Teks, Erotisme, Kenyataan

Perkembangan kesusasteraan tidak dapat dipisahkan dari dinamika masyarakat tempat karya sastra itu lahir. Hal itu terjadi karena sastra dihasilkan oleh pengarang yang juga hidup dan berinteraksi dengan masyarakat. Dapat disimpulkan, teks dalam karya sastra merupakan hasil dari pengaruh timbal balik dari berbagai faktor sosial. Ia dapat dianggap sebagai realitas suatu masyarakat di “tanah kelahiran”-nya.

Permasalahan sastra memang sangat kompleks. Situasi politik, budaya, dan juga ekonomi tempat sastra dicipta dan dilahirkan, dapat sangat mempengaruhinya. Akan tetapi seperti halnya karya seni lain, setidak-tidaknnya sastra mempunyai fungsi untuk menghibur hati.

Berdasar kenyataan itu, sastra juga boleh dibilang memberikan ajang pembelajaran budi pekerti dan pengetahuan kepada masyarakat pembacanya. Nilai dan amanat yang terkandung dalam sebuah karya tidak ubahnya refleksi dari realitas yang ada di tengah masyarakat.

Dalam upaya mulia itu, nilai etik tentu tak melulu dipaparkan dalam kenyataan yang serba normatif. Maksudnya, realitas dalam teks tidak melulu berbicara soal kebaikan. Namun, pengarang punya interpretasi dan dunia ideal menurut pembacaannya atas kenyataan dalam masyarakat. Pengarang tidak sekadar menampilkan kembali fakta yang terjadi, tetapi telah membalutnya dengan imajinasi dan wawasan. Oleh sebab itu, meski tak sama persis dengan kehidupan nyata, Wibowo dalam esai Sastra sebagai Literatur Sejarah (2007) mengungkapkan, sastra patut dijadikan rujukan literatur dalam penelisikan sejarah.

Dan, kenyataan, termasuk pemikiran, selalu berkembang. Sastra sebagai teks tidak hanya mandek pada karya besar dan adiluhung. Akan tetapi, teks yang dianggap ringan dan ecek-ecek, yang terdistribusi melalui berbagai jejaring media sosial, pun punya sumbangsih yang tidak sedikit dalam perkembangan tradisi literasi. Terdapat semacam kenikmatan tekstual karena kemelimpahan makna dalam mengeksplorasi teks. Ketakterdugaan bentuk dan imaji itu tentu tidak saja mampu dilakukan orang-orang di luar sastrawan handal.

Tapi tak semua setuju pada keterbukaan pemikiran dan ekspresi tekstual. Dalam catatan sejarah, upaya untuk menormatifkan bahkan melarang beredarnya teks telah terjadi semenjak awal negeri ini terbentuk. Teks yang mewujud dalam sastra dianggap berbahaya, untuk negara dan masyarakat.

Kini, hal itu masih terjadi. Ketika teks mulai mendapat tempat–untuk tidak menyebut makin dihargai, justru pendidikan formal menolaknya. Kepada subjek didik sekolah dasar hingga menengah atas, teks itu makin dibatasi kekayaannya. Bukankah hal yang mustahil, menginginkan intuisi mereka terasah tanpa pernah menyuguhkan realitas imajiner? Atau, seberapa bayakah teks itu?

Perkara Klasik

Perkara klasik yang tak pernah berakhir dalam perbincangan sastra adalah tentang erotisme. Terdapatnya unsur seks dan birahi dalam teks sastra, meski selalu didiskusikan dalam berbagai forum, hampir tak pernah mencapai kata sepakat.

Namun erotisme dalam sastra masa kini bukanlah hal baru. Dalam penelitian Eskapisme dalam Sastra Jawa (2002), Utomo menyebut jika unsur erotisme dalam sastra Jawa modern telah ada semenjak pascakemerdekaan. Tahun 1950 hingga 1970-an, roman panglipur wuyung itu tak henti-hentinya mengeksplorasi tema percintaan dan didukung dengan gambar ilustrasi yang seronok.

Maka, tak ayal bila Freud (dalam Milner, 1992) menyatakan, sastra memberikan prioritas kepada wilayah seksualitas. Keinginan akan nafsu seks secara terus-menerus, merupakan perihal mendasar dan keharusan bagi manusia. Persoalan seks merupakan persoalan masa kini yang perlu mendapat penanganan secepatnya, dan tak pernah selesai sekalipun teks rampung dibaca.

Karya-karya lampau dan yang telah tertasbihkan menjadi adiluhung, yang tinggi mutunya, pun tak lepas dari urusan birahi. Di luar teks Centhini, Darmagandhul, dan Arjunawiwaha, Suhardi dalam Sastra Kita, Seks, dan Lokalitas (2011) menyebut Candi Sukuh di Kabupaten Karanganyar telah menggambarkan alat kelamin secara nyata dan wajar.

Bila disingkap lebih dalam, sebenarnya kehadiran tema erotisme dalam teks itu lebih pada sebuah tema diskusi. Tokoh Yasmin dalam novel Saman (1998) karya Ayu Utami misalnya, membicarakan seks dengan rasa bersalah. Seks yang hadir dalam teks bukan sebagai sebuah peristiwa, tapi tidak lebih sebagai persoalan yang sedang dihadapi kaum perempuan saat ini. Misalnya, kaum lelaki sering mempersoalkan masalah keperawanan, tetapi hal yang sama tak berlaku bagi kaum lelaki.

Ahyar Anwar dalam disertasi yang berjudul Dinamika Feminisme dalam Novel Karya Pengarang Wanita Indonesia 1933-2005 (2008) menjelaskan, ada kecenderungan kuat bagi wanita pengarang di Indonesia untuk melakukan fokus-fokus tematik feminis yang dikembangkan berkisar pada aspek perkawinan, pendidikan, pekerjaan, diskriminasi, dan seksualitas.

Dalam penelitian itu disimpulkan, wanita pengarang Indonesia pada periode tahun 1980-2005 lebih memilih tema novel dengan mengangkat masalah seksualitas, kekerasan, dan tubuh wanita ke dalam sebuah kerangka memerdekakan diri dari eksploitasi laki-laki terhadap wanita. Hal itu tiada lain karena wanita sering mengalami eksploitasi seks, kekerasan, dan penguasaan tubuh oleh laki-laki. Melalui teks, seks lagi-lagi hadir sebagai masalah penting dan berharap untuk segera tertangani.

Pedoman

Ratusan tahun sebelum teks diteliti, para pujangga sastra Jawa klasik telah membuat serat yang boleh jadi menjadi pedoman dalam mengajarkan pendidikan seks kepada anak muda. Di antaranya adalah Serat Asmarasupi, yang merupakan teks klasik pada era Mataram Baru, ditulis oleh Pakubuwana IX, seorang raja Kasunanan Surakarta yang memerintah pada tahun 1861–1893.

Serat ini, menurut Nugroho (2012), mengandung simbol-simbol tentang cinta atau seksologi ala Jawa. Di samping mengetengahkan seks sebagai sebagai sebuah permasalahan, Asmarasupi yang juga punya sebutan Jayengtilem (perkasa di saat tidur) menghadirkan ajaran tentang sifat-sifat kepahlawanan disertai petuah tasawuf Islam.

Kompleksitas yang tinggi pada teks-teks sastra ketika itu, tentu membutuhkan penerjemahan dan penelitian lebih mendalam untuk mengetahui makna dan relevansi dengan permasalahan kekinian. Dan, terlalu remeh bila memaknai teks sebatas luapan birahi yang nihil kaidah estetik. Atau selalu ada ketakutan dan kemunafikan, menghadapi kenyataan. (Suara Merdeka, 13/10/2013)

Dhoni Zustiyantoro

2 thoughts on “Teks, Erotisme, Kenyataan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s