Tubuh, Seks, dan Modal: Menyusur Aksara Amananunna

rio johan

Sampul buku Aksara Amananunna karya Rio Johan (Penerbit KPG, 2014). Sumber: goodreads.com.

SEPENDEK apa pun sebuah cerita, kita senantiasa berharap ia mampu berkisah. Namun nyatanya, tak mudah menyajikan cerita yang mampu berkisah dalam bingkai seketat cerpen. Banyak pengarang hanya menyajikan fragmen dengan cara yang tergesa-gesa, dengan tokoh dan banyak hal yang berebut ingin dihadirkan.

Membaca buku kumpulan cerpen Aksara Amananunna karya Rio Johan (Penerbit KPG, 2014) sama halnya melihat polah-tingkah seorang pemuda 20-an tahun yang melakukan banyak hal dalam hidupnya berdasar naluri kelaki-lakian yang penuh nafsu, juga tunduk pada orientasi seksual. Tubuh yang digunakan sebagai modal dan sebagai peranti seks yang dengan mudah dapat dieksploitasi. Demikian banyak dilahir-hadirkan Rio Johan, pada cerpen “Komunitas”, “Kevalier d’Orange”, “Robbie Jobbie”, dan “Susanna, Susanna!” dalam buku ini.

Saya ingin membahas empat cerpen itu sebagai bahan perbincangan, jika tak ingin disebut kritik, tentang tubuh, seks, dan modal. Karena menurut Nirwan Dewanto, kritik sastra “baru bisa berlaku di atas karya yang memperlihatkan anasir kritis dalam dirinya sendiri”. Cerita dalam buku ini melihat tubuh dan seks sebagai modal penting dalam hubungan interaktif manusia dengan manusia lain dalam berbagai kepentingan. Lebih dari sekadar itu, tubuh sebagai modal untuk menguasai.

Di tengah kebanyakan pengarang yang memutuskan untuk memilih kecanggihan berbahasa dalam cerpen yang mereka rakit, cerita yang tak fantastis dan absurd juga sebuah pilihan. Ada pula “Aksara Amanunanna” yang berkisah tentang ketakmampuan memepertahankan bahasa, Mubi yang bermimpi jadi tuhan dan ingin menulis novel dalam “Ketika Mubi Bermimpi menjadi Tuhan yang Melayang di Angkasa”, “Tidak Ada Air untuk Mikhail” yang tak lebih dari sebuah diary anak kos. Selain itu ada “Undang-Undang Antibunuh Diri”, “Ginekopolis”, “Pisang Tak Tumbuh di Atas Salju”, “Riwayat Benjamin”, dan “Apa Iya Hitler Kongkalikong dengan Alien?”.

Setidaknya pengisahan yang berulang tentang aktivitas seksual yang “tak lazim” dalam film dewasa ada pada keempat cerita itu. Tokoh Aku dalam “Komunitas” terpaksa harus bekerja pada tempat yang mulanya tak dikehendaki, namun akhirnya dinikmati. Itu setelah Aku tak diterima bekerja pada agensi model karena “tampan, tapi terlalu pasaran”, sebuah hal yang benar-benar diharapkan ada dan tidak kebetulan.

Dan kita dengan mudah bisa menebak. Aku yang bekerja melayani orang-orang yang punya kelainan pada orientasi seksual, dengan mudah memerintah “para klien yang bukan orang sembarangan”. Setelah belajar dari senior dan “mengesampingkan nilai moral”, Aku dengan mudah bekerja dengan melemparkan tamparan, lalu “wanita itu kembali menyembah kakiku, mendongak padaku, sambil menguik dan memohon hukuman yang lebih pantas lagi, kulemparkan lagi tamparan pada pipinya yang sudah menyala, dan wanita itu kembali menyembahku” (hlm. 15-16).

Entah kenapa Rio Johan tak tertarik bermain detail, sebuah hal yang justru penting dan membuat cerita mampu berkisah. Dalam cerita ini, kematian seorang klien berusia 60 tahun yang sedang “kulayani” dengan cara “kucekik lehernya”, sama sekali ia biarkan begitu saja. Hanya diceritakan, “Terang saja aku panik. Aku belum pernah membunuh orang sebelumnya” (hlm. 23).

Latar waktu dan setting tempat hanya disampaikan secara sekilas, bukan sepanjang narasi penceritaan. Kita hanya akan merasa cerita itu ada di kebanyakan kota negeri ini, bukan seperti ia harapkan, “secara singkat kujabarkan bahwa aku cuma pemuda dari kampung kecil di Rusia… maka kutanggalkan kuliahku dan kupertaruhkan nasibku di Prancis, sekalipun sampai sekarang belum jelas hasilnya” (hlm. 10). Tak ditunjukkan pula dialog dengan bahasa ibu, yang akan sangat berguna sebagai identitas, hanya ketika bertemu dengan wanita pencari bakat, “dengan bahasa Prancis yang agak terbata-bata kuperkenalkan diriku”.

 

Tubuh sebagai Orientasi

Tubuh, sebagaimana disebut Foucault dalam The Will to Knowledge (bagian pertama dari Sejarah Seksualitas, 1976), bukanlah suatu objek yang dengan mudahnya dapat diteliti lalu disimpulkan secara reduktif dan sempit. Tubuh adalah tujuan untuk mencapai rasa, bukan terbatas pada perannya sebagai alat, tetapi merupakan tujuan itu sendiri. Juga tak keliru jika Kamasutra menganggap kenikmatan adalah hal terpenting bagi tubuh. Di dalamnya kita menjadi paham tujuan serta hakikat tubuh tiada lain adalah merasakan kenikmatan. Namun Centhini menolak dan memberi tafsir lain. Ia berkisah karena mungkin benar-benar kitab, yang seolah tak ingin ditafsirkan menjadi sesuatu di luar dirinya. Karena mungkin ia mampu berkisah.

Sayangnya kita masih pula disodori “Kamasutra” dalam “Susanna, Susanna!”, cerita terpanjang dalam buku ini (hlm. 165-237). Narasi utama cerita yang “diharap” berlatar waktu musim dingin 1712 ini adalah penyamaran Aku sebagai seorang lelaki. Alih-alih menyamar dan mencari penghidupan, Aku yang sering melihat Susanna menyetubuhi wanita dan berganti pasangan di pelacuran saat kapal sedang singgah, justru ikut hanyut dalam aktivitas seks itu. Susanna mengenakan penis buatan yang ia buat sendiri, yang mampu memuaskan siapa pun yang menjadi “lawan”-nya. Sepanjang cerita, aktivitas itu diulang-ulang hingga menjadi narasi utama yang membosankan.

Meski mulanya muak dan jijik melihat kelakuan Susanna, tapi pada akhirnya “Aku tidak mengeluh selama dia tidak menistaiku dengan perkakas-perkakas mengerikan, dan yang paling penting aku mulai yakin kami sama-sama memiliki—demi semua itu kutepis semua prasangka buruk yang muncul tentangnya” (hlm. 196). Peralihan dari yang semula “jijik” menjadi “aku tidak mengeluh” sebenarnya tak cukup diceritakan dengan, “Entah mengapa aku merasa langsung tak punya daya, tubuhku sudah duluan bergetar sebelum aku mampu melawan… (hlm. 194).

Aku kemudian mengikuti kelakuan Susanna yang menganggap sesama jenis lebih memuaskan aktivitas seksual. Jika dilihat dari kaca mata psikoanalisis Sigmund Freud dalam Three Contributions to the Sexual Theory (1910), Aku dan Susanna adalah absolutely inverted, objek seksual mereka harus selalu dari jenis kelamin yang sama. Seorang wanita invert cenderung merasa dirinya sebagai lelaki dan mencari seorang wanita. Dalam cerita ini, akhirnya Aku berperan sebagai lelaki dan Susanna perempuannya, yang selalu mengenakan penis palsu ketika melakukan aktivitas seksual.

Kuasa dan orientasi tubuh yang menyimpang juga ada pada “Robbie Jobbie”. Tokoh Aku dapat menghibur mereka yang menonton pertandingan gulat yang telah diskenario, setelah menonton lewat video yang telah diunggah ke YouTube, mereka berkomentar, “Suka sekali ekspresi nyeri yang intens pada 0:23, jurus leg split yang sangat erotis”… Kedua pegulat sama-sama punya otot tajam, dada bidang, perut bersekat, lengkap dengan gumpal pantat imut dan puting lucu yang efek getarnya sewaktu bergerak di gelanggang sangat menggiurkan” (hlm. 129-130).

 

Logika yang Diabaikan

Rerinci, ketersambungan, dan “nalar ilmiah”, banyak diabaikan dalam Aksara Amananunna. Memang, pendeknya cerita pendek sering menjadi alasan utama para pengarang memangkas kompleksitas dan ingin segera mengakhiri cerita. Namun, bukankah dalam cerita, pengarang sendiri yang menuntut cerita mampu bernalar sendiri semenjak kalimat pertama cerita itu ditulis?

Tidak hadirnya rerinci tentang kematian klien dalam “Komunitas” adalah pengabaian yang fatal. Bagaimana mungkin di era ini seorang yang terbunuh, sekalipun secara tak sengaja, tidak menjadi sebuah kasus atau tak terendus media? Tokoh Aku malah sering terjebak dengan “keheranan” dan “keanehan”-nya sendiri. Nampak pada, “Aku sendiri sampai heran… barangkali pihak yang bersangkutan menutupi kasus tersebut demi menjaga nama baik, dan penyelidikan dilakukan secara sembunyi-sembunyi… Sayangnya entah bagaimana caranya, Komunitas akhirnya menemukanku di kota pinggiran di Tajikistan… Aku menolak, dan anehnya utusan itu tidak memaksa… ketika kuantar menuju pintu keluar, tanganku segera dikuncinya dari belakang…” (hlm. 23-24).

Kebetulan yang tak perlu juga banyak ditemukan dalam “Susanna, Susanna!”, semisal, “Bagaikan sebuah kebetulan, hari itu aku juga menyaksikan seorang perempuan dihukum gantung di Tryburn… Apalagi perempuan itu juga berambut pendek, sama sepertiku” (hlm. 191).

Kita juga akan sedikit kebingungan mencari sebab mengapa Jacqueline d’Orange harus susah-payah menyamar menjadi perempuan dalam “Kevalier d’Orange”. Tokoh yang diceritakan banyak berjasa kepada kerajaan itu ketahuan berkelamin laki-laki setelah kalah melawan penantang ke-1235. Di akhir cerita, lelaki tangguh itu hanya “dimatikan” dengan cara menenggak setengah botol racun.

Berlogika penting bagi sebuah cerita. Itu jika pengarang menganggap bahwa kegiatan kreatif-kepengarangan bukanlah hasil kerja kerajinan semata: yang dilakukan hanya dengan menata segenap bagian-bagian yang belum menyatu. Ketika pengarang telah mampu menyerahkan diri ke lingkaran para tokoh yang ia buat, maka pembaca mungkin akan mendapat kehidupan, sebuah kisah dari dunia yang baru, sebuah cerita yang berkisah. Bukan cerita yang mendikte.

Saya mengira Rio Johan lebih ingin membuat novel ketimbang cerpen.

*Kolom “Kritik Sastra” halaman “Serat” Harian Suara Merdeka, Minggu (8/6).

Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s