Aspek Kultural Lebaran di Jawa

ketupat

Berlebaran, merayakan Idul Fitri bersama kerabat, sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kultur masyarakat negeri ini. Setelah berpuasa selama sebulan lamanya, sebagian besar umat Islam merayakan kemenangan di kampung halaman.

Bagi kaum urban, menjelang lebaran berarti bersiap untuk berkumpul bersama keluarga besar di desa. Memang, terlalu mudarat rasanya bila memperdebatkan kapan tradisi ini mulai ada di Tanah Air. Namun yang jelas, berkumpul bersama sanak-famili di kampung halaman hampir-hampir menjadi hal yang tak bisa lagi ditinggalkan setiap tahunnya.

Keluarga kemudian menjadi “tempat” yang selalu diidamkan bagi mereka yang telah lama di perantauan. Kemudian, kepulangan orang-orang rantau  itu tak ubahnya jawaban atas kerinduan berinteraksi. Kembali mengakrabkan diri dan memunculkan ingatan masa lampau kepada orang yang selalu menjadi bagian dalam perjalan hidup.

Di Jawa, keluarga lebih jauh diartikan sebagai sedulur yang anggotanya tak hanya berdasar pada garis keturunan dan hubungan darah. Tapi lebih dari itu, sedulur adalah semua yang mempunyai peran sama dalam masyarakat. Hal ini, misalnya, terbukti dalam salah satu ungkapan klasik Jawa: aja gawe sengsaraning liyan (Mohamad, 2013).

Liyan dalam konteks ini bermakna bukan orang lain, tetapi sesama: jangan menyengsarakan sesama. Sedulur adalah sesama manusia: masyarakat luas dan siapa pun tanpa dibeda-bedakan.

Bila diperinci, Jawa juga punya konsep sekasur, yakni mereka yang tidur dalam kasur yang sama: istri, suami. Sedhapur, mereka yang hidup dari sebuah dapur: suami, istri, anak (keluarga). Sesumur, mereka yang menggunakan sumur bersamaan, di pedesaan sumur biasa digunakan beramai-ramai dengan para tetangga. Lebaran adalah upaya ngumpulke balung pisah. Menyatukan kerabat yang lama berpisah secara fisik.

Karena itu, interaksi kekerabatan di Jawa terlebih ketika Lebaran mampu mawujud dalam kehangatan karena berakar dari semangat bahwa sedulur bukan hanya “aku” dan “keluargaku”, tetapi juga menjunjung tinggi semangat sedulur dan paseduluran.

Munjung

Munjung, saling mengunjungi kerabat dan teman, menjadi rutinitas yang wajib dalam momen Lebaran. Tujuan utamanya sederhana: saling memaafkan. Meski kemudian, orang yang dikunjungi berusaha menyuguhkan sajian terbaik yang dipunyai: makanan, minuman, buah, dan sebagainya.

Hal ini juga menarik untuk dibahas. Tuan rumah punya keinginan untuk memberikan makanan yang terbaik kepada yang munjung. Tentu saja, tidak semua orang, terlebih yang tinggal di pedesaan punya kondisi ekonomi yang baik. Namun, bukankah ini juga upaya untuk menjaga supaya tidak menyengsarakan liyan? Terlepas dari motif sosial yang melingkupinya, hal tersebut setidaknya dijalankan sebagai laku menjaga perasaan sedulur yang telah mau munjung dan merajut tali silaturahmi.

Mereka tidak segan untuk mengadakan yang tidak ada: membeli, membuat makanan, mengambil dari hasil pertanian atau kebun, bahkan hingga meminjam uang kepada kerabat untuk menyambut Lebaran. Termasuk berpakaian yang lebih dari sekadar pantas untuk menerima yang munjung.

Perayaan kemenangan didahului dengan melakukan salat Idul Fitri. Pada hal ini, sesunguhnya terdapat pernyataan secara bersama-sama pada kekerabatan, di mana terdapat interaksi gagasan untuk senantiasa guyub yang terartikulasi dalam salat berjamaah.

Masjid

Mark R Woordward dalam buku Islam Jawa: Kesalehan Normatif Versus Kebatinan (2004) menulis, pernyataan kesukuan tersebut terwujud saat jamaah umat secara ritual tunduk kepada Allah, berdiri di belakang, dan mengikuti imam masjid.

Di pesantren, kiai senior yang sering digambarkan sebagai seorang yang seperti raja di keratonnya, selalu menjadi imam masjid. Tetapi saat tidak ada kiai, peran imam masjid akan bergilir di antara para tokoh senior atau tokoh yang dianggap sepuh dan dianggap matang ilmunya.

Masjid juga menjadi tempat kegiatan ibadah tahunan yang bersifat umum. Sepanjang bulan Ramadan, masjid ramai digunakan untuk berbuka bersama, ibadat salat tarawih, dan pembacaan Alquran yang berakhir hingga fajar.

Di Jawa, masjid kala Lebaran juga acap menjadi interaksi kultural di mana setiap muslim datang tak hanya untuk beribadah, tetapi bercakap-cakap, menggelar syukuran, hingga tempat beramal.

Kini, Ramadan telah usai, dan seperti biasa, masjid kembali sepi, tak ada interaksi “berarti”. Di samping itu, akankah kebersamaan, bekumpul dengan sedulur, dan memaafkan hanya menjadi romantisisme Lebaran? Bila memang seperti itu adanya, kita hanya mampu berharap supaya masih dipertemukan dengan Ramadan dan Lebaran di tahun-tahun mendatang.

Dan, setelah Lebaran, semoga kita tidak pernah gawe sengsaraning liyan. Amin.

―Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s