Lima Buku Prosa dan Kusala Sastra Khatulistiwa 2014

Saya masih ingat status Facebook prosais kenamaan Tanah Air, Linda Christanty, yang menyita perhatian banyak orang. Status tersebut diunggah sesaat setelah tim juri Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2013, yang tahun ini berganti nama menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa, mengumumkan pemenang dari ajang tahunan itu. Pada kategori puisi, Linda menjagokan buku puisi AS Laksana, yang kemudian pada awal tahun ini dianugerahi Majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik. Padahal pada KLA 2013, juri memenangkan Museum Penghancur Dokumen karya Afrizal Malna.

Kekecewaan Linda tak berhenti di situ. Ia juga menyoal kemenangan Leila S Chudori pada kategori fiksi dengan novel Pulang. Menurutnya, ada salah seorang juri yang pernah gencar mempromosikan novel tersebut. Linda menganggap terjadi ketidaknetralan dalam penjurian. Alhasil, tim juri pun harus memberi sejumlah klarifikasi atas sanggahan itu.

Pada ajang serupa yang bakal digelar kembali 20 November mendatang, kita, atau saya pribadi, tidak berharap ”kasus” serupa terjadi. Penghargaan sastra, yang memang di Tanah Air tak banyak dari sisi jumlah, digadang-gadang memberi daya hidup tersendiri bagi jagad karya sastra kita. Dan, bagaimana peta kontestasi antarkarya pada tahun ini? Tentu saja saya tidak akan membicarakan banyak hal dalam ruang sempit ini. Tapi yang jelas, lima buah buku fiksi, yang terdiri atas novel dan kumpulan cerita pendek, adalah karya yang benar-benar layak untuk dipilih dalam Kusala Sastra Khatulistiwa 2014. Dalam setiap gelaran, panitia mematok karya yang masuk dalam penjurian adalah buku terbitan 12 bulan terakhir.

Kelima buku fiksi tersebut merupakan hasil penjaringan dari 10 buku yang sebelumnya telah pula dipilih. Kelima buku fiksi tersebut adalah Kepada Apakah karya Afrizal Malna, Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu karya Norman Erikson Pasaribu, Surga Sungsang karya Triyanto Triwikromo, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan, dan Semua untuk Hindia karya Iksaka Banu.

Sejumlah diskusi, resensi, dan kritik sastra bermutu terhadap kelima buku tersebut juga telah hadir: untuk ”menguji” karya itu sendiri sekaligus mengajak kita memahami dan tidak berposisi sebagai seorang Linda yang mengabaikan banyak hal dan cenderung menutup mata terhadap yang lain. Alih-alih hendak menyajikan keunggulan masing-masing, semoga tulisan ini juga tak berpretensi memuji secara gelap mata.

Filsafat dan Seks

Memang tidak mudah memahami novel Kepada Apakah karya Afrizal Malna. Novel ini dibuka dengan kalimat, ”Apakah yang kamu pahami tentang apakah?”, sebuah pertanyaan ujian yang diajukan oleh dosen Filsafat Etika kepada Ram, tokoh novel ini, seorang mahasiswa filsafat semester pertama. Dan, pertanyaan itu terus terngiang di telinga Ram hingga perjalanan membawanya ke Ternate.

Sepanjang penceritaan, novel setebal 302 halaman ini bertebaran kalimat puitis nan falsafi, termasuk mengkritisi keadaan aktual. Seperti, ”Aku membayangkan sebuah kota tanpa iklan-iklan yang berteriak… Membayangkan sebuah kota yang memberikan ruang dan waktu kepada halaman lamanya yang menyimpan banyak cerita tentang dewi kesuburan…” (hlm. 102).

Dan, Freud agaknya benar-benar tersanjung ketika paham yang ia temukan, yakni manusia tak pernah lepas dari orientasi libidonya, menjadi alur yang dominan dalam novel Eka Kurniawan. Di novel setebal 252 halaman itu, perkara seks menjadi motif utama gerak dan tindakan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Ajo Kawir, tokoh sentral di dalam novel itu mengatakan bahwa, ”Kehidupan manusia ini hanyalah mimpi dari kemaluan kita. Manusia hanya menjalaninya saja.” (hlm. 189). Hal itu mendorong narasi utama dari keseluruhan alur penceritaan.

Perkara seks mula-mula hanya berupa burung Ajo Kawir yang tak bisa berdiri namun kemudian mempengaruhi sikap dan cara pandangnya terhadap kehidupan. Meski begitu, banyak pula muatan moral yang terkandung di dalam novel terbitan Mei 2014 ini. Ya, moral yang bertumpu pada kelamin, yang tentu bukan bagian Eka untuk menjelaskan mana yang baik dan buruk.

Judul buku kumpulan cerpen Norman Erikson Pasaribu boleh jadi memikat: Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu. Di dalam novel terbitan April 2014 itu, Norman banyak berpijak pada hal-hal sederhana namun mampu ia kembangkan dengan apik. Pada cerpen pembuka, ”Tentang Mengganti Seprai dan Sarung Bantal”, misalnya, ia mengubah rutinitas sederhana mengganti seprai dan sarung bantal menjadi demikian bermakna. Bahwa kita kerap mengganti sesuatu yang sudah berbau apak, namun kerap tak mau mengakui: justru sering menyukai bau tak sedap itu…

Sejarah yang Sungsang

Tidak banyak pengarang masa kini yang mampu membuat cerita dengan latar sejarah yang kuat. Triyanto Triwikromo dan Iksaka Banu mungkin adalah dua di antara yang tak banyak itu. Membaca Surga Sungsang dan Semua untuk Hindia seakan membawa kita mundur beberapa zaman dari sisi latar waktu penceritaan. Triyanto, yang oleh banyak kritikus disebut-sebutberkarya pada aras penciptaan ala Gabriel Garcia Marquez, menghadirkan banyak ”kesungsangan” itu sendiri.

Kesungsangan itu mungkin termasuk dari sisi alur cerita yang seperti puzzle. Hal itu karena tiap bagian dari buku ini dapat dinikmati tanpa mengaitkannya dengan bagian yang lain. Ya, layaknya cerita pendek, meski kita diajak menjejaki era berdirinya Tanjungkluwung, masa berdarah 1960-an, penembak misterius pada 1980-an, hingga era sekarang. Semua saling membelit, membawa kita pada suasana jiwa yang tak stabil yang membayang sepanjang cerita.

Hal tak kalah menarik kita jumpai pada 13 cerpen dalam Semua untuk Hindia. Hampir semua tokoh utamanya adalah orang Belanda, satu hal yang jarang terjadi dalam jagat sastra Indonesia. Namun, itu rupanya cara Iksaka Banu untuk memberi sikap kritis terhadap orang Belanda terhadap sikap penjajahan mereka sendiri, sekaligus membuktikan bahwa mereka bukanlah ”Belanda yang sontoloyo” (hlm. 20) dan ”tak bisa menghormati kedaulatan orang lain” (hlm. 64).

Soal buku siapa yang bakal terpilih menjadi karya fiksi terbaik, bagi saya tak jadi soal. Bagi saya, tak berlebihan bila kelima buku di atas tertabalkan menjadi buku fiksi terbaik dalam jagat kesusastraan Indonesia, setidaknya dalam kurun 12 bulan terakhir.

*terbit di kolom ”Serat” Harian Suara Merdeka, Minggu, 19 Oktober 2014

Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s