Nikmat Puasa di Negeri Sendiri

BETAPA nikmatnya dapat menunaikan ibadah puasa di negeri sendiri. Terlebih jika dekat dengan sanak-keluarga dan teman yang setiap hari dapat menambah khusyuk puasa. Selain menjadi lebih menyenangkan, puasa juga terasa terasa ringan. Segala aktivitas dapat tetap dijalankan dengan semestinya.

Dua tahun lalu, pada Juli 2012, saya sempat merasakan awal puasa di Prancis ketika saya bersama rombongan mementaskan kesenian di sana. Ternyata, betapa susahnya menunaikan ibadah puasa di negeri asing. Terlebih di negara yang tidak memperbolehkan simbol-simbol keagamaan.

Di sana, suhu pada siang hari—yang ketika itu musim panas—dapat mencapai 5 derajat. Sungguh siksaan bagi orang yang terbiasa hidup di daerah tropis. Hari baru akan terasa gelap mulai pukul 22.00. Pada jam itu, matahari baru mulai lengser dan suhu mulai bertambah dingin. Waktu malam lebih pendek dibanding siang hari.

Karena negara tidak memperbolehkan segala macam simbol agama—seperti halnya negara Eropa lainnya, di Prancis tak akan pernah mendengar azan maupun peringatan imsya. Hal itu ternyata menyulitkan bagi saya dan teman-teman yang bahkan kerap terbangun karena kerasnya suara takmir masjid yang telah mengumandangkan tartil pada waktu sahur.

Tentang simbol agama, jangankan suara yang berkumandang semacam azan, simbol rumah peribadatan pun tak diperbolehkan. Selain itu, mereka yang menampakkan simbol agama seperti jilbab dan kalung salib bisa dikucilkan dari pergaulan.

Ketika telah memasuki awal bulan Ramadan di Prancis, sebenarnya saya sudah selesai mempergelarkan kesenian di sana. Tempat pergelaran terletak di Brest, kota paling ujung barat negara Prancis, berjarak sekitar 7 jam dari Paris. Menaiki bus sewaan yang dapat melintasi antar-negara sekaligus, kami meninggalkan Brest menuju Paris. Pada perjalanan itulah hari terakhir sebelum memasuki bulan Ramadan, sesuai dengan yang dijadwalkan pemerintah Prancis.

Di Paris, saya bersama rombongan menuju beberapa tempat terkenal di kota itu, seperti Eiffel, Gerbang Kemenangan, dan Gereja Rotterdam. Saya tak pernah menyangka sebelumnya bisa mengunjungi tempat-tempat fantastis di negara ini!

Malam harinya, kami menginap di rumah Wakil Duta Besar Indonesia untuk Prancis. Setelah mengembalikan sejumlah barang ke kantor Kedutaan Besar, kami makan malam dan sahur di rumah tempat menginap. Di Kedubes, saya melihat jadwal imsya, magrib, dan ceramah tertempel di bagian depan.

***

KESULITAN menemukan nasi adalah halangan terbesar ketika harus makan. Di sana hanya akan mendapati roti gandum seukuran lengan orang dewasa, yogurt, dan orange jus sebagai makanan utama sarapan. Meski ada pula daging ayam, namun cara penyajiannya membuat saya tak nafsu makan. Daging itu seperti belum matang ditambah saus yang bagi saya malah membikin tak ingin makan. Sungguh menyiksa dan tentu hal berat, apalagi harus berpuasa.

Kami baru bisa makan nasi beberapa hari setelah di Brest. Ada warung makan khas Indonesia di stan Kampung Indonesia—tempat kami mempergelarkan kesenian. Menu yang disajikan adalah sate ayam dan nasi goreng. Orang-orang yang pernah berkunjung ke Indonesia melepas rindu mereka pada nasi.

Ya, warung itu selalu ramai oleh orang Eropa yang ingin makan nasi. Termasuk beberapa orang mendekati Pak Widodo, pimpinan rombongan kami yang kerap merokok usai pentas. Dari bau asap rokok yang bisa tercium beberapa meter, mereka tau bahwa rokok itu dari Indonesia. Mereka pun memintanya sambil berusaha mengakrabi dan berbincang. Mereka sungguh orang-orang ramah.

Pada awal Ramadan itu—seperti halnya hari-hari yang telah lalu—udara masih selalu dingin. Hal itu sebenarnya membuat puasa tak begitu berat. Namun, kami harus mengemasi barang menuju bandara di Paris. Hari itu kami dijadwalkan meninggalkan Prancis untuk menuju Indonesia. Ya, telah sepuluh hari kami di sana untuk melakukan pentas kesenian.

Di pesawat dalam penerbangan dari Paris ke Dubai—transit pertama menuju Jakarta—saya merenung. Betapa nikmatnya dapat melakukan puasa di negeri sendiri. Dekat dengan siapa pun yang kita cintai. Semua tersedia. Ingin apa pun ada. Betapapun senang dan bangganya hidup di negeri orang, agaknya kampung halaman tak terganti.

Dan, hal ini mengingatkan saya agar selalu bersyukur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s