Kresna dan Pecahnya Bharatayuda

Mungkin bila Kresna tak jadi membacakan Bhagawadgita kepada Arjuna, Bharatayuda tidak akan terjadi. Dia memberikan wejangan itu karena Arjuna yang bakal maju ke medan perang Kurukshetra—tempat Bharatayudha berlangsung—merasa bimbang: harus memberangus Kurawa dan Durna, yang tiada lain adalah sanak saudara dan guru baginya.

Tidak hanya Kresna yang begitu mendalam dan filosofis dalam menyampaikan khotbah itu, Mahabharata juga menyebut raja di Dwarawati itu merupakan sosok pemimpin yang bijaksana, sakti, dan berwibawa. Tak ayal bila kemudian dalam pewayangan Jawa, ia dikisahkan punya tiga istri. Bahkan dalam kitab Bhagawadpurana, ia diceritakan menikahi 16.108 wanita, agar mereka terangkat derajatnya.

Dalam banyak referensi disebutkan, raja Dwarawati itu merupakan perwujudan dari Sang Ilahi yang tak cuma maha tahu, tapi juga sakti. Termasuk mampu menghidupkan kembali Parikesit, cucu Pandhawa yang diserang oleh Aswatama, anak Durna, ketika masih dalam kandungan Utari. Parikesit kemudian menjadi penerus Pandhawa.

Karena hubungan yang sangat erat, Arjuna mula-mula meminta Kresna untuk menjadi kusir. Tapi kemudian tidak cuma kusir yang selalu menuntun dalam setiap perjalanan, namun dalam banyak hal, Kresna menjadi pemandu Arjuna melewati segala kebimbangan dan menunjukkan jalan kebenaran.

Akan tetapi, ketika Pandhawa dan Kurawa tidak lagi menemui kata sepakat, setelah Pandhawa merasa dihianati dalam lakon “Pandhawa Dadu”, kedua pihak sepakat untuk mengadakan peperangan. Dalam lakon itu diceritakan, Pandhawa yang telah menjalani hukuman selama 13 tahun di Wirata atas kekalahannya bermain dadu, masih saja dianggap menyalahi aturan. Yudistira, yang tersulung di antara Pandhawa, selalu dihalangi Kurawa agar tidak menjadi raja di kerajaan Kuru.

Kresna yang ketika itu menjadi juru damai, merasa gagal karena tak mampu mendamaikan kedua pihak. Malahan, Duryudana, saudara tertua dari bala Kurawa, secara terang-terangan menantang Pandhawa untuk perang. Pada saat itulah, Arjuna dilanda pergolakan batin ketika ia melihat kakek dari Pandhawa, Bisma, juga harus menjadi bagian dari yang ia binasakan.

Namun Kresna lagi-lagi mampu meyakinkan Arjuna. Ia menegaskan, seorang kesatria pantang untuk mundur, tan kena wola-wali, pindha we kresna kang tumetes ing dlancang seta, tak bisa berubah, laksana tinta yang menetes pada kertas putih. Kresna ketika perang besar itu menjadi penasihat Pandhawa, yang mengatur strategi dan tetap menjadi kusir bagi Arjuna.

Meski di bagian lain, Narada, yang merupakan tangan kanan dari Bathara Guru, mengatakan jika Bharatayuda telah digariskan bahkan jauh sebelum Pandhawa dan Kurawa lahir. Bukan sekadar perang untuk membuktikan yang baik dan benar, tetapi perang ini disebut sebagai perang suci, yang harus dilakukan tanpa benci dan dengki.

Membunuh Bisma

Kresna pun marah ketika Arjuna tak segera merampungkan tanggung jawabnya sebagai kesatria: membunuh kakeknya sendiri yang berada di pihak Kurawa. Ia hampir melakukan tindakan itu sendiri dengan cara mencopot roda kereta dan menggunakannya sebagai senjata. Namun Arjuna buru-buru menghalau. Pada hari berikutnya, ia berjanji untuk segera menunaikan tugas.

Bisma tahu ajalnya tiba pada hari kesepuluh ketika ia berhadapan dengan Srikandi. Bisma yang sakti telah tahu, Srikandi dilahirkan untuk mengakhiri hidupnya. Arjuna yang berada di balik tubuh Srikandi pun menyerang dan mengalahkannya.

Tak hanya itu, selain memaksa Arjuna membunuh kesatria andalan Kurawa, yaitu Jayadrata, Durna juga berhasil dipenggal kepalanya. Dengan sedikit tipu muslihat, Kresna berhasil menipu Durna dengan wara-wara “Aswatama—anak Durna—mati”, ia mengabarkan hal itu sehingga membuat guru Pandhawa itu bersedih. Syahdan, ketika Durna meletakkan senjata, ia dapat dibunuh dengan mudah.

Puncak Bharatayuda ditandai dengan kekalahan Duryudana di tangan Bima. Kala itu pun, Kresna punya andil besar. Ia membisiki Bima bahwa kelemahan Duryudana ada pada selangkangan—sebagai bagian tubuh yang tidak diberi kekebalan oleh ibu para Kurawa, Gendari.

Kresna telah membantu Pandhawa memenangkan perang dengan membinasakan Kurawa, tanpa mengangkat senjata dan ikut bersimbah darah. Ia seolah menjadi the other, atau “aku yang lain” dari sang maha pencerita. Ia menjadi penuntun kisah dan perwujudan ideal dari seorang pejuang yang mampu memberi dorongan semangat dan strategi.

Namun betapapun hebatnya Kresna, ternyata tak mampu mencetak generasi yang unggul. Salah satu anaknya yang bernama Samba, dari istri pertama Dewi Jembawati, adalah anak yang sombong dan tidak sopan pada siapa pun. Suatu ketika Samba merayu kakak iparnya sendiri, Dewi Adnyanawati, istri Sitija, anak angkat Kresna. Samba akhirnya dibunuh sendiri oleh Sitija. Ada dalang yang mengisahkan gagalnya Samba meniru kehebatan bapaknya karena ia terlena karena memiliki seorang bapak yang kesatria.

Hidup Kresna berakhir setelah ia terkena panah yang dilepaskan secara tak sengaja oleh seorang pemburu di hutan tempat ia sedang bermeditasi, memisahkan jiwa dari badannya. Kresna ke surga.

Bhagawadgita pun berkisah: kapan pun dan di mana pun kebajikan merosot, dan kejahatan merajalela, pada saat itulah aku menjelma. Untuk menyelamatkan orang saleh dan menghukum orang jahat, serta menegakkan kebenaran, aku lahir dari zaman ke zaman.

Bharatayuda pun kukut, wayang masuk kotak. Menunggu kembali dimainkan, jika dalang menerima tanggapan.

Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s