Sastra Jawa Modern Pascakemerdekaan[*]

Oleh Dhoni Zustiyantoro

Kemerdekaan Indonesia menjadi penanda penting dalam sejarah kesusastraan Jawa. Pada masa penjajahan, pemerintahan kolonial telah mengontrol segala hal terkait bahan bacaan, termasuk sastra, yang juga digunakan sebagai bahan ajar di sekolah formal kolonial. Ras (1985) menyebut, keinginan untuk “memerdekakan” karya sastra muncul setelah Indonesia menyatakan diri sebagai negara merdeka.

Telah lama sastra Jawa hidup dalam ragam tradisional. Secara turun-temurun, para pujangga di keraton menggunakan tembang macapat sebagai wadah penciptaan. Beberapa karya yang termasyhur adalah Wulangreh(karya Pakubuwana IV, 1768-1820), Kalatidha (karya Ranggawarsita, 1802-1873), dan Wedhatama (karya Mangkunegara IV,1811-1881).

Kita tahu, tembang macapat mengharuskan penciptanya untuk taat pada guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan yang, bila hal itu tidak ditaati, akan berpengaruh pada distribusi makna. Macapat juga mengandung bahasa arkais dan butuh penerjemah untuk dapat memahami makna yang terkandung. Karena diabdikan untuk kekuasaan dan digunakan sebagai alat pencitraan penguasa, sastra Jawa klasik menjadi minim kritik terhadap pemerintahan yang berkuasa. Meski kemudian ditemukan sejumlah serat yang berisi kritik itu, namun kritik terhadap datangnya Islam yang dianggap menggoyahkan kebudayaan Jawa, sebut saja serat Gatholoco, danDarmagandhul (Ki “Kalamwadi”).

Sejauh mana sastra dapat merepresentasikan keadaan zaman dan sampai di mana sastra dapat dijadikan rujukan sejarah? Dua pertanyaan ini hampir pasti mengemuka ketika mendudukkan sastra sebagai bagian yang terpisahkan dari apa yang saya sebut sebagai kahanan.

Kita sepakat, pengarang adalah penguasa dalam dunianya sendiri, dunia sastra yang bakal dia ciptakan. Namun, sebebas apa pun dia, tetaplah membutuhkan medium bahasa yang, secara konvensional, digunakan sebagai medium penciptaan sastra. Dalam kondisi macam inilah, pengarang harus bergulat dengan kahanan: membaca, menyuguhkan, hingga menafsir keadaan. Keadaan, yang kemudian bakal menjadi sejarah, hanya menjadi “modal” awal pengarang untuk berkarya.

Sastra Jawa modern—Ras (1985) menyebutnya sebagai “sastra Jawa gagrag anyar” dan “sastra Jawa model baru” —diciptakan sebagai upaya perlawanan terhadap sastra Jawa tradisionalis yang dinilai mengekang itu. Damono (1993) mendeskripsikan, sastra Jawa disebut “modern” karena dalam penyampaiannya telah menggunakan huruf latin dan didistribusikan (diperbanyak dan dibaca) ke luar keraton.

Sastra Jawa modern ditengarai mulai muncul ketika Padmosusastro membuat Serat Rangsang Tuban (1912) yang berwujud novel—tidak menggunakan medium tembang. Dia menyebut diri sebagai tiyang mardika ingkang marsudi dhateng kasusastran Jawi (Panjebar Semangat, 1961). Setelah itu, pintu penciptaan sastra Jawa modern seakan terbuka lebar. Santosa (dalam Suratno, 2013) menyebut, dalam awal abad itu, buku berbahasa Jawa yang diterbitkan Balai Pustaka cukup banyak karena mayoritas pribumi yang berpendidikan formal Barat adalah masyarakat Jawa.

Santosa menyebut novel yang diterbitkan Balai Pustaka ketika itu antara lain Katresnan, Saking Papa dumugi Mulya, Gawaning Wewatekan, Gambar Mbabar Wewados, Pepisahan Pitu Likur TaunPameleh, dan Garang Garing. Meski kemudian, novel tersebut sarat akan muatan kebijakan pemerintah Belanda dan kelangsungan penjajahan di Indonesia. Di samping itu, novel-novel tersebut bisa dibilang sekadar peniruan dari budaya Belanda.

Bukan berarti penciptaan tembang macapat lenyap setelah kemerdekaan. Tembang macapat, lelagon dolanan anak, hingga gending-gending Jawa—yang memuat syair-syair berbahasa Jawa—masih diciptakan oleh para pengarang yang hidup setelah kemerdekaan. Hal itu karena masyarakat Jawa memiliki tradisi lisan yang kuat. Sastra Jawa tidak hanya tertulis, tapi juga ditembangkan pada banyak kesempatan berkumpul (Ras, 1985). Itulah mengapa, masih banyak para pengarang sastra Jawa yang berkarya dengan medium sastra lisan ini.

Syahdan, berawal dari kesadaran pascakolonial, apa yang disuguhkan pengarang pun menjadi lebih “merdeka”. Tak terhindarkan lagi hegemoni Indonesia maupun Barat yang asyik-masyuk ke dalam sastra Jawa. Dan, setelah kemerdekaan, sejauh mana pengarang mampu menyuguhkan kahanan dalam karyanya dan sampai di mana karya itu mampu “memotret” kahanan—pascakemerdekaan?

 ***

Munculnya sastra Jawa modern pada mulanya menjadi bahan ejekan oleh para kaum bangsawan yang feodalistis. Mereka menganggap sastra Jawa yang mulai berkembang adalah “bacaan anak-anak dan tidak ada nilai sastranya”. Adapun yang dipandang sebagai karya yang layak disebut sebagai karya sastra, hanyalah karya sastra Jawa yang lahir dalam tembok keraton yang ditulis oleh para pujangga kerajaan (Utomo, 2002). Utomo mendeskrispsikan pada awal perkembangannya di era pascakemerdekaan, sastra Jawa modern mengandung unsur eskampisme.

Eskapisme merupakan sebuah keadaan atau sikap memasuki alam khayal atau hiburan untuk melupakan atau menghindari kenyataan-kenyataan atau masalah yang tidak menggembirakan (Utomo, 2002). Dalam karya sastra, eskapisme kerap dikaitkan dengan sastra populer yang diciptakan dengan tujuan menghibur. Utomo menyebut karya sastra Jawa berwujud cerita pendek (cerkak) dan novel, yang tercipta pada masa-masa awal pascakemerdekaan, banyak yang mengandung unsur eskapisme ini.

Damono (1993) menyebut jika sastra Jawa populer dengan tema tersebut merupakan “sastra pelarian”, tempat pembaca berusaha menghindarkan diri dari segala sesuatu dalam kehidupan sehari-hari yang digolongkan sebagai keburukan. Latar yang indah, dua tokoh yang rupawan, dan cakapan yang cekatan merupakan anasir adegan yang mampu menciptakan semacam dunia pelarian bagi pembaca. Damono pun memberikan contoh dalam cerkak Sampjuh (Panjebar Semangat, 17 Maret 1956).

Njono banjur mak prek, melu lubgguh ing satjedake. Karepe Warsinem arep nglungani. Ning lagi bae menjat, tangane bandjur digeret. Bareng lungguh maneh, djanggute bandjur dijdiwit mak tjetiiiiit. Warsinem sambat, karo mlerok. Atine Njono saja tab-taban. Warsinem bandjur ndingkluk, dolanan krikil kang ana ing lemah.

Membeludaknya sastra Jawa roman picisan atau panglipur wuyung dikarenakan sebagai upaya pelarian dari gejolak sosial, politik, ekonomi, dan budaya pada awal-awal kemerdekaan. Hal itu tentu didorong oleh berkembangnya penerbitan majalah-majalah berbahasa Jawa yang mulai menjamur. Selain Panjebar Semangatyang terbit di Surabaya pada 1933 dan Jaya Baya yang mulai terbit di Kediri pada 1945, setelah kemerdekaan, majalah yang terbit adalah Djaka Lodhang (Yogyakarta, 1967), Gumregah (Surakarta, 1967), Kunthi (Jakarta, 1969), Dharma Kanda (Surakarta, 1967), Dharma Nyata (Surakarta, 1971), Parikesit (Surakarta, 1971),Kumandhang (Jakarta, 1973).

Utomo juga menjelaskan, ciri utama dari sastra Jawa panglipur wuyung adalah dicetak tipis dan seukuran saku sehingga membuat harganya murah. Unsur-unsur intrinsik, misalnya kisah yang ditampilkan, adalah seputar percintaan dengan alur dan bahasa yang sederhana. Semua unsur itu membuat isinya mudah dipahami.

Selain dapat dijelaskan melalui ciri-ciri yang ditampilkan oleh roman panglipur wuyung, dominannya fungsi hiburan dapat dijelaskan pula dengan pemahaman historis tentang situasi dan kondisi negara ketika itu. Dalam perkembangannya, sastra panglipur wuyung tidak sebatas pada novelet yang dicetak tipis dan dengan kualitas rendah, tapi kemudian berkembang menjadi sastra yang bertema erotis didukung dengan ilustrasi gambar yang seronok (Utomo, 2002).

1

Gambar 1: Sampul depan novelet “Neng Ati” karya Any Asmara. Foto: repro buku “Eskapisme Sastra Jawa” (Utomo, 2002).

Novelet yang terbit dan kemudian dikaji oleh Utomo di antaranya Bocah Alim (1959), Wong kang Nyalawadi(1959), Gara-gara Rok Mepet Rambut Sasake (1966), Mekar ing Mangsa Panen (1966), dan Prawan Kaosan(1973).

Pada masa yang kurang lebih sama, pergumulan terhadap realitas ditanggapi secara lebih serius dalam kesusastraan Indonesia. Kita tahu, tahun 1960-an merupakan tahun-tahun paling panas dalam gejolak politik di Indonesia. Alhasil, tema-tema pergerakan dan perlawanan secara riil menjadi hal yang lebih ditonjolkan. Balai Pustaka setidaknya menerbitkan novelet Masa Bergolak (1968), Aku Penerus Juangmu (1978), Pijar-pijar Api Perang (1982), Pahlawan dan Kucing (1987), dan Anak dalam Perang (1988).

***

Ketiadaan hal serupa dalam sastra Jawa, termasuk kritik dan upaya perlawanan terhadap pemerintahan, tiada lain karena konvensi budaya Jawa tidak berada dalam keterbukaan kritik. Bukan tanpa alasan, masyarakat Jawa punya prinsip alon-alon waton kelakon dan tidak terbiasa dengan perubahan yang serba mengejutkan (Mulder, 1984). Secara turun-temurun, budaya feodalistis yang menghormati liyan karena lebih berumur, senioritas, dan jabatan—bukan karena prestasi, diajarkan sebagai nilai yang diyakini keluhurannya. Dan, alih-alih merespon keadaan dan berbagai pergolakan keadaan ketika itu, sastra Jawa justru “menyimpang” dan melawan dengan cara “memilih jalur lain”, yakni genre sastra Jawa panglipur wuyung.

Konvensi budaya merupakan salah satu bagian terpenting dalam membentuk formula dalam sebuah karya sastra (Cawelty, 1976). Yang dimaksud konvensi budaya dalam karya sastra adalah hal-hal yang telah dipahami oleh masyarakat penikmat karya sastra itu. Misalnya, wanita Jawa yang ideal adalah yang selalu menurut pada suami, menjadi ibu rumah tangga, dan tidak neka-neka. Pria Jawa ideal adalah mereka yang dadi wong: mampu menghidupi keluarga, berkecukupan, dan menjadi pemimpin keluarga yang baik.

Dalam sastra Jawa modern, termasuk juga sastra dalam medium bahasa lainnya, formula menjadi penting di saat para pengarang ingin karyanya dibaca banyak orang. Hal-hal yang sebenarnya telah diketahui oleh masyarakat Jawa, menjadi modal utama untuk menciptakan karya yang formulanya sama, sebanyak-banyaknya. Karena pada kenyataannya, sastra modern yang kemudian berorientasi pada kepopuleran itu menuntut untuk tidak terlalu memberatkan pembaca dalam usaha penikmatannya. Penikmat tidak bisa mencari pandangan segar, tidak bisa mencari arah baru yang menuntunnya keluar dari kekangan konvensi (Damono, 2000).

Meski kemudian bila dilihat dari perspektif lain, perubahan budaya akibat kolonialisme bersifat sangat kompleks. Bandel (2013) menyebut dalam konteks kolonial, budaya penjajah dan terjajah bukan sebagai kekuatan yang setara. Sebagai akibat dari ketidaksetaraan itu, Bandel menjelaskan di dunia ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kesenian, model dan standar Barat kini digunakan secara universal, sedangkan pengetahuan lokal terpinggirkan atau tereksotiskan. Dalam perspektif Bandel, sastra Jawa modern panglipur wuyung juga dapat dimaknai sebagai respon terhadap kahanan pergolakan kebudayaan pascakolonial.

***

Sastra Jawa modern yang hidup pada ranah konvensi budaya Jawa yang mengajarkan masyarakatnya bertindak untuk tidak sepenuhnya terbuka, banyak ditemukan tanda yang sangat mungkin menuai penafsiran yang beragam. Tidak terkecuali untuk sastra Jawa klasik, yang harus diterjemahkan terlebih dahulu untuk memahami isi dan maknanya yang rumit, adalah alasan mengapa sastra itu dianggap sebagai sastra adiluhung (Damono, 2000). Apa yang diungkapkan pengarang dalam karya sastra yang dibuat, disamarkan dalam karyanya.

Berdasar hal tersebut, dalam budaya Jawa muncul pula konvensi bahwa semakin samar apa yang diungkapkan, akan semakin menunjukkan kedewasaan manusia Jawa. Sedangkan yang belum mampu melakukan hal tersebut, dianggap durung Jawa, tidak njawani, atau belum dewasa dari sisi kawruh atau pengetahuan (Zustiyantoro, 2012).

Kini, konvensi budaya itu masih senantiasa digunakan pada sastra Jawa modern. Karena bagaimanapun, sastra Jawa merupakan sastra nasihat, yang di dalamnya penuh dengan wejangan yang berguna bagi kehidupan masyarakat pembacanya (Damono, 2000). Akan tetapi, dalam kaitannya dengan sastra yang lebih populer, sastra Jawa hadir dengan berbagai penyederhanaan simbol. Di era modern, pengarang semakin perlu melakukan hal itu supaya karya yang mereka buat dibaca oleh banyak orang.

Hingga kini, konvensi budaya Jawa masih tergambarkan dalam karya sastra Jawa modern. Pada 14 September 2013, misalnya, Panjebar Semangat memuat cerkak Ngempet karya Suparto Brata. Ketidakberdayaan untuk menyuarakan pendapat dan melawan, diceritakan dalam cerita itu. Saya menyuguhkan analisis cerkak itu dengan teori semiotik model Subur Wardoyo (2005).

2

Gambar 2: Ilustrasi gambar pada cerkak “Ngempet” karya Suparto Brata (Panjebar Semangat, 2013).

Berdasar pembacaan saya, narasi Ngempet bertumpu atas binary opposition: hidup dalam ketertundukan versushidup dalam kebebasan. Oposisi tersebut menjadi pancang bagi sebuah struktur skema naratif dasar: [Aku duduk–Aku berlari–Aku mengajak ngobrol dan berkirim pesan singkat].

Skema naratif dasar ini berkisar dari tokoh Aku yang hampir selalu dikisahkan pada posisi duduk. Pada awal cerita, Aku naik angkutan dari rumah Rungkut ke Jayabaya dan kemudian naik ojek dari Jayabaya ke Osowilangun. Setelah itu, Aku melanjutkan perjalanan dengan naik bus dari Osowilangun ke Bojonegoro. Duduk merupakan ketertundukan dan ketidakmampuan Aku pada rasa ingin kencing yang sudah dirasakan semenjak dari pos ojek Osowilangun.

Selain itu, pada pergantian naik angkutan satu ke angkutan yang lain, Aku juga selalu berlari. Termasuk ketika Aku meminta kondektur bus menunggu sejenak di terminal Bunder, karena Aku sudah tidak tahan lagi ingin kencing. Namun setelah masuk ke dalam toilet, karena punya kebiasaan sulit kencing, Aku kesulitan dan tidak tuntas dalam mengeluarkan air kencing. Hal itu dialaminya:

[…] Mlebu toilet, clana dakbukak, kathok njero dakcincingke, dakcurake… ndadak angel metune. Pancen aku duwe penyakitan kaya ngono. Angger mbayangake arep mlebu jedhing, rasane ora kena diempet, bareng wis cucul, diedenke uyuh angel metune. Ngono uga ing toilet kuwi. Metune mung sithik-sithik, kudu sabar yen ngenteni nganti tuntas. Ning ya ora ndang tuntas.

Sepanjang cerita, Aku juga melakukan aktivitas berbincang dengan tukang ojek dan orang di bangku sebelah di dalam angkot dan bus. Hal ini dilakukan agar Aku sedikit terlupakan pada kencing yang selalu ditahan. Selain itu, Aku juga sesekali berkirim pesan kepada orang yang bakal menjemput di terminal Bojonegoro.  Kondisi macam ini nampak:

Aku SMS Mas Hoery, “Numpak bis Moedah. Aku gebled pipis, ning bise wis mlayu banter ing jalan tol.”

Dunia kebebasan sebagai oposisi biner yang ingin dibangun dalam cerita, berupa keadaan di sekitarnya. Di saat Aku hanya bisa duduk dan ngempet, tukang ojek bebas bercerita tentang kisah hidupnya yang tidak mendapat balsem (bantuan sosial sementara). Setelah itu, di dalam angkutan, Aku juga melihat orang dengan bebas naik-turun kendaraan yang ia tumpangi. Kebebasan juga tercermin ketika datang dua orang pengamen cantik yang bersuara merdu. Sebuah hal paradoks dengan keadaan Aku yang tak bisa berbuat banyak karena menahan rasa ingin kencing.

Berdasar hasil analisis, Aku yang bersedia menumpang ojek dan mengatakan “Nggih, pun, ngga!” sebagai signifier utama dalam cerkak ini. Kesanggupan Aku untuk naik ojek merupakan index dari seluruh beban psikologis bawah sadar tokoh Aku. Kalimat itu manandaskan bahwa untuk menuju Osowilangun, Aku memutuskan untuk naik ojek daripada naik bus kota. Hal itu dia lakukan karena selain tukang ojek yang mampu membujuk, Aku juga meyakini bahwa naik ojek akan memangkas waktu tempuh. Dan, hal yang paling utama, tokoh Aku ketika itu telah merasakan ingin kencing, selain waktu untuk menunggu bus kota juga lama. Tanpa berpikir panjang, Aku segera berkata, “Nggih, pun, ngga!” ketika tukang ojek menawarkan jasanya. Tukang ojek pun berkata:

[…] “Ojek mawon, Pak. Dangu. Sajam melih baru enten. Sabtu bise dikurangi. Ngojek kula Rp 20.000 sampek teng terminal. Ngge pelarisan, regi bensin 13, opah ngojek 7 ewu,” ana tukang ojek nawani aku. Penyakit, aku wis krasa gebled ngyuh, becik enggal tekan terminal Osowilangun, nguyuh kana. “Nggih, pun, ngga!” Aku numpak ojek, werrr!

Kemudian, kesanggupan untuk ngempet air kencing dilakukan tokoh Aku hingga naik angkutan berikutnya. Meskipun sudah kencing di toilet saat bus singgah di terminal Bunder, akan tetapi Aku tidak tuntas dalam mengeluarkan air seninya. Walhasil, Aku harus kembali ngempet.

Ketertundukan Aku pada ngempet juga tercermin sepanjang cerita. Aku selalu berada dalam posisi duduk dan berlari. Duduk saat berada di atas angkutan, dan lari ketika harus berganti dan naik angkutan kembali. Semua hal itu konsisten dia lakoni karena punya kesanggupan, “Nggih, pun, ngga!”

Secara keseluruhan, cerita Ngempet mempunyai makna yang mendalam. Bagi masyarakat Jawa yang tidak bisa selalu terbuka dalam banyak hal, Ngempet merupakan kritik sosial. Seseorang yang bahkan untuk kebutuhan mendasar pun, yakni kencing, sampai tidak terpenuhi dan memperjuangkan “hak” itu sendiri. Budaya Jawa yang mengajarkan masyarakatnya untuk selalu mengungkapkan segala sesuatu secara samar dan tidak blak-blakan, pada tataran tertentu adalah hal yang tidak menyenangkan.

Meskipun kemudian Ngempet juga bukti bahwa, masyarakat Jawa selalu ingin menahan banyak hal yang diinginkannya. Hal ini saya anggap sebagai nilai moral yang masih relevan hingga saat ini, karena di tengah arus modernisasi yang mengarah pada konsumerisme, masyarakat modern seakan ingin mendapatkan segala karena keinginan, bukan kebutuhan. Semua barang ingin didapat, tanpa memperhatikan kegunaan dan berapa banyak uang yang dikeluarkan. Dalam tataran inilah, ngempet mampu pula menjadi auto kritik bahwa segala keinginan hendaknya diempet, untuk kemudian dipikirkan dan direnungkan kembali. Terlebih lagi, hal ini akan sangat berarti ketika harus memutuskan hal-hal besar yang bakal memiliki pengaruh terhadap kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat.

***

Dalam khazanah sastra Jawa, cerita bertema pesugihan pun masih senantiasa diciptakan hingga kini. Hal itu karena majalah Panjebar Semangat—sebagai salah satu majalah mingguan berbahasa Jawa terbesar—masih menyediakan kolom Alaming Lelembut dalam setiap kali penerbitannya yang, menurut saya, menjadi pemicu genre sastra bertema mistis dan gaib.

Dalam tataran realitas, banyak tempat di Jawa masih diyakini dihuni oleh makhluk gaib yang dapat dimintai bantuan untuk mendatangkan rezeki dalam tempo singkat. Tempat-tempat itu, yang biasanya diceritakan berlatar hutan atau pegunungan, tak lepas dari kepercayaan masyarakat Jawa yang percaya terhadap kekuatan lain di luar manusia dan Tuhan. Ada korelasi antara cerita rakyat dengan kehidupan alam dan kepercayaan terhadap makhluk gaib yang memiliki kekuatan untuk membantu berbagai urusan manusia.

3

Gambar 3: Ilustrasi gambar pada cerkak “Dhanyang Pesugihan” (Panjebar Semangat, 2011).

Cerita pesugihan selalu dimulai dengan kegagalan seseorang, entah dalam membina rumah tangga, gagal karena tidak dapat mendapatkan pasangan yang dikehendaki, hingga gagal secara ekonomi. Tokoh yang mengalami hal ini sering digambarkan mempunyai tubuh dan wajah yang, kalau tidak buruk, pastilah sangat rupawan. Tidak ada yang yang digambarkan secara “biasa-biasa” saja. Hal itu kemudian membuat tokoh frustasi dan putus-asa dalam menjalani hidup di tengah masyarakatnya. Dia merasa rendah diri karena tidak bisa dadi wong, sebutan untuk orang Jawa yang dapat hidup normal, yakni punya istri, berkeluarga dan berkecupan.

Pesugihan tentu saja bertentangan dengan budaya Jawa. Mengambil pesugihan tidak sejalan dengan tatanan yang terdapat dalam budaya Jawa. Pesugihan merupakan cara cepat untuk meraih kemuliaan tanpa berusaha secara wajar, dan itu tidak dibenarkan. Di sisi lain, pesugihan yang meminta syarat berupa tumbal nyawa yang harus selalu diberikan secara rutin juga merugikan orang lain. Setidaknya hal itu bertentangan dengan tatanan Jawa: pasrahalon-alon waton kelakon, dan aja gawe sengsaraning liyan.

Kepercayaan akan dunia mistis yang banyak didapati dalam cerita rakyat Jawa tersebut disebabkan latar belakang masyarakat Jawa yang tidak terlepas dari animisme dan dinamisme. Termasuk pula, dalam ranah kebudayaan, masyarakat Jawa selalu ingin hidup untuk selaras dengan alam. Dalam berbagai kesempatan, mereka sering menggelar ritual untuk menghormati alam dan kekuatan lain.

Dalam cerita pesugihan, nama tempat yang dapat dikunjungi untuk meminta pesugihan sering disamarkan atau tidak disebutkan. Hanya disebutkan di gunung atau alas yang angker dan memang sudah terkenal dapat dimintai pesugihan. Tempat itu didatangi oleh “mereka yang telah putus asa”. Selain itu, pesugihan dapat pula diminta kepada “orang pintar”. Karena faktor sosial dan tekanan atas banyak hal, seseorang bisa memutuskan untuk mencari kemuliaan dengan cara seperti itu.

Pesugihan, seperti yang kita tahu, selalu meminta tumbal atau korban nyawa yang harus selalu diberikan secara berkala. Bila tidak, dhanyang pesugihan sendiri yang akan “memakan” si majikan. Memang, tak lama setelah datang kepada “orang pintar” untuk meminta pesugihan, seseorang akan mendadak mendapat kemuliaan. Namun dia harus konsisten atas apa yang telah menjadi perjanjian: mengorbankan nyawa keluarga atau saudaranya.

Hingga kini, masih banyak dijumpai pesugihan–baik yang hadir sekadar sebagai cerita atau diyakini sebagai kenyataan–yang menjadi perbincangan masyarakat Jawa. Di tengah mereka, hal-hal yang berkaitan dengan kehilangan uang secara tiba-tiba, langsung dikaitkan dengan adanya tuyul yang mengambil. Termasuk bila melihat tetangga yang mendadak sugih, tanpa menampakkan jerih payah terlebih dahulu. Hal seperti itu, dinilai sebagai hal yang tidak wajar dan lekat dengan ciri orang yang mengambil pesugihan. Hal itu karena, sekali lagi, masyarakat Jawa punya prinsip alon-alon waton kelakon dan tidak terbiasa dengan perubahan yang serba mengejutkan (Mulder, 1984). Karena hal itu, semua hasil yang telah diperoleh harus “ditampakkan” juga usaha-usaha untuk meraihnya. Bila ada yang seolah tak sesuai dengan prinsip ini, boleh jadi seseorang dalam kehidupannya di masyarakat akan dicurigai memiliki pesugihan.

***

Menurut saya, adalah hal yang menggembirakan jika semakin banyak karya sastra yang ditulis dengan kesadaran pascakolonial. Karena dengan cara seperti itu, sastra akan berfungsi sebagai representasi atas  kahanan: sastra akan banyak berbicara tentang relasi kekuasaan global serta kondisi khas masyarakat pascakolonial yang menjadikan kritik dan perlawanan sebagai ciri utama. Dan, sejauh mana kita mendapati hal itu dalam jagat sastra Jawa modern?

[*] Prasaran untuk diskusi putaran keempat Forum Studi Morfem Bebas, Rabu, 26 Maret 2014, di kediaman Sendang Mulyana, Perum Trangkil, Gunungpati, Semarang.

Rujukan

Bandel, Katrin. 2013. Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas. Yogyakarta: Pustaka Hariara.

Brata, Suparto. Ngempet. Panjebar Semangat, 14 September 2013.

Cawelty, John. J. 1976. Adventure, Mystery, and Romance: Formula Stories as Art and Popular Culture. Chicago: The University of Chicago Press.

Damono, Sapardi Djoko. 1993. Novel Jawa Tahun 1950-an: Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Damono, Sapardi Djoko. 2000. Priyayi Abangan: Dunia Novel Jawa Tahun 1950-an. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Mulder, Niels. 1984. Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa. Jakarta: PT Gramedia.

Panjebar Semangat. 1961. Padmosusastro. Surabaya: Panjebar Semangat.

Utomo, Imam Budi., dkk. 2002. Eskapisme Sastra Jawa. Yogyakarta: Gama Media.

Ras, J.J. (ed.). 1985. Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir. Jakarta: PT Grafitipers.

Santosa, Puji. 2013. Memotret Masyarakat Jawa pada Awal Abad Ke-20, pengantar untuk buku Masyarakat Jawa & Budaya Barat: Kajian Sastra Jawa Masa Kolonial (Suratno, 2013). Yogyakarta: Penerbit Adi Wacana.

Quinn, George. 1995. Novel Berbahasa Jawa. Semarang: IKIP Semarang Press.

Wardoyo, Subur. 2005. Semiotika dan Struktur Narasi. Kajian Sastra, vol. 29, No. 1, Januari 2005.

Zustiyantoro, Dhoni. Aja Kaget, Aja Panik, Apalagi Nekat! Esai di harian Suara Merdeka, 18 Maret 2012.

Advertisements

Tentang Kuasa Materi dan Moralitas Akademik Itu…

Surahmat, yang juga kawanku. Kita berdua mungkin ditakdirkan untuk selalu gelisah. Dari niatan untuk bertemu dan ngobrol santai saja, ujung-ujungnya ke sana juga. Pada obrolan yang selalu mengerucut pada hal-hal yang sebenarnya tak melulu telah, sedang, atau bakal kita alami, tapi selalu kita anggap sebagai hal penting.

Tentang materi, kau kemarin malam juga bilang belum bisa lepas dari jerat pragmatis kuasa materi. Kau, atau juga aku dan banyak kawan seperjuangan lain, nyatanya masih butuh materi sebagai hal mendasar yang harus dipenuhi. Dan, kita belum mampu untuk memenuhi hal mendasar itu. Kau beristri tapi belum punya rumah seisinya, dan mobil. Aku belum punya istri, pun masih ngekos. Hal itu, kuanggap sebagai hal yang mendasari mengapa kau masih membawa perbincangan ini kepada apa yang kau sebut kuasa materi.

Jika aku balik bertanya, apakah ada yang tak takluk pada kapitalisme? Lihatlah laptop yang kugunakan untuk mengetik ini, juga Facebook yang sedang kau buka itu, semuanya hasil dari para pemodal besar, bukan? Belum lagi telepon genggam, baju, motor, dan banyak hal lain yang tanpa itu semua, kita mungkin tak bisa mempertahankan hidup normal di era kapitalis ini.

Kau juga tahu, kemarin aku tak begitu tertarik –atau tak paham– dengan perbincangan Martin yang mengupas asal-usul kekayaan. Namun, cukupkah kita mengutuk gerai ritel Indomart dan Alfamart yang kian menjamuri sekitar kampus, misalnya, yang menggusur pasar tradisional,  yang secara tidak langsung menggiring persepsi massa bahwa, misalnya, pasar krempyeng itu tak steril dan bersih karena konsep market yang ideal tiada lain adalah seperti ritel itu.

Dua puluh satu tahun lalu ketika aku hampir saban hari bermain umpet-umpetan ataugasingan bersama dua puluhan kawan di desa, aku tak ragu masuk rumah tetangga untuk minum air kendi. Dengan keringat yang bercucuran, aku tak segan untuk langsung masuk rumah tetanggaku dan menenggak air sepuasnya, sampai hilang dahaga agar bisa kembali bermain.

Namun, beberapa tahun belakangan ketika pulang ke desa, terutama pada Lebaran, kendi-kendi itu telah tergantikan oleh minuman mineral seukuran gelas 200 mililiter. Ya, warga desa tak ingin lagi repot-repot untuk sekadar memasak air dan menghidangkannya di atas meja, apalagi menyeduhkan teh atau kopi untuk para tamunya.

Juga kudapati anak-anak desaku sekarang lebih memilih untuk bermain perangkat elektronik macam telepon genggam Android yang sudah bisa diinstal game, mengakses Facebook, atau bermain Sony Play Station. Ya, orangtua lebih menghendaki mereka tak keluar rumah dan, bagi yang mampu, mereka menyediakan perangkat “pengekang” itu agar anak tak keluar rumah. Dengan tetap di rumah, orangtua leluasa untuk mengawasi anaknya tanpa harus khawatir salah pergaulan.

Syahdan, tak ada lagi anak-anak yang dengan riang bermain di halaman yang lapang. Banyak halaman rumah yang ketika itu berupa tanah sehingga bisa dipakai untuk bermain gasing, sekarang telah dicor. Anak-anak tak lagi bersama-sama bermain, tak ada lagi yang masuk-keluar rumah tetangganya untuk sekadar meminta minum.

Warga desa juga semakin tak percaya dengan air di sumur yang mereka gali sendiri. Air itu diyakini tidak steril dan berasa aneh. Ya, setelah beberapa lama terbiasa meminum air kemasan, mulai dari yang terbungkus plastik seukuran gelas yang telah terhidang di meja untuk njagani jika ada tamu, hingga air di galon yang tersaji di dapur. Mereka juga mengamini iklan yang setiap hari dilihat di televisi, bahwa air minum dalam kemasan itu “air minum untuk kesehatan keluarga”. Melalui nilai yang terus-menerus didistribusikan melalui iklan itu, kapitalisme makin merajai dan tak cuma sekadar hegemoni, tapi sudah menjadi laku hidup.

Kau tahu, betapa para pemodal besar telah menguasai tiap jengkal napas dan denyut nadi kita sekarang ini. Maka, kita sebagai kaum yang selalu mencoba kritis terhadap banyak hal kemudian melawan dengan berbagai cara. Kang Putu, misalnya, telah menggunakan perlawanan juga sebagai pilihan dan laku hidup sehari-hari. Ia tak ngunjuk air kemasan macam Aqua yang kini dimiliki oleh perusahaan asal Prancis, Danone.

Tapi, kemarin kau banyak dicecar oleh kawan-kawanmu setelah menulis “Sarjana Altruis” yang kau unggah pakai akunku di laman universitas itu. Kau membakar-bakar mereka, para sarjana itu, supaya bisa membikin nilai sendiri dan tak cuma mengekor. Termasuk memberi anjuran secara tak langsung untuk tidak memakai produk-produk kapitalistik. Kau menyebut manusia modern tak bisa lepas dari Apple dan Samsung, dua raksasa perusahaan yang telah merajai industri telepon seluler. Tapi, kau pakai Samsung dan menggelar tikar plastik, aku punya Apple, Martin minum air mineral, Kang Putu ngunjuk Fresh Tea…

***

Mat, di perguruan tinggi tempat kita bercokol sekarang ini, kita sering pula tak terima terhadap keadaan. Tapi, alih-alih bicara iklim akademik kampus, kita malah acap bicara politik yang tak seharusnya hinggap di sini. Dan, kita asyik membahas itu. Padahal, kau pernah SMS: “ngapain sih kita repot-repot mikirin itu?”

Di luar keadaan yang harus kita syukuri sebagai orang yang beruntung secara akademik, kita acap gelisah: kontribusi macam apa yang bisa kita lakukan untuk memajukan dunia keilmuan ini?

Kemarin malam aku memaparkan realitas yang kau amini, juga Mas Burhan: mahasiswa hanya mengandalkan pertemuan di kelas untuk menuntut ilmu. Padahal pengetahuan justru kian lebat didapat di luar kelas, pada pertemuan-pertemuan  komunitas, di sarasehan. Terlebih lagi, kasihan jika mereka diajar oleh para pengajar yang menganggap pendapat, referensi, dan semua yang dia hadirkan di kelas adalah yang paling benar. Alamak!

Sampai di sini, betapa kita, yang katamu masih muda ini, sangat butuh untuk selalu memantik-mantik iklim tak mudah terima terhadap realitas. Memang, mendobrak kemapanan yang sistemik macam ini sungguh tak mudah. Namun, kita bisa mengawalinya dengan memberi keteladanan untuk memberi sikap egalitarian. Mengajak mahasiswa untuk duduk dalam kursi yang sejajar, kalaupun tak ada kursi, maka lesehan, untuk terbuka berdiskusi, saling mengasupi.

Bukankah kita harus berbangga diri jika ada mahasiswa yang lebih tangguh dalam satu bidang saja? Itulah taruna ngungkuli bapa. Sekira 20-30 tahun ke depan, kita hendak bangga jika ada penulis, sastrawan, jurnalis, pendidik, presiden, atau minimal orang yang berguna bagi liyan yang ternyata orang yang pernah kita ajak duduk bersama dan saling hujat itu. Apa yang kita sebut sebagai mimbar akademik adalah keniscayaan yang harus terus-menerus diupayakan.

Aku yakin perkara macam ini selalu terjadi dari zaman ke zaman. Masa di mana Sucipto Hadi Purnomo, Saroni Asikin, Sendang Mulyana, Kang Putu, Achiar M Permana, Mukh Doyin, menempa diri misalnya, tak akan pernah kita dapati hari ini. Aku tak yakin mereka orang-orang yang tak gelisah, bahkan hingga detik ini. Dan, masa itu menghasilkan orang-orang seperti mereka. Kita berdua ini, yang tak patut untuk mematut-matut diri ini, mungkin adalah hasil dari generasi tempaan yang sudah makin banyak ngincipi kapitalisme yang justru makin meraja—karena kau selalu menyoal kapitalis.

Maka, mungkinkah kita mampu mencipta generasi yang, puluhan tahun ke depan dapat menatap dengan gagah berbagai tantangan hidup, yang mrantasi gawe, mumpuni dalam bidangnya, yang lebih menyalakan lilin dalam kegelapan timbang mengutuknya tiada henti?

Inikah juga yang kau sebut “anak muda yang memilih jalan hidup”? Cuma, satu hal yang selalu kuharap ada padaku dan padamu juga, semoga idealisme ini selalu berkobar, meski mungkin nanti kita menjadi PNS. Kau ingat kelakar malam itu?

Eh, iya, satu lagi, Mas Burhan wis berencana jadi penulis. Sepertinya kita harus cari profesi lain.

Kawanmu, yang juga teman ngopi,

Dhoni Zustiyantoro

————————————————————-

 

Sastra Jawa, pada Suatu Masa, di Suatu Tempat

Sungguh tersanjung tulisan saya yang berjudul “Masa Depan Sastra Jawa” di harian ini pada Minggu (16/2), ditanggapi oleh orang yang saya anggap penggawa sastra Jawa, Daniel Tito. Saya, tentu saja, banyak belajar dari beliau yang telah puluhan tahun konsisten dalam jagat itu.

Akan tetapi, saya tak pernah memperlakukan atau men-setting setiap tulisan supaya ketika dibaca khalayak, akan berpengaruh—apalagi dianggap sebagai tokoh paling berpengaruh, karena saya bukan Martin Suryajaya yang dengan cemerlang mendebat Goenawan Mohamad lewat esai-esainya. Namun, saya berharap mendapat hal baru dari hal ini, dari dialog kritis yang terbangun ini semoga memberi manfaat, juga bagi pembaca. Bukan sekadar saling lempar argumen di media sosial, seperti realitas sastrawan kita pada level nasional sekarang ini.

Daniel sangat optimistis tentang hidup dan berkembangnya sastra Jawa karena ia ada dalam lingkaran itu. Anggapannya tentang sastra Jawa tak punya kuburan adalah wujud optimistis untuk selalu mendenyutkan nadi “sastra nasihat”. Dalam tulisan ini, saya lebih ingin menyoal tanggung jawab sastrawan Jawa dalam kaitannya dengan regenerasi kepengarangan dan realitas kesusasteraan Jawa kita.

Mengapa dua hal ini menjadi kegelisahan, setidaknya bagi saya? Tiada lain karena sejarah telah menyebut: yang menggeluti sastra Jawa adalah mereka yang terbilang sepuh. Tanpa menyebut kembali nama demi nama, siapa pun pasti mengamini hal ini. Meskipun banyak pula yang telah merintis karier dalam usia belasan, tak ada yang langsung cemerlang dalam rentang usia itu. Terlepas dari ranah penguasaan estetis kebahasaan sebagai medium sastra, hal ini juga wujud sastra Jawa minim dilirik oleh yang muda.

Hal ini mungkin terjadi karena, pertama, sastra Jawa yang selain berlabel sastra nasihat karena selalu berisi wejangan, juga tak pernah selesai dalam urusan perjuangan. Ya, harapan untuk berkembang masih menjadi ihwal tak terpecahkan karena selalu berkelit-kelindan dalam upaya nguri-uri kebudayaan yang dinilai adiluhung, yang harus terjaga dari tangan jahil dan “masih muda”.

Sejarah membuktikan jika sastra dari masa ke masa juga digunakan sebagai alat legitimasi kekuasaan dan pencitraan, terlebih sastra Jawa yang mulai hidup pada masa kerajaan dan keraton. Masa kecemerlangan sastra Jawa yang ditandai dengan metafora yang rumit dan memerlukan juru tafsir macam itulah yang mungkin didambakan untuk bisa terulang dalam zaman yang berbeda.

Dihadapkan pada realitas, tak semua pembaca mampu dan dengan mudah tertarik. Dalam hal ini, sastra Jawa berada di persimpangan, berhadapan dengan pembaca yang memaknai sastra tak ubahnya seni yang lain: ia diciptakan sebagai sarana hiburan. Alhasil, yang rumit kian ditinggal. Pemahaman ini sama dengan Kaplan dalam The Aesthetics of the Popular Arts (1967) tentang seni populer. Menurutnya, seni populer memiliki cita rasa yang sedang, supaya membedakan dari seni cita rasa tinggi dan rendah.

Pada akhirnya, sastra Jawa tradisionalis pun cuma menjadi kelangenan. Daniel Tito bahkan menyebut, “bagi orang-orang Jawa masa kini, membaca karya sastra Jawa yang menggambarkan kehidupan orang-orang Jawa masa lampau akan menumbuhkan romantisme. Ada sesuatu yang indah, mengesankan.” Jangan salahkan jika ada yang lebih nyinyir: sastra Jawa telah ada dalam museum, yang sekali waktu bisa diziarahi untuk mengingat romantisisme.

***

Hal itu belum sampai pada ranah perbincangan masalah kepengarangan yang tentu saja lebih ironis. Yang sepuh asyik sendiri, pun dengan produktivitas dan publikasi yang tergolong kurang, yang muda makin takut bahkan untuk sekadar mengawali. “Takut salah” adalah realitas yang selalu membayang dalam benak para calon sastrawan Jawa kita di masa kini karena, apa yang mereka dapati dari sekolah dan masyarakat tentang Jawa, misalnya, tak pernah lepas dari hal teologis, luhur, dan sakral.

Nilai-nilai kehidupan dan wejangan masih menjadi hal yang senantiasa dikedepankan dalam proses kreatif sastra Jawa. Mereka yang sesekali berkarya lewat medium ungkap bahasa Jawa, yang masih grothal-grathul itu, tak mendapat ruang dan bimbingan yang optimal. Mulder (1984) menyebut mereka “belum menjadi Jawa”. Hal yang demikian kemudian saya anggap sebagai faktor kedua.

Dalam jagat sastra Indonesia yang tak bersusah payah memikirkan hal itu, tak terhitung jumlah anak muda yang mewarnai jagat kesusasteraannya. Semisal, pada 2013 Tempo memilih Deddy Arsya sebagai tokoh pilihan seni kategori sastra karena dalam buku puisinya, pemuda 26 tahun itu menciptakan puisi berdasar tafsir sejarah. Dia ingin masyarakat di daerah kelahirannya di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Selatan, lepas dari bayang kolonialisme yang ketika itu menduduki. Hal itu belum lagi pada jagat kesusasteraan barat yang liberal, yang tak repot memikirkan moral sebagai bingkai utama proses kreatif dan tema penciptaan sastranya.

Namun perspektif yang saya hadirkan secara langsung dapat dibantah dengan alasan sastra adalah realitas dan dokumen sejarah tempat di mana ia lahir. Darmanto Jatman dalam esai “Sastra Jawa Hujan Kritik” (2006) menganggap para fundamentalis itu punya anggapan Jawa sudah true believer, sudah sempurna! Tak ada suku lain yang lebih nges kebudayaannya daripada Jawa. Bila dugaan saya benar, tak ada celah untuk sastra Jawa bagi mereka yang muda. Sastra Jawa hanya hidup dan dihidupi mereka yang telah mumpuni: tentu yang mapan dalam pemerolehan bahasa Jawa. Yang telah tertahbiskan sebagai pemilik ruang yang justru makin dibikin sempit itu.

Setidaknya majalah Panjebar Semangat dan Jaya Baya adalah wajah riil sastra Jawa kita di masa kini. Panjebar Semangat, sekalipun awal tahun ini menaikkan harga per kover, namun tak diimbangi dengan kualitas sajian. Hingga kini ketidak-konsistenan ejaan masih terjadi pada majalah mingguan yang terbit semenjak 2 September 1933. Dengan tampilan yang lebih menarik karena full colour, Jaya Baya lebih bisa menarik minat dari sisi tampilan. Meski bila dijumlah, kedua majalah itu memiliki oplah tak lebih dari 30 ribun setiap minggu. Sebagai pemantik, majalah itu telah menghadirkan halaman khusus remaja dan pengarang pemula.

Penghargaan pun minim. Tak seperti sastra Indonesia yang banyak dihargai dalam forum-forum resmi yang dibuat pemerintah maupun swasta, penghargaan terhadap sastra Jawa hanya diberikan oleh Yayasan Rancage. Itu pun baru dilakukan Rancage lima tahun setelah digagas Ajip Rosidi pada 1989. Selain sastra Jawa, Hadiah Sastra Rancage diberikan tiap tahun pada mereka yang berkarya dan berjasa dalam sastra Sunda, Bali, dan Lampung.

Harusnya jagat maya menjawab banyak kendala tersebut. Betapa tidak, saat ini makin banyak akun Facebook, Twitter, dan grup yang berupaya sebagai sarana pembelajaran dan ruang kreatif sastra Jawa. Namun, alih-alih punya ribuan pengikut, admin tak punya cukup energi, untuk tak menyebut punya kompetensi, untuk ngopeni dan mengoreksi mereka yang membikin posting dan menautkannya. Padahal, jika digarap lebih serius untuk satu tujuan, semisal menerbitkan buku, ranah maya sangat memungkinkan untuk dioptimalkan. Tak berlebihan jika Sapardi Djoko Damono pernah menafsir sastra Jawa hanya akan hidup di berbagai sarasehan.

***

Di pengujung 2013, saya berkesempatan menjadi juri sebuah lomba cipta guritan. Meski berlabel se-Jawa Tengah, peserta lomba itu tak lebih dari 20 remaja seusia SMA. Dengan interpretasi masing-masing, mereka terbilang imajinatif dalam menerjemahkan tema “pahlawan” yang diberikan oleh penyelenggara. Dan, ketika kata menjadi medium ungkap sastra, penguasaan ejaan pun menjadi mutlak. Distribusi dan upaya pemaknaan menjadi gagal ketika ejaan yang benar tidak lagi dijalankan. Selain itu, minat dan apresiasi yang didorong dengan pembimbingan yang baik menjadi penentu komptensi calon sastrawan Jawa itu.

Dalam rentang yang demikianlah sebenarnya para pengajar sastra di sekolah harus hadir untuk mengambil peran. Kepada pengajar, sastra menanti untuk dibiakkan yang, sebenarnya bekal awal untuk itu, harusnya telah mereka dapati di perguruan tinggi. Pengajar sastra di perguruan tinggi pun harus cemerlang. Sampai di sini, betapa telah terlihat jelas rantai itu berputar dan saling berkait satu sama lain.

Memang, dilema pembelajaran sastra selalu mengemuka dalam setiap pertemuan sastra. Selalu pula ada langkah-langkah yang mencuat yang diamini bersama untuk mengatasi hal itu. Termasuk Kongres Sastra Jawa 2006 di Semarang yang memberi rekomendasi: materi sastra Jawa di sekolah perlu disederhanakan dan regenerasi sastrawan Jawa perlu diupayakan secara optimal. Namun, lagi-lagi langkah taktis lebih diperlukan daripada sekadar menggelar pertemuan yang selalu saja dihadiri oleh orang yang sama, semisal menerbitkan buku-buku sastra Jawa bermutu yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran di sekolah. Dan, tak ada jawaban paling hakiki dari segenap tanya dan polemik yang berlarut, kecuali terbuka terhadap perubahan dan menyodorkan karya secara terus-menerus. (Suara Merdeka, 2 Maret 2014)

Dhoni Zustiyantoro

Masa Depan Sastra Jawa

Hingga kini, sastra Jawa masih berada dalam konstruksi sastra nasihat. Ia dicipta sebagai sarana transfer nilai dan tuturan luhur yang dipercaya bakal membawa manusia, masyarakatnya pembacanya, untuk melakukan hal-hal baik. Sastra piwulang ini mengajak manusia kembali kepada hakikat. Kedalaman makna hidup menjadi inti dari setiap penciptaan.

Sastra Jawa klasik yang tercipta dalam medium tembang macapat maupun prosa adalah dokumentasi sejarah nilai yang, untuk memahami arti dan maknanya, dibutuhkan penerjemahan secara teliti. Hal inilah yang menurut Sapadi Djoko Damono disebut mengapa karya itu dianggap adiluhung. Dalam kaitannya dengan perkembangan sastra, masihkah hal berat itu berterima di kalangan masyarakatnya sendiri? Bagaimana pula cara supaya sastra Jawa tetap bernafas di kemudian hari?

Dalam catatan sejarah, sastrawan Jawa, yang kala itu jamak disebut pujangga, acap menggunakan tembang sebagai medium penciptaan sastra. Meski juga banyak ditemui karya berwujud prosa, seperti kisah Mahabarata yang ditulis dalam Jawa kuna pada akhir abad ke-10 masehi. Kemudian, semenjak abad 13, sastra Jawa masuk dalam kategori sastra Jawa pertengahan. Pada masa Majapahit inilah, sastra kidung menjadi kiblat penciptaan, misal Pararaton yang berwujud prosa dan Kakawin Dewaruci berupa tembang.

Padmosusastro, seorang pujangga Jawa yang kemudian kerap disebut-sebut sebagai pelopor sastra Jawa modern, tak lain setelah ia membuat novel Rangsang Tuban (1912). Setelah itu, pintu kemerdekaan untuk sastra Jawa seolah terbuka lebar. Padmosusastro pun memproklamirkan diri sebagai “tiyang mardika ingkang marsudi kasusastran Jawi”.

Seiring zaman yang bergerak, tembang macapat sebagai sebuah bingkai penciptaan sastra Jawa selama berabad-abad lamanya, dewasa ini bukan lagi menjadi bentuk ungkap pilihan para sastrawan Jawa untuk menuangkan gagasan. Widodo dalam Nembang Macapat (2008) menyebut, mereka lebih memilih bentuk ungkap lain yang kemudian dipandang lebih modern, luwes dan tidak mengikat, seperti novel, cerita cekak (cerkak), dan gurit (puisi berbahasa Jawa). Macapat, kita tahu, mengharuskan penciptanya untuk sepenuhnya taat pada guru gatra, lagu, dan wilangan.

Sastra(wan) Jawa Modern

Ihwal sastra Jawa modern, tak jarang banyak sastrawan Jawa yang kemudian menjadi penulis sastra Indonesia. Hal ini, di sisi lain, harus diakui berakibat memudarnya pamor sastra Jawa, selain juga bukti bahwa sastra Jawa makin tidak mampu memberi harapan penghidupan kepada pelakunya.

Bahkan tak jarang, sastra Jawa kemudian disebut-sebut sebagai sastra yang tak punya identitas: apa yang disebut novel berbahasa Jawa, cerkak, hingga geguritan tak lain adalah wujud lain dari moda ungkap sastra berbahasa Indonesia. Sastra Jawa dianggap cuma meniru ruh dan sekadar pengalihbahasaan.

Pendapat lebih nyinyir disampaikan oleh Arswendo Atmowiloto yang pada 1975 menulis hal yang kontroversial. Salah seorang pendiri majalah berbahasa Jawa Darma Kanda itu menulis di harian Kompas dengan judul Kalaupun Sastra Jawa Berakhir, Apa Salahnya? Arswendo menyikapi semakin banyaknya sastrawan Jawa yang hijrah ke sastra Indonesia ketika itu. Menurutnya, hal tersebut harus dipandang sebagai sebuah kemajuan, karena nyatanya sastra Jawa semakin tak memberi penghidupan yang layak, kepada sastrawannya.

Namun bukan berarti sastra Jawa tak ingin mencoba bertahan. Pada tahun-tahun tersebut, sastra Jawa dilabeli “roman picisan” karena dijual murah dengan isi cerita yang selalu erotis, didukung sampul dan ilustrasi cerita yang seronok, selain juga kualitas kertas yang rendah. Sastra Jawa “roman picisan” ketika itu pun mudah didapati di berbagai tempat-tempat umum, seperti terminal dan pasar.

Maka jelaslah, ketika karya sastra dicipta untuk dinikmati orang lain, pengarang pun mencoba melahirkan karya sesuai dengan kebutuhan penikmatnya. George Quinn dalam penelitian yang mendalam, Novel Berbahasa Jawa (1995) menyebut, pengarang harus senantiasa sadar mengenai orang yang akan membaca karyanya. Karena jika ia hanya menulis untuk dirinya sendiri, setiap orang yang membaca karyanya itu bisa jadi tak akan mengerti dan menyukai.

Antara Jawa dan Indonesia

Dalam rentang 2013, setidaknya Suparto Brata mamatahkan anggapan ini: kehijrahan sastrawan Jawa ke Indonesia bakal membikin redup sastra Jawa. Sebagai sastrawan “dua bahasa”, ia yang selain acap mengisi kolom cerita cekak di majalah mingguan berbahasa Jawa Panjebar Semangat dan Jaya Baya, menerbitkan novel berbahasa Indonesia Tak Ada Nasi Lain (2013).

Sungguh tak ada yang meragukan eksistensi sastrawan sepuh kelahiran 1932 ini dalam jagat sastra Jawa dan Indonesia. Dalam banyak kesempatan, Suparto selalu memberi “doktrin”: sastra adalah buku, bukan di media massa yang cuma dibaca sekilas. “Buku adalah sejatinya sastra yang mengajarkan sastrawan untuk bertanggung jawab.” Suparto acap menerbitkan kumpulan cerkaknya menjadi buku.

Hal itulah yang boleh jadi mempengaruhi Fitri Gunawan yang menulis cerita bersambung di kolom Panjebar Semangat pada September 2012-Maret 2013. Ia kemudian membukukannya dalam wujud novel dengan judul yang sama, Sang Pangeran Pati. Novel ini, menurut kritikus sastra Jawa, Daniel Tito, berlatar “sinetron banget”: lekat dengan realitas kekinian berikut masalah-masalah sederhana. Pembaca awam, menurutnya, tak perlu punya banyak referensi untuk mampu memahami Sang Pangeran Pati.

Dan, mau tak mau, sastra Jawa modern, atau di bagian lain disebut sastra Jawa populer, harus hadir dengan penuh kesederhanaan. Di era ini, pengarang semakin perlu melakukan hal itu supaya karya yang mereka buat dibaca oleh banyak orang. Hal itu bukan tanpa alasan, masyarakat di era sekarang tidak menyukai hal-hal yang rumit.

Realitas pembaca sastra (Jawa) itu seolah mengarahkan sastrawan untuk tidak terjebak pada konklusi sastra yang “adiluhung” dan yang “murahan”. Kalaulah kita senantiasa mengamini sastra adalah ekspresi dan sikap umum terhadap kehidupan, itu berarti sastra bukan sekadar pencitraan, bukan?

Dhoni Zustiyantoro