Pukul Tiga Pagi yang Dingin

anak berumur sepuluh tahunan itu
terbangun karena kedinginan
tak ada selimut tebal apalagi kasih sayang
apalagi derai pujian
dari seorang ibu

pukul tiga pagi yang dingin,
adalah waktu
di mana ia selalu terbangun
oleh nyaringnya speaker merek toa
oleh takmir yang selalu menghardik
“hoe sahur!”

di beranda itu
ia berumah
hanya di sudut itu
ia diterima
di tempat itu
ia beberapa jam
berbaring

tak ada selimut tebal apalagi kasih sayang
apalagi derai pujian
dari seorang ibu

namun ia nyaman

jauh dari cacian
jauh dari hujatan
keluarga yang tak ingin ia dengarkan

pukul tiga pagi yang dingin,
ia mulai menyusur
gang-gang kecil nan sempit

ia ingin menyaingi
tikus-tikus kurus
yang mencari makan
pada bungkus-bungkus
yang telah terbuang

sekaran, 13 juli 2014

Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s