Menggagas Novel Pengganti Skripsi

UNIVERSITAS Gadjah Mada Yogyakarta memunculkan wacana bahwa novel dapat menggantikan skripsi. Gagasan tersebut dinilai dapat menjadi sarana mendorong kemunculan banyak sastrawan muda berkelas. Hal itu sekaligus menjawab kegelisahan akan minimnya sastrawan sekelas Rendra, Umar Kayam, atau Sapardi Djoko Damono (Koran Tempo, 8 Agustus 2014).

Gagasan itu menarik untuk diperbincangkan dan sudah sepatutnya disambut baik oleh pengajar dam akademisi, tentu yang memiliki program studi maupun fakultas sastra. Betapa tidak, selama ini motivasi untuk menulis fiksi masih minim, bahkan di kalangan mahasiswa dan pengajar sastra di perguruan tinggi. Di kampus, produktivitas kepenulisan kreatif masih menjadi hal mewah. Meskipun terdapat mata kuliah kepenulisan kreatif, namun tuntutan itu seakan berhenti pada tugas. Mahasiswa sastra belum mampu memproduksi sastra, baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya.

Tentu kita tak bisa sepenuhnya menyalahkan perguruan tinggi. Karena telah semenjak lama para penyair yang ambil bagian dalam jagat kesusastraan baik dalam tataran nasional maupun daerah justru tak lahir dari rahim pawiyatan itu. Berharap para lulusan dan, mungkin pengajar di dalamnya, untuk berada pada jalur estetis-kepengarangan ibarat jauh kendang dari penari. Karena mereka dengan mudah bisa berkilah, ”tugas kami mengamati, menelaah, meneliti, mengkritik, bukan menjadi sastrawan…”

Belum Bersambut

Menggantikan skripsi dengan novel maupun karya sastra lain tentu bukan hal yang mustahil. Namun pada kenyataannya, gagasan yang sebenarnya telah lama dan berulang-ulang terlontar ini belum juga disambut baik oleh perguruan tinggi. Alih-alih memberi perhatian, banyak pengajar terjebak pada penelitian sastra yang terbatas pada proyek yang menghasilkan profit. Mereka hanya melakukan telaah secara kondisional: mengkaji sastra jika ada proyek dan pengabdian, mendekati tenggat penerbitan jurnal, atau dikirim untuk ikut diterbitkan dalam seminar sastra.

Sama halnya dengan skripsi mahasiswa, yang digadang-gadang banyak memberi telaah terhadap karya, hanya memenuhi rak perpustakaan. Semenjak selesai diujikan skripsi itu nyaris hanya dibaca oleh penulis, pembimbing, dan penguji. Maka, boleh dikata, keberpengaruhan ”sastra” dari perguruan tinggi hampir bisa dikata gagal dan tak mampu memberi daya hidup terhadap kehidupan sastra itu sendiri. Lantas, patutkah kita berharap dari tempat tersebut sastra bakal tumbuh subur, dengan melegalkan novel sebagai pengganti skripsi?

Tak sulit merealisasikan gagasan besar di atas. Hal yang sama, tentang skripsi yang dapat digantikan dengan karya, jauh-jauh hari telah dilakukan oleh banyak jurusan seni, seperti seni rupa yang meliputi lukis, kriya, patung, hingga desain, termasuk juga seni musik dan tari. Mahasiswa dari pelbagai jurusan tersebut diperbolehkan membuat tugas akhir berwujud karya. Lantas, mengapa sastra belum mampu, untuk menyebut tak berani, melakukan hal serupa?

Tentu dibutuhkan standar agar sebuah ”produk” dianggap mampu mewakili mahasiswa layak dan patut lulus, termasuk melalui pembimbingan dan pengujian oleh sejumlah ahli. Dan, skripsi-lah yang dianggap sebagai produk akhir yang memenuhi standar tersebut. Orientasi kekaryaan, dalam hal ini novel, belum dianggap produk intelektual yang mampu berdaya saing seperti halnya produk seni lain. Novel selalu saja berada pada diskursif cerita rekaan, yang seakan tak layak untuk mengantar kelulusan mahasiswa sebagai kaum intelektual.

Elitisitas skripsi tentu dapat dilihat dari sejumlah teori yang digunakan untuk melakukan kajian. Berada pada ranah ilmiah, ada hal-hal yang dapat dinilai secara jelas, baik dari segi nalar ilmiah, pemilihan dan pengoperasian teori sehingga bermuara pada hasil. Kesemua itu lantas dipertanggunjawabkan pada uji skripsi. Dalam arti, ada kejelasan standar dan mutu yang telah lama dilakukan sehingga muncul. Namun bukan hal yang tidak mungkin menjalankan gagasan di awal.

Libatkan Pengarang

Secara teknis, pembimbingan dalam proses penciptaan novel pun bisa melibatkan pengarang yang dianggap mumpuni, tentu dengan tetap melibatkan campur tangan pihak universitas. Pengajar pun harus bersikap terbuka terhadap pengarang. Hal itu karena, diakui atau tidak, perguruan tinggi justru acap berjarak dengan pengarang. Bukan tidak mungkin peleburan antara pengarang dan pengkaji bisa jadi menimbulkan friksi antara ”yang idealis” dan ”yang akademis”.

Uji ahli pun diperlukan untuk mengukuhkan novel benar-benar layak sebagai sebuah tugas akhir. Dalam tahap ini, selain diperlukan lagi pengarang lain di luar pembimbing, juga dibutuhkan pembaca sastra. Hal itu diperlukan, selain agar novel memiliki standar estetis tertentu, juga sekaligus menepis anggapan bahwa novel hanya sekadar karya rekaan yang bisa dibuat dengan ngawur.

Satu hal paling penting dari gagasan besar tersebut adalah memfasilitasi mahasiswa agar mampu membuat novel yang bisa memberi kontribusi. Itu jika kita ingat bahwa novel pengganti skripsi telah melalui tahapan pembimbingan intensif dan uji ahli juga pembaca sastra. Idealisme pengarang pun jangan ditenggelamkan oleh kekangan para pembimbing. Karena bagaimanapun, dalam proses penciptaan, pengarang selalu ingin mendobrak konvensi atau yang telah lebih dulu disajikan pengarang lain. Pembimbingan bisa lebih diarahkan pada proses kreatif dan pendalaman karakter dan cerita.

Setelah berwujud novel, tugas berikutnya tentu menerbitkannya supaya bisa semakin banyak dikonsumsi khalayak. Mahasiswa tentu berharap karyanya dilirik penerbit besar sehingga dapat menasional, terlebih jika novel yang ia buat memenuhi standar tertentu, apalagi jika pengarang yang terlibat tersohor. Namun tentu tak mudah mencapai tataran tersebut. Cara yang kemudian acap ditempuh adalah menerbitkannya secara self publishing, menerbitkan sendiri.

Sebagai gambaran, jika ditebitkan secara mandiri, sebuah buku dengan ketebalan 150 halaman membutuhkan dana sekitar Rp 800 ribu. Jika menghendaki untuk dicetak lebih, pengarang tinggal mengganti biaya cetak per buku dengan biaya tak lebih dari Rp 30 ribu. Distribusi karya, yang secara langsung berkait dengan pendapatan pengarang, dapat dilakukan secara gerilya. Bisa melalui sentra kebudayaan, diskusi, sarasehan, hingga menitipkannya kepada dosen supaya menjadi salah satu referensi mengajar di kampus.

Biar terus-menerus mendapat perhatian, novel juga harus diperbincangkan dan berada pada ranah kritik dan pengkajian sastra. Dalam hal ini, harus ada peran sinergis dengan para akademisi dan kritikus sastra untuk mendorong kualitas novel pengganti skripsi.

Ya, boleh jadi ketakutan sering terlampau lebih besar dari apa yang bakal terjadi. Terlebih, tak banyak yang berani mengkritisi atau mengubah aturan yang selama ini tercantum dalam sistem pendidikan tinggi.

Sepertinya novel harus menempuh jalan lebih panjang untuk bisa mengganti skripsi.

*Dimuat di kolom “Serat” Harian Suara Merdeka, Minggu, 28 September 2014

Dhoni Zustiyantoro

Advertisements

Rembug Kabudayan, Ana Gunane?

MEH saben taun, pakumpulan kebudayan sing digawe dening pemerintah utawa swasta gawe acara rembug kabudayan lan sajenise. Atusan wong, sing nduweni tata gelar budayawan, sastrawan, nganti ilmuwan padha ngumpul. Sing dirembug bab basa, sastra, utawa kabudayan.

Ing babagan rembug basa Jawa, ing antarane ana Kongres Bahasa Jawa (KBJ) kang nganti seprene wis mlaku nganti limang ubengan. Kang pungkasan, KBJ V taun 2011 mapan ana Surabaya. Acara limang taunan sing diwiwiti 1991 ing Semarang iku rutin dianakake lan dirawuhi dening para pinunjul.

Pancen ora bisa diselaki yen para peserta kongres sing rawuh kabeh ora ana sing ora penting. Kabeh uga nduweni semangat kang padha, yaiku jaga lan ngrembakake basa Jawa supaya supaya tetep lestari. Banjur, saka parepatan iku, bebrayan awam tansah ngenteni apa-apa kang kasil saka rembugan kang kabare ngentekake dana nganti Rp 4 miliar iku.

Ananging, kekarepan kang kaya mangkono kaya-kaya mung adoh kendhang saka penari. Saya suwe sawise rembugan rampung, ora ana tumindak nyata ngenani basa Jawa. Kamangka, kongres wis ngasilake papat rekomendasi sing kudu dilakokake dening pemerintah dhaerah Jawa Timur, Jawa Tengah, lan Yogyakarta.

Umpane, ing kasus paling anyar nalika basa Jawa ngadhepi Kurikulum 2013 kang kabare bakal diilangi, ora ana cawe-cawe saka forum kang gedhene mangkono. Pamikir lan pangandika kaya-kaya anane mung nalika ketemu ana forum. Sawise iku, ora ana gerakan apadene aksi kang luwih nyata kanggo nglakokake rekomendasi supaya bisa luwih manfaat lan ora mung kandheg ing cetakan kertas.

Kamangka, pamulangan basa Jawa ing sekolah kang digadhang-gadhang bisa dadi sarana nglestarekake lan ngrembakake, disawang kudu tansah ana lan aja nganti diilangi. Sanajan saiki wis ana babagan kang rada cetha ngenani nasibe, nanging embuh mengko yen ana owah-owahan kurikulum, sapa sing gelem urun bahu lan pikiran mbelani basa Jawa tetep diwulangake.

Kasunyatan sing kaya mangkono mbuktekake yen saka patemon kang digadhang-gadhang bisa ndadekake maju lan ngrembakane basa Jawa iku ora bisa akeh dikarepake. Asile, kongres ora liya mung dadi sarana ngumpulake makalah lan ora luwih saka sarana kanggo plesiran lan golek proyekan.

Nanging sanyatane isih ana pangangen-angen. Kanggo ‘’nandhingi’’ iku, para sastrawan lan pandhemen basa Jawa banjur gawe kongres tandhingan kang aran Kongres Sastra Jawa (KSJ). Sanajan ora gelem diarani ‘’kongres tandhingan’’, nanging wektune mesthi kok bebarengan karo KBJ. Bedane, para peserta nggelar acara kanhi cara mandiri tanpa ngarepake bantuan saka pemerintah. Asile uga luwih cetha, ing antarane yaiku gawe buku antologi geguritan lan cerkak. Liyane iku, uga ora sithik pengarang kang nerbitake karyane kanthi cara mandiri.

Kedadeyan Maneh?

Kongres kang uga katone bakal gedhe bakal digelar dening Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, wulan November ngarep, kanthi aran Kongres Kebudayaan Jawa 2014. Gedhene acara katon ing antarane saka rembugan kang temane ana pirang-pirang lan ‘’maremake’’: basa lan sastra, seni tradhisi, arsitektur, religi, karya budaya, adat lan tradhisi, kepemimpinan, lan budi pekerti.

Asil sing dikarepake uga ora sembarangan, yaiku bisa ngasilake pamikir kang aktual minangka sumbangan kanggo mangerteni hakekat kabudayan Jawa sajrone ngadhepi era global. Iku dianggep penting supaya kabudayan nduweni ketahanan ngadhepi ‘’budaya asing’’.

Nanging maneh-maneh kita wis ora gampang percaya marang apa kang bakal kasil. Aja-aja, saka acara kang mesthine uga ngentekake anggaran kang ora sithik iku mung mandheg ing tataran wacana. Amarga nganti seprene parepatan kang sajenis, kelebu sarasehan kabudayan, pungkasane mung kanggo nggedhekake rasane dhewe kanthi jargon Jawa kang ‘’adiluhung’’. Asile, ngrumangsani yen duwe posisi kang elit: luwih dhuwur tinimbang kabudayan liyane saindhenging jagad.

Lan apa bakal ana ‘’kongres tandhingan’’ – kaya sing dilakoni dening KSJ? Apa bakal ana patemon kang luwih prasaja nanging ana wujud nyata saka asil rembugan iku? Kita durung mangerteni.

Kaya dene seminar sing dianakake ing Mangkunegaran, minggu kepungkur. Seminar kanthi tema ‘’Reaktualisasi Nilai Luhur Karya Sri Mangkunagara IV’’ iku malah ora kecekel apa kang dikarepake. Para pamicara ora beda mung mindhah referensi saka internet. Ora ana andharan sing bener-bener bisa dadi rujukan lan ndadekake peserta mangerteni ‘’nilai’’ saka karya Mangkunagara sing kaya piye kang isih bisa digunakake ing jaman samengko.

Kang kedadeyan uga padha karo rembug liyane: peserta teka, pamicara menehi ‘’materi’’, tanya-jawab saperlune, banjur rampung sekabehane. Ora ana kang kasil lan bisa dadi cekelan kanggo mujudake upaya kang tenanan. Asile, forum kang niyate bisa ilmiah iku mung kandheg ing tataran wacana lan konseptual.

Pancen, para lembaga pemerintah lan swasta kudune bisa luwih maca kahanan. Rembug kabudayan lan sajenise sejatine ora luwih penting tinimbang tumindak nyata lan ana asile ora ketang sithika kaya ngapa. Iku yen kita tansah ngugemi lan percaya kahanan kabudayan bisa luwih kerumat lan ngrembaka. Uga yen kita tansah nyarujuki yen kabudayan ora uwal saka bebrayan awam.

Kongres, rembug, sarasehan, seminar, ya mung bakal dadi sarana ‘’kapitalisasi’’ nilai: mapanake asil kabudayan ana ing papan kang ora bisa dijamah dening bebrayan kang urip ing pasrawungan global kaya saiki. Pungkasane, kita mung bakal kuwatir marang lunture kabudayan. Aja-aja kuwatir amarga pancen ora bisa srawung.

Kapacak ing Suara Merdeka, 21 September 2014

Dhoni Zustiyantoro