Lusa Lebaran

Beranda yang dingin.

Kunanti malam hingga menggigil
yang mengampuniku
hanya sekawanan nyamuk
yang tak mau lagi
menghisap darah dari
kurus tubuh ini.

Jangan kau cari ke mana kebahagiaan
kalau kita tak mampu lagi duduk bersama
jika kau telah lupa ke mana nikmatnya
kehangatan pagi
sambil mencecap kopi.

Tawa-tawa sirna dengan mudahnya
karena kita pula yang membikin
rinai hujan tak lagi
tertawa merdu.

Mengapa pula ia lebih suka memilih haru
sepanjang waktu.

Hujan menyisa gerimis,
gemericik, dan petasan
namun abadi.

Sekaran, 25 Juli 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s