Mahasiswa dan Nasionalisme

Garuda-Di-Dadaku3Kaum terpelajar, intelektual, dan aktivis mahasiswa selalu ambil bagian dalam proses pembentukan bangsa ini. Sejak masih berada di bawah kekuasaan kolonialis, mereka terjun ke arena politik dengan kesadaran bahwa berpolitik pada zaman itu adalah memperjuangkan cita-cita, menebar benih kebangsaan, dan menegakkan kemerdekaan walau dengan risiko 3 B: bui, buang, bunuh.

Dimulai tahun 1908, Boedi Oetomo dibentuk oleh para pemuda yang belajar di lembaga pendidikan STOVIA. Wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual. Kemudian mereka menetapkan tujuan perkumpulan: kemajuan yang selaras dengan bangsa dan negara, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri, serta kebudayaan (Muljana, 2008). Tak cukup kuat, Boedi Oetomo akhirnya terjun ke dunia politik.

Lalu muncul Sumpah Pemuda pada 28 Oktober tahun 1928. Gerakan yang dicetuskan melalui Kongres Pemuda II itu dimotori oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Sebagai keputusan kongres, mereka sepakat untuk mengaku bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan: Indonesia.

Namun setelah itu, pemerintah Jepang melakukan pelarangan terhadap segala kegiatan yang berbau politik: membubarkan segala organisasi pelajar dan mahasiswa, termasuk partai politik. Praktis, mahasiswa hanya memilih untuk berkumpul dan berdiskusi. Sejarah mencatat, di angkatan 1945 itu, para aktivis terpaksa menculik dan mendesak Soekarno supaya memproklamirkan kemerdekaan. Peristiwa ini dikenal dengan Rengasdengklok.

Semenjak kemerdekaan, muncul kebutuhan akan aliansi kelompok-kelompok mahasiswa, muncul di antaranya Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI) yang dibentuk 1947 di Malang. Kemudian, dalam Demokrasi Liberal (1950-1959), organisasi mahasiswa kebanyakan merupakan organisasi di bawah partai-partai politik.

Para aktivis kemudian membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), tanggal 25 Oktober 1966. Organisasi yang merupakan hasil kesepakatan sejumlah organisasi yang berhasil dipertemukan oleh Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP) Mayjen dr. Syarief Thayeb itu di antaranya, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Ikatan Pers Mahasiswa (IPMI). Mereka sepakat untuk menyatukan tekad perlawanan terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) (Sulastomo, 2008).

Angkatan 66 tersebut sukses mengangkat isu komunis sebagai bahaya laten negara. Gerakan ini berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendukung mahasiswa menentang komunis. Soe Hok Gie adalah salah satu aktivis yang sangat idealis dan cara pandangnya memberikan andil besar dalam pergerakan kawan seperjuangannya. Pemikirannya dalam wujud esai tersebar di berbagai media massa dan kemudian dibukukan dengan judul Zaman Peralihan (1995), Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (1997), Di Bawah Lentera Merah (1999).

Rezim ke Rezim

Mahasiswa selalu ambil bagian dalam setiap pembaruan dan pergerakan negeri ini. Mereka membela ketidakberdayaan masyarakat di tengah keputusan pemerintah yang tak memihak. Korban nyawa pun tak terhindarkan.

Dalam catatan sejarah, pada kasus 15 Januari 1974 yang dikenal dengan Peristiwa Malari terdapat sedikitnya 11 orang meninggal. Peristiwa itu dipicu karena kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka yang hendak menanamkan modal asing di Indonesia. Selain itu, mahasiswa juga tidak senang terhadap asisten pribadi Presiden yang memiliki kekuasaan besar. Peristiwa Malari dapat disebut sebagai tonggak kekerasan Orde Baru. Sejak saat itu, represi dijalankan secara lebih sistemastis semenjak Orde Lama tumbang (Adam, 2009).

Mahasiswa pun akhirnya dibungkam. Setelah Daoed Yusuf dilantik sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1978, kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dilaksanakan menyeluruh. Mahasiswa diarahkan pada kegiatan internal kampus yang tak membahayakan posisi rezim. Namun memasuki awal tahun 90-an, Mendikbud Fuad Hasan mencabut kebijakan tersebut. Sebagai gantinya, terbitlah Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK) yang terdiri atas senat dan unit kegiatan mahasiswa. Mereka menuntut lembaga mahasiswa agar independen dan tak terpengaruh gerakan politik.

Kemudian kita selalu ingat dengan peristiwa 12 Mei 1998. Mahasiswa melengserkan Soeharto karena dianggap tak mampu membawa perubahan untuk negeri ini. Kenaikan BBM, tarif listrik, dan angkutan, kala itu dirasa membebani rakyat di tengah himpitan karena pengaruh krisis finansial Asia. Untuk aksinya, mahasiswa harus membayar 4 nyawa saat melakukan aksi besar-besaran ke Gedung MPR (Yudiono, 2010).

Tak cukup rasanya, merunut perjuangan mahasiswa negeri ini pada sebuah tulisan. Rekam sejarah menyatakan, kaum terpelajar selalu ambil bagian dalam gerakan pembaruan yang diyakini selalu berpihak kepada rakyat sebagai penguasa dalam negara demokrasi. Melalui jalur tersebut, mereka sesungguhnya hadir―mengutip pernyataan Soekarno―sebagai penyambung lidah rakyat.

Pergerakan mahasiswa juga merupakan bukti bahwa wakil rakyat tak menunjukkan fungsi dasarnya. Kita patut kecewa pada politikus yang cuma mementingkan kelompok dan ambisi pribadi. Kemudian kita senantiasa kagum pada sosok pemimpin yang (berlagak) menanggalkan atribut birokrasi dan melewati batas-batas formalitas.

Sekarang, akankah kita hanya mampu mengenang para militan yang berjuang menegakkan nasionalisme dan berpolitik untuk kepentingan bangsa dan negara? Agaknya, hal seperti itu terlampau mewah untuk ukuran zaman di mana kalkulator lebih penting daripada nurani rakyat.

―Dhoni Zustiyantoro

*gambar: http://4.bp.blogspot.com/-WZHGpJpTM7E/Tw9R3UNiC1I/AAAAAAAABLs/RaDTpnIk3lc/s320/Garuda-Di-Dadaku3.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s