuai fakta. Saya mengiyakan.

Widodo adalah kakak bagi saya. Ketika menemui kendala dalam peliputan di lapangan, dia langsung mengarahkan. Bahkan dia juga acap berkata siap untuk ndhadhani kalau ada siapa pun yang mencari masalah terhadap hasil pemberitaan—meskipun belum benar-benar terjadi. “Sejauh itu fakta, kita beritakan,” dia kerap berujar demikian, pada saya.

Dia adalah pria ramah. Setiap sore menjelang tenggat pengiriman berita, Widodo kerap menemani beberapa kawan-kawan. Dia sering tiba-tiba duduk di samping seorang kawan, bukan untuk melihat apa yang diketik, tapi mengajak ngobrol ngalor-ngidul. Apa yang dia katakan justru kerap tak menyangkut kejadian-kejadian dalam hari itu. Dia memilih memilih obrolan ringan.

Dan, ketika dia (di)pindah dari Wakil Kepala Biro Semarang ke Surakarta, saya sempat kaget. Tak cuma karena alasan kedekatan kami yang telah terbangun itu, tapi karena berpikir bahwa dia pernah bercerita sudah membeli rumah secara kredit di kawasan Tembalang. Beberapa saat setelah dia di Surakarta, dia menyilakan saya untuk menempati rumah itu. “Dipanggoni wae, timbang rusak. Mengko takomongke nyonyaku nek gelem. (Ditempati saja, daripada rusak. Nanti saya sampaikan istri kalau mau),” dia berkirim pesan BBM.

Entah kenapa kami sering berkirim pesan dan bercanda, entah secara langsung atau lewat layanan pesan itu, termasuk ketika dia sudah di Surakarta.

Awal November, dia meminta saya ke Surakarta untuk liputan Kongres Kebudayaan Jawa. Setelah sedikit “berdebat” aku menyerah. Aku bertanya apakah di sana belum cukup kawan untuk meliput acara itu? Dia tak menjawab. Sesampai di sana, kami juga selalu ngobrol berlama-lama di Biro Solo Metro. Di depan kantor itu, terdapat pedagang angkringan yang menu-menunya sungguh nikmat.

Lagi-lagi saya harus berkata dia orang baik. Ketika itu dia memintaku untuk menginap di sebuah penginapan di pusat kota. Padahal aku bilang bisa tidur di mana pun tempat, mungkin di Biro. Bahkan ketika dia bilang memiliki sebuah kamar kos di dekat Biro, saya meminta untuk menginap di tempat itu saja. Tapi dia bilang, “Aja, panggone panas. Mesakke. (Jangan, tempatnya panas. Kasihan)”.

Pada malam pertama liputan (10/11/2014), saya makan sega liwet bersama dia di depan gerbang kampus ISI Surakarta. Kami khidmat karena itu adalah pertemuan pertama semenjak dia pindah ke kota itu. Pada malam itu, dia sekaligus akan pulang ke Karanganyar. Hampir setiap hari dia pergi-pulang dengan waktu tempuh masing-masing 1,5 jam.

Kutunaikan tugasku di kota ramah itu dua hari berikutnya. Pada malam terakhir liputan, saya berpamitan lewat pesan BBM karena acara selesai terlampau larut, begitu juga penulisan berita. Tentu dia sudah pulang dari Biro. Saya pun menginap semalam lagi di sebuah penginapan di Jl Slamet Riyadi. Tugas selesai. Pagi harinya saya meluncur ke Magelang untuk tugas meliput Borobudur Writers & Cultural Festival.

Senin (8/12/2014), dia meminta nomor sinden yang bakal diberikan anugerah pada sebuah acara di gubernuran pada Kamis (11/12) malam. Di antara penerima itu adalah sinden dari Surakarta dan Boyolali. Setelah kumintakan pada panitia dan kukirim ke dia, seperti biasa, kami melanjutkan obrolan via teks itu dengan saling bertanya kabar dan bercanda.

Dia meminta diikutkan jika ada proyek crita cekak (cerita pendek dalam bahasa Jawa) atau tulisan berbahasa Jawa. Satu hal yang aneh menurut saya, meskipun dia sering bercerita suka membaca majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat.

Saya juga terlanjur tak percaya dia memiliki penyakit berat. Tapi kabar pagi hari itu menjadikan saya mengamini kembali bahwa kuasa Tuhan di atas segalanya. Pagi hari setelah sehari kami saling bertanya kabar dan bercanda itu, muncul kabar dia meninggal. “Widodo Prasetyo meninggal Selasa 9 Des pada 01.30 di Tawangmangu.” Tulisan itu masuk ke grup BBM Biro Kota.

Saya tak percaya dia sudah tiada. Widodo Prasetyo terus ada. Pada setiap berita-berita saya, spirit itu bakal selalu ada.

Matur nuwun, Mas Wid. Jembar papan Jenengan wonten mrika. Sugeng pinanggih malih. Adhimu lanang, Dhoni Zustiyantoro.

2 thoughts on “Kehilangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s