Menyelamatkan Bahasa Jawa

guru

Mata pelajaran Bahasa Jawa wajib diterapkan di setiap satuan pendidikan pada semua jenjang sekolah. Kebijakan tersebut sesuai dengan Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah No 424.I3242 bertanggal 23 Juli 2013 (Suara Merdeka, 2/8/13).

Kebijakan tersebut tentu memberikan angin segar bagi jutaan guru Bahasa Jawa di Jawa Tengah. Beberapa saat sebelumnya, mereka patut khawatir karena Kurikulum 2013 nyatanya tidak memberikan porsi sesuai pada muatan lokal (mulok) itu. Pada semua jenjang (SD-SMA/sederajat), mulok dijejali pelajaran Bahasa Jawa dan Seni Budaya.

Implementasinya, pada jenjang SD kelas I-III, Kurikulum 2013 memberikan alokasi waktu untuk mulok sebanyak 4 jam pelajaran. Sedangkan kelas IV-VI diberikan alokasi 6 jam pelajaran. Pada SMP, mulok mendapat alokasi waktu 3 jam pelajaran. Sedangkan pada SMA, mulok diberi 2 jam pelajaran.

Alokasi pelajaran Bahasa Jawa pada berbagai jenjang tersebut dirasa sangat kurang. Pelajaran ini hendaknya terpisah dan tidak menyatu dengan mulok atau pelajaran lain. Hal itu dikarenakan, terlepas dari nasib para tenaga pengajar, pelajaran ini masih diyakini mampu menginternalisasi nilai-nilai luhur budaya Jawa yang makin tergerus globalisasi (Suara Merdeka, 29/6/13).

Tuntutan supaya pelajaran ini tetap hadir di kelas muncul dari berbagai kalangan semenjak wacana Kurikulum 2013 makin kuat dilontarkan. Tidak hanya di Jawa Tengah, mahasiswa, guru, dan pemerhati pendidikan di Jawa Timur, DIY, hingga Jawa Barat pun aktif bergerak menyuarakan hal yang sama.

Tiada lain, kesadaran kolektif pada semangat lokalitas yang bakal “dihilangkan” menjadi ketakutan bersama. Pada Bahasa Jawa, nyatanya mereka masih senantiasa punya harapan besar agar generasi penerus bangsa tak lupa pada pemertahanan kedaerahan, kearifan lokal, dan mengkhidmati budi-pekerti.

Namun, sekali lagi, para guru dapat menarik napas lega setelah Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah Nur Hadi Amiyanto menyatakan, mapel Bahasa Jawa wajib hadir dua jam per minggu. Pelaksanaannya pun harus terpisah dan berdiri sendiri dari mapel lain.

Mengawal Kebijakan

Kebijakan tersebut memang sudah semestinya dicanangkan sebagai pelaksanaan amanat pemerintah pusat. Jauh-jauh hari, Mendikbud M Nuh telah mengisyaratkan agar mulok ditangani sendiri oleh daerah. Hal tersebut karena Nuh menganggap daerahlah yang paling mengetahui kebutuhan peserta didik.

Lantas, setelah bangunan kembali ditegakkan, dengan cara apa pula kita dapat memperkokohnya supaya tak lagi retak, bahkan roboh? Dari sinilah sebenarnya peran nyata kita sebagai “konsumen” yang harus senantiasa mengawal kebijakan dan peraturan pemerintah.

Sebagai masyarakat, kita berkewajiban menjadi telinga yang baik. Mendengar dan melihat berbagai keadaan di lapangan dan melaporkan kepada yang berwenang bila ada yang tidak sesuai. Peran aktif yang sinergis ini tentunya adalah cermin guyub dan peduli.

Belum lagi bila memiliki anak yang sedang menempuh pendidikan di jenjang sekolah dasar hingga menengah, kita hendaknya tak pasrah bongkokan kepada guru di sekolah. Pada realitas faktual, kita patut bertanya sejauh mana anak mendapat porsi pembelajaran yang sesuai.

Kepedulian dan peran aktif ini hendaknya ditumbuhkembangkan orangtua sebagai upaya menjadi pihak ketiga yang mengontrol “hubungan” sekolah dan murid. Dengan upaya tersebut, anak diharapkan tidak akan kehilangan arah. Asumsi bahwa orangtua yang selalu sibuk dengan pekerjaan, sedangkan di luar pagar, sekolah tak lagi bertanggung jawab kepada murid, harus selalu dikikis melalui usaha tersebut.

Di sisi lain, kita juga tidak semestinya hanya mengandalakan guru di sekolah. Meski Bahasa Jawa mengajarkan segenap nilai-nilai yang berakar dari kebudayaan Jawa, tetapi waktu yang ditempuh guru bersama anak tidaklah lama. Tentu jauh lebih lama kebersamaan yang terjalin bersama keluarga.

Menghadirkan bahasa Jawa dalam keluarga adalah keniscayaan. Berharap anak dapat berbahasa krama yang memiliki tingkat tutur dan unggah-ungguh dengan baik kepada orangtua, sedangkan orangtua pun tidak pernah memberikan teladan, hanyalah angan belaka. Dari perihal itu, internalisasi nilai nyatanya tidak cukup dari guru dan sekolah saja.

Kepedulian orangtua dan guru pada hal-hal di atas tentu saja dapat digugu lan ditiru sebagai usaha menyelamatkan bahasa Jawa, menyelamatkan anak-anak kita.

―Dhoni Zustiyantoro

*gambar: http://rumahlutfi.files.wordpress.com/2009/02/teacher.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s