Tentang Kuasa Materi dan Moralitas Akademik Itu…

Surahmat, yang juga kawanku. Kita berdua mungkin ditakdirkan untuk selalu gelisah. Dari niatan untuk bertemu dan ngobrol santai saja, ujung-ujungnya ke sana juga. Pada obrolan yang selalu mengerucut pada hal-hal yang sebenarnya tak melulu telah, sedang, atau bakal kita alami, tapi selalu kita anggap sebagai hal penting.

Tentang materi, kau kemarin malam juga bilang belum bisa lepas dari jerat pragmatis kuasa materi. Kau, atau juga aku dan banyak kawan seperjuangan lain, nyatanya masih butuh materi sebagai hal mendasar yang harus dipenuhi. Dan, kita belum mampu untuk memenuhi hal mendasar itu. Kau beristri tapi belum punya rumah seisinya, dan mobil. Aku belum punya istri, pun masih ngekos. Hal itu, kuanggap sebagai hal yang mendasari mengapa kau masih membawa perbincangan ini kepada apa yang kau sebut kuasa materi.

Jika aku balik bertanya, apakah ada yang tak takluk pada kapitalisme? Lihatlah laptop yang kugunakan untuk mengetik ini, juga Facebook yang sedang kau buka itu, semuanya hasil dari para pemodal besar, bukan? Belum lagi telepon genggam, baju, motor, dan banyak hal lain yang tanpa itu semua, kita mungkin tak bisa mempertahankan hidup normal di era kapitalis ini.

Kau juga tahu, kemarin aku tak begitu tertarik –atau tak paham– dengan perbincangan Martin yang mengupas asal-usul kekayaan. Namun, cukupkah kita mengutuk gerai ritel Indomart dan Alfamart yang kian menjamuri sekitar kampus, misalnya, yang menggusur pasar tradisional,  yang secara tidak langsung menggiring persepsi massa bahwa, misalnya, pasar krempyeng itu tak steril dan bersih karena konsep market yang ideal tiada lain adalah seperti ritel itu.

Dua puluh satu tahun lalu ketika aku hampir saban hari bermain umpet-umpetan ataugasingan bersama dua puluhan kawan di desa, aku tak ragu masuk rumah tetangga untuk minum air kendi. Dengan keringat yang bercucuran, aku tak segan untuk langsung masuk rumah tetanggaku dan menenggak air sepuasnya, sampai hilang dahaga agar bisa kembali bermain.

Namun, beberapa tahun belakangan ketika pulang ke desa, terutama pada Lebaran, kendi-kendi itu telah tergantikan oleh minuman mineral seukuran gelas 200 mililiter. Ya, warga desa tak ingin lagi repot-repot untuk sekadar memasak air dan menghidangkannya di atas meja, apalagi menyeduhkan teh atau kopi untuk para tamunya.

Juga kudapati anak-anak desaku sekarang lebih memilih untuk bermain perangkat elektronik macam telepon genggam Android yang sudah bisa diinstal game, mengakses Facebook, atau bermain Sony Play Station. Ya, orangtua lebih menghendaki mereka tak keluar rumah dan, bagi yang mampu, mereka menyediakan perangkat “pengekang” itu agar anak tak keluar rumah. Dengan tetap di rumah, orangtua leluasa untuk mengawasi anaknya tanpa harus khawatir salah pergaulan.

Syahdan, tak ada lagi anak-anak yang dengan riang bermain di halaman yang lapang. Banyak halaman rumah yang ketika itu berupa tanah sehingga bisa dipakai untuk bermain gasing, sekarang telah dicor. Anak-anak tak lagi bersama-sama bermain, tak ada lagi yang masuk-keluar rumah tetangganya untuk sekadar meminta minum.

Warga desa juga semakin tak percaya dengan air di sumur yang mereka gali sendiri. Air itu diyakini tidak steril dan berasa aneh. Ya, setelah beberapa lama terbiasa meminum air kemasan, mulai dari yang terbungkus plastik seukuran gelas yang telah terhidang di meja untuk njagani jika ada tamu, hingga air di galon yang tersaji di dapur. Mereka juga mengamini iklan yang setiap hari dilihat di televisi, bahwa air minum dalam kemasan itu “air minum untuk kesehatan keluarga”. Melalui nilai yang terus-menerus didistribusikan melalui iklan itu, kapitalisme makin merajai dan tak cuma sekadar hegemoni, tapi sudah menjadi laku hidup.

Kau tahu, betapa para pemodal besar telah menguasai tiap jengkal napas dan denyut nadi kita sekarang ini. Maka, kita sebagai kaum yang selalu mencoba kritis terhadap banyak hal kemudian melawan dengan berbagai cara. Kang Putu, misalnya, telah menggunakan perlawanan juga sebagai pilihan dan laku hidup sehari-hari. Ia tak ngunjuk air kemasan macam Aqua yang kini dimiliki oleh perusahaan asal Prancis, Danone.

Tapi, kemarin kau banyak dicecar oleh kawan-kawanmu setelah menulis “Sarjana Altruis” yang kau unggah pakai akunku di laman universitas itu. Kau membakar-bakar mereka, para sarjana itu, supaya bisa membikin nilai sendiri dan tak cuma mengekor. Termasuk memberi anjuran secara tak langsung untuk tidak memakai produk-produk kapitalistik. Kau menyebut manusia modern tak bisa lepas dari Apple dan Samsung, dua raksasa perusahaan yang telah merajai industri telepon seluler. Tapi, kau pakai Samsung dan menggelar tikar plastik, aku punya Apple, Martin minum air mineral, Kang Putu ngunjuk Fresh Tea…

***

Mat, di perguruan tinggi tempat kita bercokol sekarang ini, kita sering pula tak terima terhadap keadaan. Tapi, alih-alih bicara iklim akademik kampus, kita malah acap bicara politik yang tak seharusnya hinggap di sini. Dan, kita asyik membahas itu. Padahal, kau pernah SMS: “ngapain sih kita repot-repot mikirin itu?”

Di luar keadaan yang harus kita syukuri sebagai orang yang beruntung secara akademik, kita acap gelisah: kontribusi macam apa yang bisa kita lakukan untuk memajukan dunia keilmuan ini?

Kemarin malam aku memaparkan realitas yang kau amini, juga Mas Burhan: mahasiswa hanya mengandalkan pertemuan di kelas untuk menuntut ilmu. Padahal pengetahuan justru kian lebat didapat di luar kelas, pada pertemuan-pertemuan  komunitas, di sarasehan. Terlebih lagi, kasihan jika mereka diajar oleh para pengajar yang menganggap pendapat, referensi, dan semua yang dia hadirkan di kelas adalah yang paling benar. Alamak!

Sampai di sini, betapa kita, yang katamu masih muda ini, sangat butuh untuk selalu memantik-mantik iklim tak mudah terima terhadap realitas. Memang, mendobrak kemapanan yang sistemik macam ini sungguh tak mudah. Namun, kita bisa mengawalinya dengan memberi keteladanan untuk memberi sikap egalitarian. Mengajak mahasiswa untuk duduk dalam kursi yang sejajar, kalaupun tak ada kursi, maka lesehan, untuk terbuka berdiskusi, saling mengasupi.

Bukankah kita harus berbangga diri jika ada mahasiswa yang lebih tangguh dalam satu bidang saja? Itulah taruna ngungkuli bapa. Sekira 20-30 tahun ke depan, kita hendak bangga jika ada penulis, sastrawan, jurnalis, pendidik, presiden, atau minimal orang yang berguna bagi liyan yang ternyata orang yang pernah kita ajak duduk bersama dan saling hujat itu. Apa yang kita sebut sebagai mimbar akademik adalah keniscayaan yang harus terus-menerus diupayakan.

Aku yakin perkara macam ini selalu terjadi dari zaman ke zaman. Masa di mana Sucipto Hadi Purnomo, Saroni Asikin, Sendang Mulyana, Kang Putu, Achiar M Permana, Mukh Doyin, menempa diri misalnya, tak akan pernah kita dapati hari ini. Aku tak yakin mereka orang-orang yang tak gelisah, bahkan hingga detik ini. Dan, masa itu menghasilkan orang-orang seperti mereka. Kita berdua ini, yang tak patut untuk mematut-matut diri ini, mungkin adalah hasil dari generasi tempaan yang sudah makin banyak ngincipi kapitalisme yang justru makin meraja—karena kau selalu menyoal kapitalis.

Maka, mungkinkah kita mampu mencipta generasi yang, puluhan tahun ke depan dapat menatap dengan gagah berbagai tantangan hidup, yang mrantasi gawe, mumpuni dalam bidangnya, yang lebih menyalakan lilin dalam kegelapan timbang mengutuknya tiada henti?

Inikah juga yang kau sebut “anak muda yang memilih jalan hidup”? Cuma, satu hal yang selalu kuharap ada padaku dan padamu juga, semoga idealisme ini selalu berkobar, meski mungkin nanti kita menjadi PNS. Kau ingat kelakar malam itu?

Eh, iya, satu lagi, Mas Burhan wis berencana jadi penulis. Sepertinya kita harus cari profesi lain.

Kawanmu, yang juga teman ngopi,

Dhoni Zustiyantoro

————————————————————-

 

One thought on “Tentang Kuasa Materi dan Moralitas Akademik Itu…

  1. Mas dhonii.. mau ngrusuh boleh… hehe… ini sekedar curhat…

    Kalau di rumahku mas, ada air galon tapi tetep ada kendi. Karena air sumur mengandung kapur. Dan ngrasa kurang seger kalo nggak ada kendi, jadilah memindahkan air galon ke kendi. hehe

    Dan ketika pulang ke rumah, habis lulus sempat iri sama teman-teman yang masih di kampus (ngajar) dan masih lanjut kuliah, beruntung mereka dekat dengan ilmu. Tapi setelah di rumah justru aku merasa jauh lebih beruntung dan bergantung sama internet plus perangkate. Beruntung hidup di desa tapi masih bisa belajar dan baca gagasan2/pemikiran ttg politik, sosial budaya, dll dan kadang diskusi sama2 teman2 melalui chat.

    Kapitalisme, dunia, dan hidup yang berkembang memang begitu,, idealis nggak menerima perubahan jaman yg dinilai merusak itu susah. Alangkah bahagianya kalau keduanya bisa sama-sama dinikmati. Kesederhanaan dan kentalnya tradisi/kerukunan hidup di desa dan tidak lepas dari gadget. Seneng nemen aku isa melu bancakan ning sawah trus tetep isa upload tulisan.. hehe…

    http://sosbud.kompasiana.com/2014/03/23/musim-panen-dan-indahnya-berbagi-dalam-tradisi-643483.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s