Ospek Menyenangkan, Why Not?

Menanggapi tulisan di Suara Merdeka, Sabtu, 21 Februari 2009, yang menyatakan bahwa ospek tidak lagi diperlukan.

Ospek atau seringkali disebut masa orientasi kehidupan kampus, merupakan salah satu cara mengenalkan pada mahasiswa baru tentang lingkungan kampus dan hal-hal apa saja yang nantinya akan dihadapi dalam dunia perkuliahan. Kebiasaan masa SMA diharapkan tidak dibawa oleh calon pemimpin bangsa dalam bangku perkuliahan.

Ospek mengajarkan pada kedewasaan dan melatih mental spiritual para anggotanya. Tentu saja hal itu harus terbungkus dengan ranah yang sesuai dengan norma dan etika, tentu tidak mengandung unsur kekerasaan yang selalu ditakutkan.

Apapun bentuknya, ospek secara tidak langsung membantu instansi tempat mahasiswa akan menuntut ilmu. Di dalam masa orientasi akan dikenalkan program akademik masing-masing jurusan, diperkenalkan dengan para dosen, dan tentu saja teman-teman baru mereka. Sehingga tidak akan terjadi pada nantinya mahasiswa yang belum mengenal teman atau bahkan dosennya sendiri pada saat proses perkuliahan.

Pengenalan dunia akademik kampus akan terasa lebih menyenangkan bila dilakukan dengan penuh rasa kasih sayang kepada sang adik kelas. Pada akhirnya, kesan dan manfaat yang diperoleh oleh para mantan peserta ospek selalu terkenang manis dan selalu ingin meningkatkan mutunya dari tahun ke tahun, tanpa ingin menghilangkan tradisi ospek yang selalu ada di kampusnya.

Bilapun ada peserta yang sampai menderita atau bahkan meninggal dalam acara ospek, hal itu tidak patut disebut sebagai sebuah kegiatan orientasi kampus, karena di dalamnya telah tersusupi hal-hal yang tidak lagi sejalan dengan norma dan etika kampus sebagai masyarakat akademik.

Di Universitas Negeri Semarang (Unnes), kegiatan orientasi kehidupan kampus yang disebut “Okka” sampai saat ini masih diselenggarakan dengan baik. Aktivitas di dalamnya pun sangat beragam dan menyenangkan. Mulai dari lomba di tingkat universitas sebagai ajang pamer masing-masing fakultas, pencatatan rekor MURI yang selalu menjadi agenda wajib Fakultas Bahasa dan Seni sebagai salah satu fakultas pelopor dan pergerakan agar ospek tetap ada, sampai pentas seni yang menampilkan para mahasiswa baru. Semuanya terbungkus dalam rasa kebersamaan dan “memiliki” adik kelas, tak ada batasan apalagi gelar senior dan junior yang selalu menjadi momok para peserta ospek.

Memang pilihan adalah suatu hal yang berat, namun menghilangkan ospek berarti telah menghilangkan tradisi berkreasi dan berkarya yang terdapat di dalamnya.

Terlepas dari kontroversinya yang selalu memakan korban, ospek sebagai salah satu ajang berkreasi para mahasiswa hendaknya tidak dihilangkan. Semoga kelak program orientasi di kampus ini menjadi hal yang selalu dinanti mahasiswa baru dan tidak diboncengi oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab. (8/3/2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s