Masa Depan Sastra Jawa

Hingga kini, sastra Jawa masih berada dalam konstruksi sastra nasihat. Ia dicipta sebagai sarana transfer nilai dan tuturan luhur yang dipercaya bakal membawa manusia, masyarakatnya pembacanya, untuk melakukan hal-hal baik. Sastra piwulang ini mengajak manusia kembali kepada hakikat. Kedalaman makna hidup menjadi inti dari setiap penciptaan.

Sastra Jawa klasik yang tercipta dalam medium tembang macapat maupun prosa adalah dokumentasi sejarah nilai yang, untuk memahami arti dan maknanya, dibutuhkan penerjemahan secara teliti. Hal inilah yang menurut Sapadi Djoko Damono disebut mengapa karya itu dianggap adiluhung. Dalam kaitannya dengan perkembangan sastra, masihkah hal berat itu berterima di kalangan masyarakatnya sendiri? Bagaimana pula cara supaya sastra Jawa tetap bernafas di kemudian hari?

Dalam catatan sejarah, sastrawan Jawa, yang kala itu jamak disebut pujangga, acap menggunakan tembang sebagai medium penciptaan sastra. Meski juga banyak ditemui karya berwujud prosa, seperti kisah Mahabarata yang ditulis dalam Jawa kuna pada akhir abad ke-10 masehi. Kemudian, semenjak abad 13, sastra Jawa masuk dalam kategori sastra Jawa pertengahan. Pada masa Majapahit inilah, sastra kidung menjadi kiblat penciptaan, misal Pararaton yang berwujud prosa dan Kakawin Dewaruci berupa tembang.

Padmosusastro, seorang pujangga Jawa yang kemudian kerap disebut-sebut sebagai pelopor sastra Jawa modern, tak lain setelah ia membuat novel Rangsang Tuban (1912). Setelah itu, pintu kemerdekaan untuk sastra Jawa seolah terbuka lebar. Padmosusastro pun memproklamirkan diri sebagai “tiyang mardika ingkang marsudi kasusastran Jawi”.

Seiring zaman yang bergerak, tembang macapat sebagai sebuah bingkai penciptaan sastra Jawa selama berabad-abad lamanya, dewasa ini bukan lagi menjadi bentuk ungkap pilihan para sastrawan Jawa untuk menuangkan gagasan. Widodo dalam Nembang Macapat (2008) menyebut, mereka lebih memilih bentuk ungkap lain yang kemudian dipandang lebih modern, luwes dan tidak mengikat, seperti novel, cerita cekak (cerkak), dan gurit (puisi berbahasa Jawa). Macapat, kita tahu, mengharuskan penciptanya untuk sepenuhnya taat pada guru gatra, lagu, dan wilangan.

Sastra(wan) Jawa Modern

Ihwal sastra Jawa modern, tak jarang banyak sastrawan Jawa yang kemudian menjadi penulis sastra Indonesia. Hal ini, di sisi lain, harus diakui berakibat memudarnya pamor sastra Jawa, selain juga bukti bahwa sastra Jawa makin tidak mampu memberi harapan penghidupan kepada pelakunya.

Bahkan tak jarang, sastra Jawa kemudian disebut-sebut sebagai sastra yang tak punya identitas: apa yang disebut novel berbahasa Jawa, cerkak, hingga geguritan tak lain adalah wujud lain dari moda ungkap sastra berbahasa Indonesia. Sastra Jawa dianggap cuma meniru ruh dan sekadar pengalihbahasaan.

Pendapat lebih nyinyir disampaikan oleh Arswendo Atmowiloto yang pada 1975 menulis hal yang kontroversial. Salah seorang pendiri majalah berbahasa Jawa Darma Kanda itu menulis di harian Kompas dengan judul Kalaupun Sastra Jawa Berakhir, Apa Salahnya? Arswendo menyikapi semakin banyaknya sastrawan Jawa yang hijrah ke sastra Indonesia ketika itu. Menurutnya, hal tersebut harus dipandang sebagai sebuah kemajuan, karena nyatanya sastra Jawa semakin tak memberi penghidupan yang layak, kepada sastrawannya.

Namun bukan berarti sastra Jawa tak ingin mencoba bertahan. Pada tahun-tahun tersebut, sastra Jawa dilabeli “roman picisan” karena dijual murah dengan isi cerita yang selalu erotis, didukung sampul dan ilustrasi cerita yang seronok, selain juga kualitas kertas yang rendah. Sastra Jawa “roman picisan” ketika itu pun mudah didapati di berbagai tempat-tempat umum, seperti terminal dan pasar.

Maka jelaslah, ketika karya sastra dicipta untuk dinikmati orang lain, pengarang pun mencoba melahirkan karya sesuai dengan kebutuhan penikmatnya. George Quinn dalam penelitian yang mendalam, Novel Berbahasa Jawa (1995) menyebut, pengarang harus senantiasa sadar mengenai orang yang akan membaca karyanya. Karena jika ia hanya menulis untuk dirinya sendiri, setiap orang yang membaca karyanya itu bisa jadi tak akan mengerti dan menyukai.

Antara Jawa dan Indonesia

Dalam rentang 2013, setidaknya Suparto Brata mamatahkan anggapan ini: kehijrahan sastrawan Jawa ke Indonesia bakal membikin redup sastra Jawa. Sebagai sastrawan “dua bahasa”, ia yang selain acap mengisi kolom cerita cekak di majalah mingguan berbahasa Jawa Panjebar Semangat dan Jaya Baya, menerbitkan novel berbahasa Indonesia Tak Ada Nasi Lain (2013).

Sungguh tak ada yang meragukan eksistensi sastrawan sepuh kelahiran 1932 ini dalam jagat sastra Jawa dan Indonesia. Dalam banyak kesempatan, Suparto selalu memberi “doktrin”: sastra adalah buku, bukan di media massa yang cuma dibaca sekilas. “Buku adalah sejatinya sastra yang mengajarkan sastrawan untuk bertanggung jawab.” Suparto acap menerbitkan kumpulan cerkaknya menjadi buku.

Hal itulah yang boleh jadi mempengaruhi Fitri Gunawan yang menulis cerita bersambung di kolom Panjebar Semangat pada September 2012-Maret 2013. Ia kemudian membukukannya dalam wujud novel dengan judul yang sama, Sang Pangeran Pati. Novel ini, menurut kritikus sastra Jawa, Daniel Tito, berlatar “sinetron banget”: lekat dengan realitas kekinian berikut masalah-masalah sederhana. Pembaca awam, menurutnya, tak perlu punya banyak referensi untuk mampu memahami Sang Pangeran Pati.

Dan, mau tak mau, sastra Jawa modern, atau di bagian lain disebut sastra Jawa populer, harus hadir dengan penuh kesederhanaan. Di era ini, pengarang semakin perlu melakukan hal itu supaya karya yang mereka buat dibaca oleh banyak orang. Hal itu bukan tanpa alasan, masyarakat di era sekarang tidak menyukai hal-hal yang rumit.

Realitas pembaca sastra (Jawa) itu seolah mengarahkan sastrawan untuk tidak terjebak pada konklusi sastra yang “adiluhung” dan yang “murahan”. Kalaulah kita senantiasa mengamini sastra adalah ekspresi dan sikap umum terhadap kehidupan, itu berarti sastra bukan sekadar pencitraan, bukan?

Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s