Mendekatkan Sastra Jawa kepada Kaum Muda

widyo leksono babahe semarang

Widyo “Babahe” Leksono, Penerima Anugerah Prasidatama 2014 kategori Pegiat Sastra Jawa dari Balai Bahasa Jateng. Foto: Dhoni Zustiyantoro

MENERIMA anugerah Prasidatama 2014 kategori Pegiat Sastra Jawa dari Balai Bahasa Jawa Tengah, Senin (3/11) lalu, tidak serta merta membuat Widyo Leksono berbesar hati. Lelaki yang hampir seluruh rambutnya telah memutih itu justru menganggap anugerah tersebut adalah tantangan untuk lebih mendekatkan sastra Jawa kepada generasi muda.

”Saya justru bingung. Penghargaan kemarin itu untuk saya atau karya-karya saya?” ujar Babahe, sapaan akrab Widyo, ketika ditemui Suara Merdeka di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Jalan Sriwijaya, kemarin.

Pria kelahiran Jepara, 19 Desember 1960, itu mengatakan orang-orang yang berkecimpung di dunia sastra Jawa harus lebih mengambil peran. Karena, menurut Babahe, para orang tua kerap menyalahkan anak-anak yang lagi mengenal berbagai ragam karya sastra itu.

”Tidak sedikit orang-orang mumpuni justru hanya maido saat melihat anak muda belum benar dalam berbahasa,” tuturnya. Babahe memilih jalan perlawanan terhadap keadaan semacam itu dengan cara mendongeng ke berbagai tempat. Dia juga sering membuat acara apresiasi supaya mereka mau dan berani untuk membaca geguritan, nembang macapat, dan berbicara dengan bahasa Jawa.

Paham Lapangan

Penulis buku kumpulan geguritan Blakotang (2012) itu juga berencana untuk berkeliling ke berbagai sekolah dasar lewat program ”Sabtu Bercerita”. Acara yang akan dia biayai sendiri tersebut bertujuan untuk mengakrabkan siswa dengan cerita berbahasa Jawa.

”Prosesnya lama kalau menunggu peran pemerintah dan pihak terkait. Mereka seharusnya jemput bola dan paham terhadap kondisi di lapangan,” katanya. Selain itu, dia mendesak pemerintah untuk lebih memberi perhatian. ”Perhatian tak harus berupa penghargaan, tapi kalau mau nilikiacara-acara sastra, kami wis seneng,” ujarnya.

Tidak hanya dengan membuat kegiatan, Babahe juga bergiat lewat tulisan. Selain buku, sejumlah naskah lakon telah ia buat dan dipentaskan berbagai kelompok teater, di antaranya Wedi Disunati (2010), Maknane Kekancan (2010), dan Genaon Kentrung (2007).

Dengan cara itu, Babahe berharap semakin banyak kawula muda yang berminat terhadap sastra Jawa. ”Mereka tak sayang karena tak kenal,” ujarnya. Dia juga berharap pemerintah lebih peduli dengan cara melibatkan para pelaku ketika membuat program kerja.

”Jangan hanya membuat acara-acara formal yang dihadiri oleh pejabat dan orang penting tapi tak ada gunanya,” ujar Babahe. (Dhoni Zustiyantoro)

*Harian Suara Merdeka, halaman “Semarang Metro”, 6 November 2014

One thought on “Mendekatkan Sastra Jawa kepada Kaum Muda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s