Sukinah: Kami sedang Melawan Kebatilan

tolak-pabrik-semen-rembang-1

Truk melintas di kawasan pembangunan pabrik semen PT Semen Indonesia di Rembang, Minggu (20/7). Foto: Dhoni Zustiyantoro

TRUK yang lewat setiap 10 menit itu tiada hentinya menerbangkan debu di sekitar tenda yang mulai nampak lusuh. Tenda itu terletak persis di pinggir jalan pada ruas jalan terakhir menuju pembangunan pabrik semen oleh PT Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah.

Ada tiga tenda yang didirikan warga. Di dalamnya, Minggu (20/7) siang, terdapat puluhan warga yang semuanya perempuan. Mereka mengisi waktu dengan berbincang, petan, tiduran, atau sesekali memainkan lesung. Panasnya cuaca di dalam tenda tak menyurutkan niat mereka untuk bertahan melakukan aksi perlawanan terhadap pembangunan pabrik semen itu.

Panas bercampur keringat yang saya dan Widodo rasakan setelah menempuh perjalanan dari Semarang selama 4 jam terbasuh oleh hangatnya sambutan mereka. Sukinah, salah satu warga yang terlibat dalam aksi itu, dengan senyum mengembang pun langsung berkata, “Ayo, tanya apa, Mas? Kita ngobrol saja”. Di tengah perbincangan kami selama 2,5 jam, turut bergabung belasan pemuda asli Lasem, Rembang, yang hadir dengan niatan menyerahkan beberapa kardus berisi makanan instan.

Sudah sebulan lebih mereka bertahan dalam kondisi demikian. Menurut Sukinah, jumlah warga yang berada di tenda bisa meningkat jika sore menjelang. “Sekarang lagi musim panen, Mas. Banyak yang pulang ngopeni sawah. Tapi setiap sore mereka kembali ke sini. Kalau jumlahnya, ya seratus lebih ibu-ibu yang tetap bertahan,” ujarnya.

Mereka memilih melakukan aksi dan melarang para suami terlibat karena khawatir terjadi bentrok dan tindak kekerasan. Sebelum mereka berangkat untuk melakukan aksi itu, mereka masing-masing telah berpamitan dan menganggap ini sebagai “perang”. “Lilakna aku ya, Pak. Aku arep mangkat perang (Relakan aku ya, Pak. Aku akan berangkat perang),” kata Sukinah mengulangi apa yang pernah ia katakan kepada suaminya. Akibatnya, para suami yang telah berjanji untuk tak terlibat pun tak berbuat apa-apa ketika melihat istrinya mendapat perlawanan dari aparat ketika peletakan batu pertama pabrik itu, 16 Juni 2014.

tolak-pabrik-semen-rembang-3

Salah satu tenda tempat warga melakukan aksi penolakan pendirian pabrik semen, Minggu (20/7). Foto: Dhoni Zustiyantoro

Namun ada juga warga yang mulanya menolak kemudian berpaling dan memilih mendukung pendirian pabrik. Menurut pengakuan Sukinah, mereka justru orang-orang yang pada mulanya menjadi penggerak aksi itu. Setelah didekati oleh pihak pabrik dan diberi pekerjaan, mereka tak lagi melakukan aksi dan mengajak warga menghentikan aksinya.

Sukinah bahkan mengaku jika dia dan warga yang bertahan di tenda kerap mendapat intimidasi dari pihak itu. “Katanya kami ingin diculik,” katanya. “Tapi kami tidak takut. Kami percaya sedang melawan kebatilan.”

Menurutnya, jumlah orang yang berpaling sebenarnya hanya lima orang. Pekerjaan yang mereka dapat pun pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan khusus, seperti penjaga keamanan atau penjaga alat berat. “Tidak mungkin semua petani nanti akan kerja di sana. Kerja di sana butuh keahlian teknis, sedang kebanyakan petani di sini tidak sekolah,” katanya. “Mereka yang mendukung bukan petani.”

Selain itu, para pendukung juga selalu mendapat uang dari pihak pabrik untuk aksi yang mereka lakukan. Mulanya mereka juga sering bertanya kepada para wanita yang tetap melakukan aksi. “Entuk dhuwit pira? (Dapat uang berapa?),” seperti ditirukan Sukinah. Ia pun menjawab, “Dhuwitku bakal luwih akeh, suk yen wis ‘neng kana’ (Uangku akan lebih banyak, kelak jika sudah ‘di sana’)”.

Menurutnya, apa yang didapat sekarang jika menyetujui pembangunan pabrik tidak akan sebanding dengan akibat yang akan ditanggung oleh anak-cucu. “Apa yang terjadi 50 tahun lagi kalau pabrik itu berdiri, Mas? Dari tempat penambangan, air di sawah kami mengalir. Kalau tidak bertani, kami mau kerja apa?” kata Sukinah.

tolak-pabrik-semen-rembang-4

Sejumlah warga yang menolak pendirian pabrik semen mengisi waktu dengan bermain lesung, Minggu (20/7). Foto: Dhoni Zustiyantoro

Beruntung, mereka yang menolak juga melakukan upaya penyadaran terhadap warga yang tanahnya belum dibeli oleh PT Semen Indonesia. Tanah yang akan ditambang belum semuanya dibeli dari warga. Menurut Sukinah, semakin banyak warga yang sadar akan dampak yang akan timbul. Mereka memilih tidak akan menjual tanahnya.

Sebelum menemui Sukinah dan puluhan warga, saya dan Widodo berencana masuk ke area pembuatan pabrik yang terletak beberapa puluh meter dari tenda. Niat itu kami sampaikan kepada empat orang yang berjaga di pintu masuk. Mereka kompak berkata kami tidak boleh memasuki area. “Ada kegiatan. Selain pekerja dilarang masuk,” kata salah seorang. Dari kejauhan, nampak beberapa backhoe dan ekskavator terus mengayunkan lengan ayunnya, mengeduk dan mendorong bukit yang makin nampak rata.

Ketika saya bertanya kepada Sukinah tentang aksi apa yang akan dilakukan jika pabrik benar-benar berdiri, ia dengan tenang menjawab, “mungkin akan terjadi pertumpahan darah”.

Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s