Ngesti Pandhawa, Setelah 76 Tahun

ngesti pandawa

Tanggal 1 Juli 2013, wayang orang Ngesti Pandhawa genap berumur 76 tahun. Apa saja yang telah dilakukan selama ini? Sejauh mana regenerasi pelaku seni di dalamnya?

Sabtu (29/6/13) selepas Isya, alun tetabuhan gamelan Jawa mulai mengumandang untuk mengawali pementasan wayang orang di gedung yang terletak di kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Jalan Sriwijaya Semarang itu. Bukan hal yang istimewa, namun itulah rutinitas yang dijalani para pelaku seni tradisi yang menggeluti kesenian wayang orang di Ngesti Pandhawa.

Sebelum rutinitas itu digelar, pada sore hari, puluhan seniman yang senantiasa terlibat di dalamnya melakukan tumpengan. Hal itu sekaligus sebagai wujud rasa syukur karena Ngesti Pandhawa masih hidup semenjak “dilahirkan” oleh Ki Narto Sabdo, empu pedalangan dan gending Jawa, pada tahun 1937.

Ya, wayang orang Ngesti Pandhawa masih senantiasa eksis hingga kini. Di tengah menjamurnya hiburan, tentu khalayak semakin jarang yang melirik hiburan berwujud seni tradisi. Memang, penonton di gedung itu hampir tak pernah penuh sesak. Selain di event tertentu yang mendatangkan bintang tamu kenamaan, semisal Didik Nini Thowok atau Yati Pesek, dalam pentas rutin, kursi penonton gedung Ngesti Pandhawa terisi tak lebih dari separuhnya.

Pada realitas lain, Kota Semarang memang jauh dari kesan kota yang identik dengan kegiatan budaya seperti halnya Surakarta dan Yogyakarta. Kota ini seolah kering akan kegiatan seni budaya yang benar-benar berawal dari sebuah proses panjang berkesenian. Walhasil, wujud “seni” kemudian hadir berupa musik band atau macam modern dance yang digandrungi kaum muda. Event organizer (EO) pun beramai-ramai mendatangkan artis kenamaan karena nyatanya tak pernah sepi dari pengunjung.

Motif Menonton

Dalam sebuah penelitian, Sadiyah (2012) menyebut, motifasi terbanyak yang dimiliki penonton Ngesti Pandhawa adalah mendukung eksistensi. Sebanyak 56,7% dari keseluruhan responden menyatakan hal itu. Tentu, tujuan ini berdasarkan pada keprihatinan pada kesenian tradisional yang semakin sedikit peminat. Kehadiran para penonton itu tidak ubahnya dukungan moral kepada pelaku kesenian di atas panggung.

Namun untuk bertahan dari gempuran zaman, Ngesti Pandhawa pun seakan sadar harus memberikan porsi kepada modernitas. Buktinya, berbagai inovasi sering dilakukan, mulai dari penggarapan lakon hingga iringan. Misalnya ketika membawakan lakon “Werkudara 7 Wong”, seniman Ngesti Pandhawa berperan sebagai Werkudara namun membawakan karakter Sengkuni, Punakawan, Arjuna, Rahwana, dan Werkudara asli yang dibalut dengan guyonan dan interaksi dengan penonton (SM, 5/3/13).

Hal tersebut tentu saja salah satu upaya yang dilakukan manajemen untuk senantiasa memikat penonton seni pertunjukan. Selain itu, menurut Widayat, salah seorang pemain wayang orang, Ngesti Pandhawa setiap empat bulan sekali melakukan pentas gabungan dengan wayang orang Bharata (Jakarta) dan Sriwedari (Surakarta). Menghadirkan bintang tamu kenamaan adalah salah satu “iming-iming” untuk menarik minat para penonton.

Dalam hal regenerasi pelaku seni, Ngesti Pandhawa kebanyakan melakukannya secara turun-temurun. Widayat misalnya, selalu membawa serta anak ketika latihan maupun pementasan. Hal itu supaya sang anak dididik mempunyai kecintaan sejak dini. Hal yang sama banyak dilakukan rekan seprofesinya yang mengajak beberapa anggota keluarga. Belasan siswa dan mahasiswa pun aktif menggerakkan roda kesenian tradisi di gedung ini, termasuk permintaan pentas di luar agenda rutin. Ketika sore, gedung pun sering digunakan untuk kegiatan ekstrakurikuler kesenian beberapa sekolah dengan melibatkan pelatih tari dari Ngesti Pandhawa.

Pada kenyataanya, tidak sedikit dari mereka yang menggantungkan hidup dari tempat ini. Menurut pengakuan Ngatijo, salah satu penabuh gamelan, seniman Ngesti yang berjumlah tidak kurang dari 70 orang sebagian besar berprofesi sebagai seniman, termasuk dirinya. Di luar permintaan pentas pada acara-acara tertentu, mereka mengandalkan hasil dari penjualan tiket pentas rutin tiap malam Minggu.

Pada pentas rutin itu, penonton membayar tiket masuk Rp15.000. Tentu bukan harga yang mahal dibanding dengan menonton bioskop di mal berikut biaya berbelanja segala macam keinginan. Lebih jauh, harga itu tentu tidak sebanding dengan banyaknya nilai kearifan Jawa yang penuh perenungan dan keadiluhungan yang dapat dipetik dari sebuah pementasan wayang wong.

Dalam beberapa kesempatan, kapasitas gedung 250 orang terisi penuh oleh siswa atau mahasiswa dari sekolah atau perguruan tinggi di Semarang yang mendapat tugas untuk mengapresiasi. Sesekali itu pula seniman wayang orang dan penabuh gamelan dapat tersenyum. Para seniman itu optimis Ngesti Pandhawa dicintai oleh generasi muda. Karena dengan campur tangan mereka, Ngesti Pandhawa akan selalu ada hingga kapan pun.

*foto: http://jarankepang.files.wordpress.com

-Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s