Tiga Puisi di Pengujung Mei

SUARA

Ia memaksa masuk
dalam malam
yang telah khusyuk.

Ia meniru-niru siang
namun selalu gagal.

Ia tak tahu
malam lebih berkuasa
berani untuk tak menghamba
kepada yang bukan tanda.

Kepada yang selalu tak dapat hinggap
di mana pun dahan
adalah pengasingan.

Karena tak diharap
karena bukan
suara yang harus dianggap.

DIAM

Maka tak ada yang lebih khidmat
dari kekosongan.

Ketika diam tak menjawab tanya
dan tanya tak lagi harus dijawab
pada suatu malam yang tak dikehendaki.

Seperti angin yang berhenti
membisiki jiwa yang masih tertatih
dan merintih.

Berbincang kepada kekosongan,
kepada diam,
untuk menemu harap.

Maka malam adalah terbaik penanya
pun kepadanya, jawab bermuara.

KETAHUILAH

Lama tak kudengar suaramu
lantun gamelan nan rawit
yang engkau menari di depannya
dengan begitu rumit.

Dan aku terkesima.

Atau kau memang tak ingin
kukagumi secara sembrana
buta
dan tak suci.

Dengan penuh curiga
kau menerka-nerka tanda

Ketahuilah,
kan kulantunkan Lambangsari
kan kutembangkan Kinanthi
untukmu yang piniji.

Sekaran, 31 Mei 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s