Bodoh

Semasa mahasiswa S1, seperti halnya saat ini, saya memiliki banyak teman. Mereka adalah orang-orang pintar. Ya, tak ada teman saya yang bodoh. Semua punya kelebihan masing-masing.

Malahan saya yang harus mengaku sebagai orang yang paling bodoh di antara mereka. Dengan pilihan program studi yang sebenarnya tak dikehendaki―ketika itu. Saya merasa harus bersusah payah untuk mengerjakan banyak hal, yang berhubungan dengan kuliah dan kampus.

Saat mengerjakan tugas, misalnya, pontang-panting saya mencari mereka, yang pintar itu, untuk mencontek tugasnya. Atau pura-pura tanya, kemudian akhirnya berkata, “endi, aku ndeleng garapanmu”. Betapa saya adalah orang bodoh.

Serta merta, kebodohan yang tak kunjung musnah itu berakibat nilai akademik tak begitu baik. Selain karena kuliah yang tak menarik. Selain tak maksimal dalam hal pembelajaran, banyak pengajar yang sering tak masuk kelas, justru karena alasan yang tak ada berhubungan dengan kepentingan mahasiswa. Ini soal lain, tentu saja.

Saya merasa makin bodoh, karena semua itu.

Ketika hampir lulus, ternyata tak ada yang tersimpan. Yang mampu menjadi kebanggan atau yang mampu dijadikan hal yang akan saya banggakan saat lulus.

***

Sekarang, saya masih merasa bodoh dan malu, pada apa yang telah saya lakukan dan saya tulis. Ternyata Tuhan juga maha mengingatkan: untuk selalu merekam jejak kebodohan dan hal yang membikin malu, agar tidak lebih bodoh, dan tidak lebih malu.

Tuhan selalu mengingatkan saya untuk melakukan, dan selalu menulis. Mungkin apa yang ia perintahkan ingin selalu dikenang.

Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s