Lorong

Ketika kelugasan dikedepankan
dan ketegasan diharapkan
di kawasan wisata Sosrowijayan.

Tanda tersebar
bergumul dan meramu
menghirup dan menghisap
juga terhisap.

Mungkin Barthes tak tertarik
atau tak paham.

Namun manusia, seperti halnya mimpi,
tak berjarak dengan naluri
yang selalu “manusiawi”
yang dengan mudah meramu mimpi
yang bukan hanya “mimpi”.

Namun menjelang malam,
mimpi selalu terbeli
dan dihadirkan
lewat naluri.

Di samping selokan dan bau anyir
di antara ganda minyak wangi murahan
dan hal-hal yang serba kebetulan
tapi selalu dianggap riang
di antara selokan
juga piring yang belum selesai dicuci
oleh seorang wanita berkerudung.

Tentang keriangan itu,
yang sekejap kemudian menjadi fana
yang lima belas menit kemudian sekejap hilang
namun merindu untuk selalu datang
ke ruang yang terpaksa dibikin nyaman.

Maka tak salah
karena Freud telah menulis,
Seks adalah orientasi utama
tiap-tiap kita.

Maka dapatkah kita lari?
sekalipun dari mimpi dan naluri.

Karena semua harus menjadi “manusia”
dengan jantung terdenyut
dan bergumul.

Seorang wanita berbisik dengan penuh harap
kepada mereka yang melewati dentuman koplo
dengan suara yang tak merdu
di ujung lorong itu.

Ia belum mendapat rezeki
hingga separuh malam ini.

Malioboro, Mei 2014
Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s