Menakar Objektivitas Jurnalisme Sastrawi

Karya jurnalistik berbasis narasi, kemudian sering disebut jurnalisme sastrawi, semakin menjadi kiblat banyak media massa. Hal itu karena genre ini acap disebut sebagai pembaruan besar untuk ranah jurnalistik supaya tidak terkesan kaku dalam pelaporannya.

Tulisan panjang yang dikemas dengan jurnalisme sastrawi mempunyai kekuatan untuk mengupas sebuah berita secara komprehensif. Selain deskripsi dan unsur-unsur pendukung sastra yang membuat tulisan jadi enak dibaca, panjang tulisan juga memungkinkan penulis untuk membuat berita secara mendalam dari berbagai sisi.

Terlebih dengan menggunakan gaya penulisan jurnalisme sastrawi, penulis lebih leluasa untuk memasukkan informasi dari narasumber yang dianggap mumpuni, tanpa harus terlalu kaku dalam penyampaian informasi.

Hal itu jelas berbeda jika dibandingkan dengan berita yang pada umumnya ditulis dalam bentuk yang relatif lempeng (straight news). Berita jenis ini umumnya hanya memuat satu sisi, bahkan terkadang tidak lengkap unsur 5W+1H sehingga lebih sulit untuk mencari konstruksi atas sebuah kejadian.

Namun, benarkah jurnalisme sastrawi―yang di Indonesia diusung Tempo pada tahun 1970-an―merupakan sebuah jawaban? Ketika di satu sisi jurnalisme mengagungkan fakta dan realitas, sedangkan sastra mengedepankan keindahan, sejauh mana objektivitas dan independensinya?

Kesalahan Kovach

Jurnalis mana yang tak kenal Bill Kovach? Sembilan elemen jurnalistik yang dia tulis boleh jadi menjadi pegangan oleh siapa pun yang ingin menjadi jurnalis andal. Kovach menulis buku The Elements of Journalism (2001) itu bersama Tom Rosenstiel―mantan wartawan The Los Angeles Times yang kini menjalankan Committee of Concerned Journalists, sebuah organisasi di Washington DC yang melakukan riset dan diskusi tentang media.

Salah satu bagian penting yang ditulis Kovach dalam buku tersebut adalah tentang elemen ketiga. Menurutnya, esensi dari jurnalisme adalah disiplin dalam melakukan verifikasi.

Tapi Kovach bukan malaikat. Tahun 1996, Kovach menulis tentang Charles Longstreet Weltner, seorang yang pernah mendapat penghargaan sebuah yayasan milik keluarga John F Kennedy karena dinilai punya keberanian moral.

Dalam esai itu, Kovach menulis Weltner memilih mundur dari kongres pada 1966 karena Lester Maddox dicalonkan partainya dalam kampanye pemilihan gubernur Georgia. Maddox seorang pendukung segregasi atau seorang sosialis. Weltner melawan partainya sendiri, mengambil risiko dikucilkan, karena Weltner percaya bahwa tiap warga punya hak yang sama. Ia pun kehilangan karir politik.

Setelah kemunduran diri itu, kehidupan Weltner kacau: mabuk, cerai, dan bergaya macam anak muda. Di sini, Kovach menerangkan bahwa Weltner menikah lagi yang bertahan lima bulan. Pernikahan ketiga dijalaninya hingga ia menjadi hakim agung dan meninggal pada 1992.

Sesudah biografi itu terbit, Kovach baru sadar membuat sebuah kesalahan besar. Dia mendapat kiriman berupa sebuah bungkusan besar dari mantan istri kedua Weltner. Isinya berupa fotokopi surat, dokumen, foto, dan sebuah surat panjang. Dalam surat itu, sang mantan istri mengatakan Kovach keliru dan telah mengahancurkan hidupnya hanya dengan pengisahan secara mengada-ada yang telah ia buat. Dia mengatakan, selama pernikahan, termasuk setelah bercerai, adalah periode di mana hidupnya paling bahagia. Bahkan sesudah bercerai pun, mereka masih sering berkomunikasi.

Pentingnya Verifikasi

Memang, tatkala pengaluran kisah dan segenap kaidah dalam sastra harus dibenamkan ke dalam ranah jurnalistik, tidak serta merta tanpa hambatan. Pilihan yang teramat sulit agaknya masih senantiasa membayangi: kebenaran ataukah keindahan. Namun akhirnya, bagi jurnalis yang hendak “bersastra”, verifikasi sebagai upaya pembuktian “kebenaran kisah” di lapangan selalu menjadi hal yang utama.

Dari hal itu sesungguhnya akan nampak perbedaan antara jurnalisme dan infotainment―dari kata informasi dan entertainment. Karena jenis terakhir hanya terfokus pada apa-apa yang menarik perhatian publik. Sedangkan jurnalisme meliput masyarakat, tidak hanya dari sisi hiburan, tapi juga yang memilukan.

Verifikasi jugalah yang kemudian dapat membuat jurnalis menyaring desas-desus, gosip, ingatan yang keliru, atau bahkan manipulasi guna mendapatkan informasi yang akurat. Disiplin verifikasi―seperti ditulis Kovach―inilah sesungguhnya yang membedakan jurnalisme sastrawi dengan hiburan, propaganda, fiksi, atau seni sekalipun.

Bahkan hingga kini, majalah Tempo, yang diyakini sebagai pengusung pertama jurnalisme sastrawi di Indonesia, masih sering mendapat klaim atas laporan yang dibuat. Keberanian Tempo dalam melaporkan investigasi―kalau boleh disebut juga berbalut narasi―yang didukung banyak data akurat sekalipun, masih banyak disanggah oleh pihak yang “dilaporkan”. Berbagai pihak itu acap menggunakan hak jawab dan klarifikasi karena ketidakterimaan atas laporan yang telah terbit, bahkan tak jarang berakhir di meja hijau.

Ketika menyanggah film The Insider (1999) yang kontroversial karena ketidakobjektivan sang sutradara―disebutkan film itu dari kisah nyata, secara eksplisit, Kovach menegaskan batas antara fiksi dan jurnalisme memang harus jelas. Dan, nyatanya jurnalisme tak bisa dicampuri perihal fiksi setitik pun.

*tulisan juga diposting pada http://sosbud.kompasiana.com/2013/07/24/menakar-objektivitas-jurnalisme-sastrawi-576240.html

-Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s