Jateng dan Mimpi Provinsi Vokasi

Gubernur Ganjar Pranowo meminta Kemdikbud melepaskan kewenangan pengelolaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), termasuk SD/MI, SMA, dan MA. Menurutnya, Kemdikbud lebih baik fokus pada perguruan tinggi dan tak perlu mengurus SMK. Dengan diserahkannya kewenangan dan penganggaran kepada provinsi, dia yakin SMK di Jateng bisa lebih berprestasi (Suara Merdeka, 21/1/2014).

Ganjar melontarkan pernyataan itu tepat lima tahun setelah Gubernur Jateng sebelumnya, Bibit Waluyo, mencanangkan Jateng sebagai Provinsi Vokasi. Ketika itu, Bibit menyatakan jika deklarasi Provinsi Vokasi merupakan wujud komitmen Jateng mengatasi persoalan terkait dengan besarnya angka pengangguran. Menurutnya, banyaknya pengangguran itu lantaran mereka yang lulus dari jenjang sekolah menengah atas tak dibekali keahlian tertentu yang cukup sebagai modal bekerja.

Ketika itu pula, Bibit menargetkan sebanyak 70 persen dari keseluruhan jenjang sekolah menengah atas adalah SMK. Sisanya, yakni 30 persen, adalah SMA. Di akhir masa jabatan, ia bersama Mendikbud M Nuh mersemikan SMK Kesehatan Darussalam di Bergas, Kabupaten Semarang. Dia berharap supaya Jateng dapat dijadikan contoh untuk provinsi lain dalam pembentukan Provinsi Vokasi.

Apa yang dilakukan Bibit dan dikatakan oleh Ganjar tentu sejalan dengan angan besar pemerintah untuk memberantas pengangguran. Dalam hal ini, Jateng harus berterima kasih kepada pemerintah pusat karena telah banyak dilirik dan dijadikan wahana untuk merealisasikan kebijakan itu.

Pada 1 Januari 2014, Mendikbud juga meresmikan Akademi Komunitas Pondok Pesantren Balekambang, Jepara. Selaras dengan itu, puluhan SMK berbasis pesantren pun telah didirikan di Jateng: di Kabupaten Pati terdapat 16 SMK, sedangkan di Kabupaten Jepara, Rembang, Magelang, Semarang, dan Pekalongan terdapat 67 SMK. Mendikbud mendukung penuh pengembangan SMK berbasis ponpes di Jateng dengan tujuan memperbaiki citra ponpes yang identik dengan kaum duafa dan marjinal.

Produk SMK pun patut untuk diperhitungkan. Tahun 2012, SMK 2 Surakarta berhasil menyedot perhatian publik dengan mobil Kiat Esemka. Meski belum sempurna, namun ikhtiar siswa di sekolah ini dapat dikatakan menjadi penguatan Jateng sebagai Provinsi Vokasi. Selain bidang otomotif, berdasar data Dinas Pendidikan Jawa Tengah, setidaknya terdapat 424 program keahlian yang dikembangkan di SMK, mulai dari bidang pertanian hingga berbagai ragam industri kreatif.

Hal itu tak terkecuali bagi SMK berbasis ponpes. Pesantren memiliki tradisi yang baik dalam ranah kegiatan belajar-mengajar. Penguatan SMK berbasis pesantren di Jateng oleh pemerintah pusat, adalah langkah strategis untuk para santri supaya ikut ambil bagian dalam percaturan global. Hal itu karena memang harus diakui, pesantren selama ini masih dikesampingkan keberadaannya dalam proses pembangunan fisik maupun kemanusiaan. Pesantren masih sebatas pelengkap upaya penguatan religiusitas-keagamaan.

Usia Produktif

Dalam rentang inilah, SMK sebenarnya hadir sebagai salah satu solusi untuk mengurangi pengangguran pada usia produktif. Berbagai keahlian dan kemampuan teknis yang didapat siswa di SMK diharapkan mampu membekali mereka untuk kelak terjun di masyarakat.

Adalah hal yang kurang tepat jika kemudian Ganjar tidak membaca semua itu dan memanfaatkan sekolah kejuruan sebagai kaca benggala, apalagi “baru” meminta supaya kewenangan SMK dilimpahkan kepada provinsi ini. Padahal jauh-jauh hari sebelumnya, SMK telah jauh bergerak, memberi kontribusi nyata dengan mencetak lulusan siap kerja, meski juga tak sedikit yang melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Berdasar data Direktorat Pembinaan SMK yang dapat diakses melalui datapokok.ditpsmk.net, hingga awal 2014, Jateng memiliki 1.428 SMK negeri dan swasta. Memang, jumlah itu masih jauh di bawah Jawa Barat yang memiliki 2.215 dan Jawa Timur sejumlah 1.657. Namun, deklarasi Provinsi Vokasi dan berbagai capaian menakjubkan di Jateng boleh jadi menjadikan provinsi ini nyolong start dalam upaya mengurangi pengangguran usia produktif melalui jalur pendidikan.

Langkah apa yang kemudian harus dilakukan oleh Gubernur Ganjar? Tiada lain adalah melakukan upaya penguatan dari dalam kepada SMK. Pertama, meningkatkan kompetensi para pengajar sebagai garda depan penentu kualitas lulusan. Dalam hal ini, Pemda Jateng wajib menggandeng perguruan tinggi untuk menggembleng para guru SMK.

Perguruan tinggi juga berperan melakukan pendampingan dan kontrol pendidikan secara berkesinambungan. Dalam ranah ini pula, prinsip “menempatkan orang yang tepat pada tempat yang tepat”, harus diterapkan secara ketat. Guru yang direkrut adalah guru yang memiliki kompetensi optimal.

Kedua, meningkatkan ketersediaan sarana penunjang praktik siswa. Siswa SMK banyak dihadapkan pada ranah praktik yang mengharuskannya untuk selalu berlatih dan mengasah keterampilan serta kemampuan teknis. Dengan adanya sarana praktik, bukan tidak mungkin siswa akan mampu lebih produktif dan kreatif dalam mengembangkan dan menciptakan berbagai produk.

Ketiga, memberikan inisiasi kepada lulusan untuk mengakses kemudahan mencari pekerjaan. Pemda harus punya inisiatif untuk menjadi perantara antara berbagai perusahaan yang ada di Jateng dengan SMK di provinsi ini. Dalam artian, ketika merekrut tenaga kerja, perusahaan harus memberikan prioritas kepada para lulusan itu, meski harus tetap ada pengawasan yang ketat ketika melakukan seleksi.

Gubernur Ganjar “cuma” tinggal mengajak SMK, perguruan tinggi, pakar pendidikan, perusahaan, dan pemerintah pusat, dalam hal ini Kemdikbud untuk duduk satu meja dan berdiskusi secara terfokus pada satu hal besar: menguatkan Jateng sebagai Provinsi Vokasi. Ya, supaya tak cuma dianggap sekadar mimpi di kemudian hari.

Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s