Dia, Sucipto Hadi Purnomo

Lahir di Pati, 6 Agustus 1972. Salah satu karyanya yang membuat dia terkenal adalah cerita berseri Saridin Mokong yang diterbitkan rutin di koran Suara Merdeka, yang akhirnya diakhiri karena merasa jenuh menulis cerita yang telah mencapai 500 epidode lebih. Akrab dan grapyak dengan mahasiswanya (terutama perempuan), tidak pernah mau berpakaian PSH saat ngantor yang akhirnya hal tersebut menjadi style-nya.

Kalau tak percaya datanglah ke kantor Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa FBS Unnes, jika anda menemukan pria separuh baya dengan rambut tipis cepak becelana jeans, itulah dia. Ya, Sucipto Hadi Purnomo, seorang dosen, budayawan, penulis, jurnalis, editor, pembicara dan moderator di berbagai seminar, ketua OPSJ (Organisasi Pengarang Sastra Jawa), dan mungkin masih banyak lagi profesinya yang belum saya ketahui.

Segala hal yang berhubungan dengan dunia tulis menulis bisa anda serahkan padanya. Mungkin agak kurang sopan bila saya menyebut seorang Sucipto Hadi Purnomo dengan kata “dia”. Namun saya lebih nyaman menulis hal ini dengan kata itu. Maaf, Pak.

Tidak ada patokan jam ngantor baginya, datang jam 7 pagi dan pulang larut malam dari kantor adalah sebuah hal yang biasa. Selalu setia dengan mobil Suzuki Forza warna putih. “Setia” adalah kata yang selalu di ucapkan oleh pria yang tinggal di Villa Siberi, Boja Kabupaten Kendal ini.

Dia memang tipe orang yang sangat setia, dan (mungkin) dalam hal apapun. Misal saja handphone Siemens baru dia ganti setelah berbulan-bulan rusak. Dan laptop yang telah banyak “dihujat” oleh teman-teman, masih saja dipakai. Walaupun dekat dengan banyak mahasiswi, namun dia selalu menjaga jarak dan batasan-batasan tertentu supaya tidak ditafsirkan negatif.

Selalu aktif menulis dan mengisi kolom Kejawen di harian Suara Merdeka, walaupun terkadang sedikit mengeluh karena setiap minggu harus dikejar deadline, sedangkan pekerjaan menumpuk selalu antri di kantornya. Belum lagi mahasiswi yang selalu ngoyak-ngoyak minta bimbingan skripsi.

Aktif juga menulis penelitian terutama tentang ketoprak Pati yang selalu dia angkat dan kaji dari berbagai sisi. Ketoprak Pati juga dijadikannya sebagai tesis dan menghantarkannya menjadi lulusan Magister Pendidikan Seni. Nyaman, mungkin itu yang dia rasakan saat menulis berbagai hal tentang ketoprak.

Dua bukunya yang telah di terbitkan yaitu Wong Jawa (kok) Ora Ngapusi, dan Belajar Dusta di Sekolah Kita. Buku tersebut menurutnya adalah hard seller, yang berarti menjual dengan “kekerasan” karena buku-bukunya memang sebagai bahan mata kuliah, yang pada akhirnya mau tidak mau harus dimiliki mahasiswanya.

Sucipto Hadi Purnomo adalah dosen dan teman bagi teman-teman yang dekat dengannya. Dia aktif dalam membantu berbagai kegiatan, terutama yang berhubungan dengan seni. Menjadi pendamping Hima pun tak kuasa ditolak, karena hanya dia seorang yang dipilih oleh mahasiswa untuk mendampingi.

Dia juga mendirikan UKM Ketoprak “Ketawang”, kepanjangan dari “ketoprak tanpa uang” dan hingga sekarang bersama teman-teman penggiat Kesenian kampus masih selalu aktif mengadakan berbagai kegiatan Kesenian.

Kemarin, 6 Agustus 2009, Sucipto berumur 37 tahun. Segenap warga kampus mengucapkan selamat ulang. Apapun hal terbaik yang pernah dan akan di inginkan semoga tercapai. Kami tidak pernah bisa membalas jasa Pak Cip kepada kampus dan kepada dunia akademik.

Sekali lagi, selamat ulang tahun, Pak Cip!

(Posko KKN Tematik PBA Unnes 2009, Desa Ringinharjo, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, 8/8/2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s