Sastra Jawa, pada Suatu Masa, di Suatu Tempat

Sungguh tersanjung tulisan saya yang berjudul “Masa Depan Sastra Jawa” di harian ini pada Minggu (16/2), ditanggapi oleh orang yang saya anggap penggawa sastra Jawa, Daniel Tito. Saya, tentu saja, banyak belajar dari beliau yang telah puluhan tahun konsisten dalam jagat itu.

Akan tetapi, saya tak pernah memperlakukan atau men-setting setiap tulisan supaya ketika dibaca khalayak, akan berpengaruh—apalagi dianggap sebagai tokoh paling berpengaruh, karena saya bukan Martin Suryajaya yang dengan cemerlang mendebat Goenawan Mohamad lewat esai-esainya. Namun, saya berharap mendapat hal baru dari hal ini, dari dialog kritis yang terbangun ini semoga memberi manfaat, juga bagi pembaca. Bukan sekadar saling lempar argumen di media sosial, seperti realitas sastrawan kita pada level nasional sekarang ini.

Daniel sangat optimistis tentang hidup dan berkembangnya sastra Jawa karena ia ada dalam lingkaran itu. Anggapannya tentang sastra Jawa tak punya kuburan adalah wujud optimistis untuk selalu mendenyutkan nadi “sastra nasihat”. Dalam tulisan ini, saya lebih ingin menyoal tanggung jawab sastrawan Jawa dalam kaitannya dengan regenerasi kepengarangan dan realitas kesusasteraan Jawa kita.

Mengapa dua hal ini menjadi kegelisahan, setidaknya bagi saya? Tiada lain karena sejarah telah menyebut: yang menggeluti sastra Jawa adalah mereka yang terbilang sepuh. Tanpa menyebut kembali nama demi nama, siapa pun pasti mengamini hal ini. Meskipun banyak pula yang telah merintis karier dalam usia belasan, tak ada yang langsung cemerlang dalam rentang usia itu. Terlepas dari ranah penguasaan estetis kebahasaan sebagai medium sastra, hal ini juga wujud sastra Jawa minim dilirik oleh yang muda.

Hal ini mungkin terjadi karena, pertama, sastra Jawa yang selain berlabel sastra nasihat karena selalu berisi wejangan, juga tak pernah selesai dalam urusan perjuangan. Ya, harapan untuk berkembang masih menjadi ihwal tak terpecahkan karena selalu berkelit-kelindan dalam upaya nguri-uri kebudayaan yang dinilai adiluhung, yang harus terjaga dari tangan jahil dan “masih muda”.

Sejarah membuktikan jika sastra dari masa ke masa juga digunakan sebagai alat legitimasi kekuasaan dan pencitraan, terlebih sastra Jawa yang mulai hidup pada masa kerajaan dan keraton. Masa kecemerlangan sastra Jawa yang ditandai dengan metafora yang rumit dan memerlukan juru tafsir macam itulah yang mungkin didambakan untuk bisa terulang dalam zaman yang berbeda.

Dihadapkan pada realitas, tak semua pembaca mampu dan dengan mudah tertarik. Dalam hal ini, sastra Jawa berada di persimpangan, berhadapan dengan pembaca yang memaknai sastra tak ubahnya seni yang lain: ia diciptakan sebagai sarana hiburan. Alhasil, yang rumit kian ditinggal. Pemahaman ini sama dengan Kaplan dalam The Aesthetics of the Popular Arts (1967) tentang seni populer. Menurutnya, seni populer memiliki cita rasa yang sedang, supaya membedakan dari seni cita rasa tinggi dan rendah.

Pada akhirnya, sastra Jawa tradisionalis pun cuma menjadi kelangenan. Daniel Tito bahkan menyebut, “bagi orang-orang Jawa masa kini, membaca karya sastra Jawa yang menggambarkan kehidupan orang-orang Jawa masa lampau akan menumbuhkan romantisme. Ada sesuatu yang indah, mengesankan.” Jangan salahkan jika ada yang lebih nyinyir: sastra Jawa telah ada dalam museum, yang sekali waktu bisa diziarahi untuk mengingat romantisisme.

***

Hal itu belum sampai pada ranah perbincangan masalah kepengarangan yang tentu saja lebih ironis. Yang sepuh asyik sendiri, pun dengan produktivitas dan publikasi yang tergolong kurang, yang muda makin takut bahkan untuk sekadar mengawali. “Takut salah” adalah realitas yang selalu membayang dalam benak para calon sastrawan Jawa kita di masa kini karena, apa yang mereka dapati dari sekolah dan masyarakat tentang Jawa, misalnya, tak pernah lepas dari hal teologis, luhur, dan sakral.

Nilai-nilai kehidupan dan wejangan masih menjadi hal yang senantiasa dikedepankan dalam proses kreatif sastra Jawa. Mereka yang sesekali berkarya lewat medium ungkap bahasa Jawa, yang masih grothal-grathul itu, tak mendapat ruang dan bimbingan yang optimal. Mulder (1984) menyebut mereka “belum menjadi Jawa”. Hal yang demikian kemudian saya anggap sebagai faktor kedua.

Dalam jagat sastra Indonesia yang tak bersusah payah memikirkan hal itu, tak terhitung jumlah anak muda yang mewarnai jagat kesusasteraannya. Semisal, pada 2013 Tempo memilih Deddy Arsya sebagai tokoh pilihan seni kategori sastra karena dalam buku puisinya, pemuda 26 tahun itu menciptakan puisi berdasar tafsir sejarah. Dia ingin masyarakat di daerah kelahirannya di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Selatan, lepas dari bayang kolonialisme yang ketika itu menduduki. Hal itu belum lagi pada jagat kesusasteraan barat yang liberal, yang tak repot memikirkan moral sebagai bingkai utama proses kreatif dan tema penciptaan sastranya.

Namun perspektif yang saya hadirkan secara langsung dapat dibantah dengan alasan sastra adalah realitas dan dokumen sejarah tempat di mana ia lahir. Darmanto Jatman dalam esai “Sastra Jawa Hujan Kritik” (2006) menganggap para fundamentalis itu punya anggapan Jawa sudah true believer, sudah sempurna! Tak ada suku lain yang lebih nges kebudayaannya daripada Jawa. Bila dugaan saya benar, tak ada celah untuk sastra Jawa bagi mereka yang muda. Sastra Jawa hanya hidup dan dihidupi mereka yang telah mumpuni: tentu yang mapan dalam pemerolehan bahasa Jawa. Yang telah tertahbiskan sebagai pemilik ruang yang justru makin dibikin sempit itu.

Setidaknya majalah Panjebar Semangat dan Jaya Baya adalah wajah riil sastra Jawa kita di masa kini. Panjebar Semangat, sekalipun awal tahun ini menaikkan harga per kover, namun tak diimbangi dengan kualitas sajian. Hingga kini ketidak-konsistenan ejaan masih terjadi pada majalah mingguan yang terbit semenjak 2 September 1933. Dengan tampilan yang lebih menarik karena full colour, Jaya Baya lebih bisa menarik minat dari sisi tampilan. Meski bila dijumlah, kedua majalah itu memiliki oplah tak lebih dari 30 ribun setiap minggu. Sebagai pemantik, majalah itu telah menghadirkan halaman khusus remaja dan pengarang pemula.

Penghargaan pun minim. Tak seperti sastra Indonesia yang banyak dihargai dalam forum-forum resmi yang dibuat pemerintah maupun swasta, penghargaan terhadap sastra Jawa hanya diberikan oleh Yayasan Rancage. Itu pun baru dilakukan Rancage lima tahun setelah digagas Ajip Rosidi pada 1989. Selain sastra Jawa, Hadiah Sastra Rancage diberikan tiap tahun pada mereka yang berkarya dan berjasa dalam sastra Sunda, Bali, dan Lampung.

Harusnya jagat maya menjawab banyak kendala tersebut. Betapa tidak, saat ini makin banyak akun Facebook, Twitter, dan grup yang berupaya sebagai sarana pembelajaran dan ruang kreatif sastra Jawa. Namun, alih-alih punya ribuan pengikut, admin tak punya cukup energi, untuk tak menyebut punya kompetensi, untuk ngopeni dan mengoreksi mereka yang membikin posting dan menautkannya. Padahal, jika digarap lebih serius untuk satu tujuan, semisal menerbitkan buku, ranah maya sangat memungkinkan untuk dioptimalkan. Tak berlebihan jika Sapardi Djoko Damono pernah menafsir sastra Jawa hanya akan hidup di berbagai sarasehan.

***

Di pengujung 2013, saya berkesempatan menjadi juri sebuah lomba cipta guritan. Meski berlabel se-Jawa Tengah, peserta lomba itu tak lebih dari 20 remaja seusia SMA. Dengan interpretasi masing-masing, mereka terbilang imajinatif dalam menerjemahkan tema “pahlawan” yang diberikan oleh penyelenggara. Dan, ketika kata menjadi medium ungkap sastra, penguasaan ejaan pun menjadi mutlak. Distribusi dan upaya pemaknaan menjadi gagal ketika ejaan yang benar tidak lagi dijalankan. Selain itu, minat dan apresiasi yang didorong dengan pembimbingan yang baik menjadi penentu komptensi calon sastrawan Jawa itu.

Dalam rentang yang demikianlah sebenarnya para pengajar sastra di sekolah harus hadir untuk mengambil peran. Kepada pengajar, sastra menanti untuk dibiakkan yang, sebenarnya bekal awal untuk itu, harusnya telah mereka dapati di perguruan tinggi. Pengajar sastra di perguruan tinggi pun harus cemerlang. Sampai di sini, betapa telah terlihat jelas rantai itu berputar dan saling berkait satu sama lain.

Memang, dilema pembelajaran sastra selalu mengemuka dalam setiap pertemuan sastra. Selalu pula ada langkah-langkah yang mencuat yang diamini bersama untuk mengatasi hal itu. Termasuk Kongres Sastra Jawa 2006 di Semarang yang memberi rekomendasi: materi sastra Jawa di sekolah perlu disederhanakan dan regenerasi sastrawan Jawa perlu diupayakan secara optimal. Namun, lagi-lagi langkah taktis lebih diperlukan daripada sekadar menggelar pertemuan yang selalu saja dihadiri oleh orang yang sama, semisal menerbitkan buku-buku sastra Jawa bermutu yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran di sekolah. Dan, tak ada jawaban paling hakiki dari segenap tanya dan polemik yang berlarut, kecuali terbuka terhadap perubahan dan menyodorkan karya secara terus-menerus. (Suara Merdeka, 2 Maret 2014)

Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s