Gamelan dan Ironi Kebudayaan

GamelanGamelan Jawa banyak dipelajari warga asing. Tak sedikit yang rela pulang-pergi ke Jawa untuk belajar dan mendalami salah satu produk budaya bangsa ini. Daya juang dan ketekunan mereka patut jadi teladan pemilik asli.

Tangannya begitu cekatan saat memegang tabuh gender, salah satu instrumen gamelan yang terbilang sulit –atau butuh waktu lama– untuk dipelajari. Dengan lancarnya ia memainkan tetabuhan, bersama belasan mahasiswa yang masih tergolong baru mengenal gamelan. Memainkan beberapa repertoar gending Jawa klasik, ia nampak nunggal rasa dengan belasan mahasiswa yang asli Jawa itu. Tak ada yang perlu dibedakan memang, mereka punya tujuan sama; memainkan gamelan yang tidak hanya sekedar main-main.

Dialah Christopher Moure. Orang asli Prancis yang gandrung pada kesenian Jawa ini. Di samping belajar gamelan, pengalamannya melanglang buana ke berbagai tempat di Jawa –terutama Solo– membuatnya menjadi “semakin Jawa”. Kemudian ia menjadi pengajar gamelan di sebuah sekolah tinggi musik di tanah kelahirannya.

Selain Christoph (sapaan akrabnya), bule lain yang juga gandrung pada gamelan adalah Aurelien. Hidup –hanya — dua tahun di Yogyakarta untuk mendalami gamelan, membuat ia terbilang mahir memainkan beberapa instrumen yang tergolong sulit, seperti bonang dan kendang. Ia kemudian menjadi pengajar gamelan di sekolah musik di Prancis. Aurel juga telah memboyong alat kesenian itu ke negaranya, dengan membeli seperangkat gamelan slendro-pelog dari Yogya.

Ketika saya berkesempatan mempergelarkan gamelan Jawa pada event internasional di Kota Mode itu bulan Juli lalu, Aurel baru saja mengalami kecelakaan. Namun ia tetap saja memberikan pelatihan kepada pengunjung. Dengan tangan yang menggantung di depan dadanya, ia tetap memberikan instruksi dengan baik dihadapan para bule yang ngincipi nabuh gamelan.

Selain punya kemampuan menabuh yang baik, Christoph juga bisa mendalang. Malem selikuran pada Ramadan kemarin ia dipercaya membabar “Wahyu Makutharama” di Balai Agung Keraton Kasunanan Surakarta. Dua keahlian yang di Jawa hampir-hampir tak lagi dengan mudah ditemui di kalangan mereka yang tergolong muda.

Menjadi Jawa

Setidaknya dua orang itulah yang secara langsung saya temui. Dua orang yang dengan kegigihannya belajar sebuah produk budaya yang berbeda dengan tanah kelahirannya. Merekalah yang nyatanya mampu membawa gamelan Jawa ke Prancis. Mereka benar-benar merasa “menjadi Jawa”.

Saat warga asing gandrung, justru berbagai polemik kebudayaan di negeri ini tak ingin berhenti. Di sana-sini ramai dikhawatirkan tentang bahasa, sastra, seni daerah yang kehilangan rohnya. Tidak adanya sistem pengkaderan yang jelas, membuat jalan estetis ini bukan benar-benar hal yang harus dipilih. Walhasil, pelaku kebudayaan hanya itu-itu saja.

Kekhawatiran itu juga yang tiap saat dijadikan alasan mereka yang senior dan sudah mapan dalam hal kawruh kabudayan. Tak ayal, yang muda lagi-lagi menjadi bulan-bulanan. Tanpa ada upaya konkret untuk membenamkan rasa cinta budaya lokal.

Yang jamak terjadi kemudian, produk-produk itu tertumpangi oleh berbagai kepentingan lain. Gamelan dan tari misalnya, sering muncul dalam suatu acara dan seremonial penting. Dapat dipastikan, itu hanya sekadar ada. Harapan untuk lestari dan berkembangnya kesenian setelah itu nampaknya masih jauh panggang dari api. Harus jelas siapa-siapa yang melakukan pembinaan, upaya penyadaran, termasuk membungkusnya menjadi hal yang menarik namun tak keluar dari ranah tradisi. Bukan lagi “tanggung jawab bersama” seperti sering dikemukakan pemangku kepentingan, karena tak akan ada yang benar-benar melakukannya.

Di balik sebuah pementasan gamelan terdapat sebuah dedikasi tinggi. Terwujud dari laras, leres, rempeg, rasa-nya tetabuhan. Kemudian konsep itu dengan asyik-masyuk ke dalam tiap lini kehidupan manusia Jawa. Capaian estetis itulah yang mungkin ingin diraih.

Kalaulah benar gempuran globalisasi semakin mengukuhkan budaya Jawa sebagai hal yang matang, harusnya ironi, kekhawatiran, dan meruncingnya polemik kebudayaan tidak lagi membahana.

*Harian Suara Merdeka, 7/10/2012

-Dhoni Zustiyantoro

*gambar: http://www.ultimoparadiso.com/wp-content/uploads/2012/07/Gamelan-Cardiff.jpg

2 thoughts on “Gamelan dan Ironi Kebudayaan

  1. Pak Dhoni….. Saya ada tamu dari jerman, Mr. Alex. Selama berada di yogya ( 2bln) ybs ingin belajar gamelan. Dimana tempat untuk latihan gamelan yang direkomendasikan??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s