Sastra Tak Cukup di Sekolah

Sastra hampir-hampir tidak pernah mendapat porsi sesuai dalam mata pelajaran bahasa. Kehadiran sastra di sekolah selama ini sebatas pada pemenuhan pembelajaran, tanpa adanya upaya oleh guru terkait pemaksimalan potensi sastra pada siswa oleh guru bersangkutan.

Oktaratri, siswi kelas XII pada sebuah SMA negeri di Semarang, begitu takut ketika harus berhadapan dengan pelajaran bahasa Jawa. Maklumlah, gadis kelahiran Medan ini belum genap sebulan mengikuti keluarga yang pindah ke Kota Atlas. Karena sekolah yang ia tempati mengajarkan Mulok ini, mau tak mau Okta harus mempelajarinya.

Alih bahasa menjadi hal yang tak hanya sulit bagi Okta, tapi ia juga merasakan pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah tak menarik. Hal itu berimplikasi pada penguasaan berbagai kompetensi pelajaran. Singkat cerita, saat praktik nembang macapat, di hadapan teman-teman ia nyaris tak bersuara. Jangankan nembang, berbicara Jawa ragam ngoko–yang dianggap paling mudah–saja ia tak bisa.

Namun ternyata ia tak sendiri. Teman-temannya yang notabene asli Semarang pun begitu kesulitan ketika berhadapan dengan pelajaran ini. Walhasil, pada beberapa kompetensi dasar berkait dengan sastra, mereka kurang maksimal, baik dari sisi pemahaman dan capaian pembelajaran. Ironisnya, hal itu juga pada pelajaran bahasa Indonesia–bahasa keseharian mereka. Di sekolah, sastra hampir tidak hadir.

Di sisi lain, sastra tak hanya mawujud dalam bentuk konvensional macam buku. Tetapi melalui jejaring sosial facebook, twitter, hingga blog, sastra justru tumbuh subur. Lebih jauh, wujud sastra pun mengikuti laju modernisasi yang begitu deras. Kecanggihan teknologi memungkinkan sastra berwujud cyber, selain dalam bentuk drama dan seni pertunjukan yang berdasar pada teks, seperti drama, puisi yang dibacakan, hingga ketoprak dan wayang.

Pemahaman pada konvensi sastra yang makin luas juga berpengaruh pada pembelajaran sastra di sekolah. Guru sebagai yang terdepan yang membenamkan sastra di sekolah hendaknya tidak menutup diri pada semua perkembangan itu. Siswa yang tak bisa lepas dari alat komunikasi macam gadget yang selalu terhubung ke media sosial adalah sarana yang potensial untuk dikembangkan. Tiada lain, itu adalah upaya untuk mendekatkan sastra kepada mereka.

Kompetensi Guru

Berbicara sastra di sekolah, tentu tak lepas dari sejauh mana upaya guru mengajarkan jalur estetis ini kepada siswa sebagai peserta didik. Dalam hal ini, kompetensi dan upaya kreatif guru sangatlah menentukan penguasaan oleh siswa.

Setidaknya untuk dapat mencapai semua kompetensi itu, guru dituntut kreatif-inovatif. Melalui berbagai cara, guru sedapat mungkin menjadikan pembelajaran menarik. Melalui cara itu, siswa diharapkan mencecap pelajaran ini dengan cara yang menyenangkan.

Bukan hal yang mudah, memang. Pola orientasi siswa yang seakan telah berubah menuju era digitalisasi, justru harus dibaca oleh pemerhati pendidikan sebagai “cara lain” mendekatkan sastra kepada siswa. Konten-konten daring sudah sepatutnya diciptakan untuk mendukung ketercapaian pembelajaran. Kerja sama antara ahli sastra dan IT menghasilkan kolaborasi yang dinanti.

Dengan kata lain, sastra tidak hanya akan tumbuh di kelas. Upaya pemenuhan berbagai kompetensi nan kreatif itu tentu harus dilakukan dengan cara-cara “tak biasa”. Apresiasi dan pelajaran oleh siswa hendaknya tidak berhenti pada lembaran kerja siswa (LKS) atau buku paket dan modul, tetapi mengajak mereka pada kantong-kantong kesenian dan apresiasi pertunjukan sastra adalah pilihan yang teramat tepat.

Di Semarang, sebutlah Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) yang hampir tak pernah sepi disinggahi para seniman dan budayawan, tak hanya dari Semarang, tapi juga kota-kota sekitar. Tempat ini sangat boleh jadi menjadi rujukan apresiasi.

Pada tataran lembaga pendidikan tinggi, Universitas Negeri Semarang (Unnes) pun telah memberi ruang yang cukup memadai. Melalui Himpunan Mahasiswa (Hima) Bahasa dan Sastra Jawa, Festival Drama Berbahasa Jawa rutin dihelat tiap akhir tahun. Ajang yang selalu diikuti belasan peserta ini hampir bisa dinyatakan sebagai adu gengsi antar-SMA se-Jawa Tengah dalam hal eksistensi. Berhasil tidaknya, atau ada-tidaknya sastra di sekolah dapat terukur dari sini. Bahkan tahun lalu, monolog berbahasa Jawa pun berhasil digagas di lembaga pendidikan itu. Berbagai sarana pementasan juga terbilang memadai.

Tidak hanya tempat apresiasi, ketersediaan bahan bacaan sastra–sebagai hal mendasar–di perpustakaan sekolah juga harus dipenuhi. Selain buku-buku sastra berupa novel, puisi, geguritan, dan cerkak, berlanggaan majalah maupun media sastra janganlah ditinggalkan. Karena selain memberikan daya hidup kepada media itu, juga berpengaruh pada upaya kritis siswa untuk selalu memperbarui informasi mengenai perkembangan sastra di media.

Ruang Kreatif

Ketersediaan ruang kreatif juga sangat potensial untuk menumbuhkembangkan geliat sastra pada kalangan remaja. Lagi-lagi tak hanya di kelas dan sebatas pada pembelajaran yang terkesan kaku itu, menghadirkan sastra dalam ranah terdekat dengan remaja adalah keniscayaan.

Tempat-tempat nongkrong yang kian menjamur semacam kafe, warung kopi, hingga warung kucingan, sangat potensial untuk dibidik menjadi ruang kreatif sastra. Mengemas dan menghadirkan sastra dalam wujud apa pun, memungkinkan menjadi media interaksi kreatif.

Pembacaan puisi, geguritan, cerkak, hingga cerpen, potensial untuk digarap dan dikemas dalam ranah produksi sastra. Keberlangsungan dan keberlanjutan berbagai potensi itu tentu menatar pada konsistensi dan daya juang para pegiat sastra.

Belum lagi, upaya untuk mengakrabkan siswa pada tradisi tulis–pemahaman pada sastra secara umum–merupakan hal penting. Kompetensi menulis sastra berupa penulisan naskah, puisi, hingga cerpen, hendaknya tidak lagi mempermasalahkan perihal teknis pembelajaran. Ketersediaan bahan ajar, sarana apresiasi, juga media sastra hingga berupaya menerbitkan karya siswa, adalah lecutan yang baik di sekolah.  Melalui buletin, majalah, atau buku kumpulan karya yang digagas sekolah, produksi sastra oleh siswa bukan tidak mungkin menjadi hal yang selalu dinantikan.

Memang, sastra tidak cukup hanya diajarkan di sekolah. Lewat ikhtiar panjang itu, kita masih senantiasa berharap siswa bakal menekuni jalur estetis sastra. Melalui hal itu pula, kita berharap siswa khidmat untuk merawat keberlangsungan sastra sebagai sebuah produk budaya.

*kolom “Serat” Harian Suara Merdeka, 14/7/2013

-Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s