Silaturahmi

HARI Raya Idul Fitri bagi masyarakat Indonesia selalu lekat dengan tradisi meminta dan memberi maaf. Setelah melaksanakan salat id, kaum muslim melakukan agenda wajib: saling sungkem dan mengunjungi kerabat untuk bersilaturahmi. Silaturahmi tak ubahnya upaya untuk mengalahkan sifat keakuan dan membuka diri untuk saling memaafkan.

Di sisi lain, Lebaran tahun ini memiliki keistimewaan. Memasuki Ramadan, masyarakat telah memilih presiden dan wakilnya dengan proses yang demokratis. Nyaris tidak ada konflik berarti dalam proses ini. Dengan berbagai cara, sebagian besar dari kita terlibat aktif di dalamnya melalui media sosial sebagai salah satu sarana dalam menyampaikan dukungan. Setiap waktu, para netizen—pengguna internet—aktif menyuarakan dukungan untuk masing-masing calon pilihannya.

Meskipun kemudian sempat terjadi fragmentasi yang sangat kentara karena “pilihan ideologis”. Karena hanya terdapat dua calon, mereka yang tak mendukung—atau mencemooh—salah satu calon dapat dipastikan mendukung calon yang lain. Alhasil, media sosial pun sempat ramai-riuh dengan “perdebatan”. Masing-masing mengunggulkan calon calon pilihannya. Ya, Lebaran ini adalah kemenangan. Kemenangan karena masyarakata Indonesia atas sebuah “kedewasaan berpolitik”—seperti halnya sering diungkapkan para pengamat politik.

Kini, pilpres telah usai dan KPU telah menetapkan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai pemenang dengan total suara nasional 53,15 persen. Dan, pada Lebaran ini kita ingin iklim persaingan itu mereda. Kita mengharapkan dua pasang capres dan cawapres yang ketika itu bersaing dapat saling berkunjung dan menebar senyum kehangatan. Hal ini penting mengingat hingga setelah KPU mengumumkan hasil rekapituasi suara, kubu Prabowo-Hatta masih “tidak terima” terhadap proses demokrasi ini.

Harapan akan sikap legawa yang digadang-gadang dimiliki pihak Prabowo-Hatta nyatanya tak muncul hingga Lebaran tiba. Mereka masih saja berupaya mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi untuk memperjuangkan apa yang disebut-sebut sebagai “kebenaran”. Koalisi Merah-Putih—gabungan dari berbagai partai pengusung Prabowo-Hatta—mengklaim telah mengantongi bukti adanya dugaan pelanggaran terkait pilpres.

Tak pelak hal ini juga menyulut reaksi netizen. Mereka dengan bebas berkomentar atas pemberitaan—yang kebanyakan didapat dari media daring (online) itu. Mereka kerap bereaksi dengan mem-bully dan terus-menerus berpihak pada pilihan pada capres semula. Hal ini patut disayangkan karena KPU—sebagai lembaga resmi pemerintah—telah menetapkan pemenang pilpres yang hendaknya diterima oleh siapa pun. Untuk itu, diperlukan jiwa kesatria dalam menerima hasil, menerima Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI 2014-2019.

Kita senantiasa berharap kubu Prabowo bisa legawa menerima hasil pilpres 2014. Karena jika tidak, hal ini akan terus-menerus menimbulkan fragmentasi dan kejenuhan publik—sekalipun kita ragu hal itu benar-benar terjadi di kalangan masyarakat kebanyakan dan mungkin hanya terjadi di kalangan elit dan media. Namun lagi-lagi “ikan busuk bermula dari kepalanya”. Kalau para elit dan pengambil kebijakan selalu terjebak pada konflik kepentingan, masyarakat pula yang terkena imbasnya.

Di hari Lebaran, kita ingat pada semangat silaturahmi: meminta dan memberi maaf. Setelah itu, sebagai makhluk yang terus bersinggungan dan saling membutuhkan, tradisi saling mengingatkan menjadi penting adanya. Ya, mengingatkan tentu pula ada caranya. Karena siapa tahu, kesalahan yang diperbuat orang lain adalah akibat diri yang bungkam meskipun telah berhasil melihat kebenaran falsafi.

Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s