Beberapa Puisi

di jendela yang salah satu sudutnya rusak

belum sedikit pun mampu mengguncang
bahkan pagi masih merenggutku di dingin sisa kemarau meranggas hati
tak taunya kereta telah berpacu
melenggang mesra di barat nestapa

burung-burung tak lagi berkicau, sekarang telah mencari hakiki
wanita berjarik anggun telah berpacu, tanpa ragu, tanpa baju
merdu alun keharmonisan telah berubah layu, bertengkar, tak ragu

sedangkan aku masih mengintip,
di balik jendela
yang salah satu sudutnya rusak.

17 Februari 2011

dia, yang diam

dia menyukaiku, bahkan di saat tak sempurna
dia mengagumiku, tanpa bujuk rayu
dia tak selamanya indah,
namun aku selalu menyertainya
tak inginku menoreh yang tak sebenarnya
dia, diam…

19 agustus 2010

bocah

berlarian kian kemari
membawa sejuta harap, mungkin
digenggamnya
Berteriak riang-riuh, tanpa beban
Bahkan berkata dusta,
tak mengapa, bukan?

“Sorot lugunya berkisah putih yang belum ternoda,” kata seseorang
namun aku tak percaya,
minimal Ariel dan Luna yang dulu itu, pasti tlah di benaknya.
atau, Maria Ozawa?
juga judul bertuliskan nama lain
siapa lagi?

Entah tlah berapa ratus berkesal hati dengan si pemilik rahimnya
membantah bukan suatu hal tak mudah,
menerka duga yang sebenarnya entah
memuntah maki tak berkesudahan,
hingga bertahan ego yang katanya sampai mati

hidup berputar kencang,
selayak bola yang kau tendang
mengalir deras ke hilir,
jangan ragu tuk menyeberang

bocah, berlarian kian kemari
ada pula yang hanya berteman jemari,
atau berbincang,
ah, kurasa berpacaran

dan, kau, bocah
menangislah!

17 Februari 2011

lapar vs kenyang

ada yang berjaya
ada yang korupsi
ada yang ingin ke luar negeri
semua kenyang

ada yang mengais di pojok kota
ada yang menengadah di ujung trotoar
semua lapar

15 September 2010

dialog di hampir senja

seperti kamu,
aku pun sekadar meminta
di mentari yang kian layu,
mengiring gemuruh kepak camar di rimbun jati
menyulam seberapa sorot surya di antara bukitnya
sekadar bertanya,
mampukah tak kubelokkan angan hingga ke esok harinya

telah bergaris memang di ambang awang,
sesosok mega yang kian samar,
menengadah dia di balut sunyi tak bertuan

ah, andai saja dia tau,
tak kupikir ke mana hanya di sekitar tlah bersemai jua

tak taunya mendung, tlah menyapu seberkas lena
di selatan gedung tua

23 Februari 2011

-Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s