Seni, Birokrasi, dan Realitas

culture

Permasalahan seni sebagai salah satu wujud kebudayaan tak berhenti sebatas disajikan dan ditonton. Dari waktu ke waktu, polemik selalu menyertai dalam upayanya untuk senantiasa bertahan dari gempuran zaman. Di Jawa Tengah, sejauh mana pemerintah daerah berpihak pada seni(man)?

Setidaknya secara eksplisit dalam sebuah tulisan di halaman ini, beberapa waktu lalu, Halim HD menyebut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tak menampakkan peran nyatanya dalam pergolakan kesenian tradisi di Jawa Tengah. Pada tataran ini, tidak ada komunikasi dua arah yang terbangun secara optimal antara seniman dan birokrasi, yang menurut Halim, berakibat pada tak pahamnya birokrat pada peta permasalahan seni dan budaya di Jawa Tengah.

Di sisi lain, tak banyak seniman yang (mampu) memperjuangkan aspirasinya pada ranah yang lebih luas: media massa atau bergelut dengan birokrasi. Sebagian dari mereka asyik bergumul dengan industri seni. Menggunakan seni dalam kerangka kontemporer yang populer di bawah hegemoni global.

Biasanya, merekalah para seniman yang selain lama berkecimpung di bidang ini, juga dibekali dengan kemampuan akademik dan manajemen yang mumpuni dan punya banyak pengalaman. Mereka paham dan cermat membaca pasar industri seni.

Seniman “akademis” itu kemudian cenderung punya banyak peluang untuk tampil di mana pun tempatnya. Di berbagai pergelaran besar, di panggung-panggung mewah dengan tata artistik dan suara yang megah, di hadapan gubernur hingga presiden, bahkan hingga luar negeri. Semua segmen bisa mereka masuki. Kedekatan dengan para pemangku kepentingan, dalam hal ini birokrat, juga merupakan salah satu penentu sukses mereka melenggang di panggung “mahal” itu.

Namun tak sedikit yang hidup segan mati tak mau, bertahan dengan cara macak seniman di perempatan bangjo. Setelah sejenak berjoget di hadapan pengendara kendaraan yang sedang berhenti dengan irama dan pola yang tak jelas, mereka menadahkan tangan kepada pengguna jalan.

Jangankan menggunakan tata kelola atau manajemen pentas yang baik, perkakas pentas seniman barangan (ngamen berpindah-pindah tempat) itu pun ala kadarnya: tata rias, properti, hingga iringan yang cuma bende dan kendang yang ditabuh bebarengan.

Di Kota Semarang, lewatlah di perempatan Kaligarang atau di ujung Jalan Sriwijaya menuju Mataram. Tak jarang terdapat hingga 3 kelompok jathilan yang setia beraksi setelah menunggu lampu merah menyala. Apa boleh buat, ini adalah pilihan yang harus mereka lakoni.

Polemik Tiada Akhir

Dari berbagai realitas tersebut, nampak bahwa polemik seni dan budaya di Jawa Tengah merupakan wujud nyata betapa pemerintah belum berupaya maksimal dalam memberikan ruang ekspresi apalagi mengelola dalam porsi yang semestinya. Belum lagi, permasalahan seni, dalam hal ini tradisi, di tengah industrialisasi global bukan lagi merupakan hal baru.

Ketimpangan yang terjadi antara yang “akademis” dan yang barangan juga merupakan wujud nyata kurangnya kepedulian itu. Ketika jathilan semakin tak mendapat tempat dan makin sepi tanggapan, apa boleh buat, bangjo menjadi ruang ekspresi sekaligus tempat mencari nafkah.

Hal itu terlepas dari kemampuan dan daya dukung kesenimanan mereka, karena nyatanya cara berkesenian jathilan barangan itu tak semuanya baik. Setidaknya keadaan yang seperti ini adalah realitas kesenian di era sekarang. Harapan untuk mendapat ruang yang lebih layak jauh panggang dari api.

Sebaliknya, yang terkenal pun makin moncer. Mereka mampu menangkap realitas kebutuhan penikmat industri seni. Unsur seni tradisi selalu diusung sebagai payung lokalitas, meski kemudian banyak pula berakulturasi dengan Barat. Kemudian batas antara tradisi dan modern mencoba dikaburkan karena hegemoni global: seni harus mengikuti perkembangan zaman.

Kesenian dan Kepentingan

Birokrasi kesenian pun acap ditumpangi banyak kepentingan. Sulit menyangkal ketiadaan proyek pada produk kesenian yang muncul sebagai pemanis acara-acara besar atau pentas mandiri sekalipun. Kenyataannya, seni itu muncul dari kalangan profesional: bukan dari proses panjang berkesenian yang dibina dan dikembangkan secara sistemis-bersinambungan. Bahwa sekali lagi, dalam hal ini pemerintah (daerah) belum memberikan keberpihakan sesuai dengan proporsinya.

Ingatan tentang kontroversi jathilan yang dilontarkan Gubernur Bibit Waluyo sebagai kesenian terburuk pada gelaran internasional di Magelang, setahun lalu, harus pula direkonstruksi. Ketidaklayakan itu adalah cermin betapa kesenian rakyat belum tertangani dengan baik. Bukankah penampilan yang sak-sake serta merta membawa kita pada ingatan kolektif bahwa jathilan belum mendapat perhatian lebih, bahkan oleh orang yang terdekat sekalipun: seniman. Tak bisa dimungkiri, kendala dana tentu menjadi hal yang utama.

Dari sisi teknis, persiapan dan proses dalam berkesenian menjadi hal yang tak bisa disepelekan. Pada acara sekelas internasional, tentu saja, kesempurnaan sajian adalah wujud persiapan matang penyaji. Atau, berkait dengan pendanaan, tak inginkah kita menyoal “sajian yang gagal” itu sebagai sebuah proyek? Sudahkah memenuhi standar pementasan dari sisi gerakan, iringan, kostum, properti dan hal teknis lain yang digunakan? Pertanyaan kritis itu nyatanya terlontar dari para pelaku seni senior saat menanggapi kontroversi tersebut.

Dalam tataran global, tradisi berkesenian sebagai upaya meneguhkan karakter berkebangsaan bukan sekadar omong-kosong. Pembinaan, upaya penyadaran, dan pengkaderan pun wajib dilakukan jika polemik kebudayaan tak ingin selalu bergulir. Di sinilah birokrasi hendaknya senantiasa hadir di tengah realitas kesenian. Bukan hanya selalu berkoar: ini tanggung jawab bersama, karena tak akan ada yang benar-benar melakukannya.

*Suara Merdeka, 15/9/2013

―Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s