Mengalah dan Kemenangan Sejati

Tidak ada seorang pun yang ingin kalah. Di medan persaingan, menang sudah menjadi tujuan. Berbagai upaya ditempuh untuk mewujudkan tujuan itu. Ketika segala cara sudah dihalalkan untuk meraihnya, ngalah bisa menjadi cara untuk menang.

Menang atau kalah adalah perkara biasa. Pemenang acap dipersepsikan mereka yang menguasai medan. Di sisi lain, kekalahan sering pula dikaitkan dengan nasib; kurang beruntung, apes. Namun, mereka yang berpikir positif dan tidak mengenal putus asa akan mampu mengubah kekalahan itu sebagai awal kemenangan yang sesungguhnya. Sedangkan orang yang memaknai kekalahan sebagai keterpurukan adalah mereka yang tidak berpikir jauh ke depan dan takut melangkah.

Seperti halnya pertandingan, hasil yang didapat adalah pemenang dan yang belum menang. Ada yang bergembira, ada pula yang bersedih. Meski pada kenyataannya, ukuran menang dan kalah tiap orang berbeda. Pemenang hanya seorang, dan hendaknya pihak yang kalah pun nglenggana. Kegagalan adalah sukses yang tertunda.

Namun di sisi lain, kemenangan bukanlah segalanya. Dalam sebuah kemenangan terdapat pula amanah yang harus dipegang teguh. Pada tataran ini, kemenangan bisa berubah menjadi kekalahan. Dalam konteks kepemimpinan, ketika pemenang telah duduk disinggasana kemenangan, ia haruslah merealisasikan apa yang telah dijanjikan. Sewaktu kampanye, misalnya, sudah barang tentu iming-iming itu disebar.

Menjadi pemenang pun ada etikanya. Memang, mengalahkan musuh adalah hal yang biasa. Namun, menjadi pemenang bagi semua, pemenang yang rendah hati, pemenang yang amanah, niscaya akan membawa pada kemenangan berikutnya.

Bukan hal yang mustahil apalagi ngayawara, untuk dapat menjalankan konsep kemenangan yang elok itu. Menang tidak dapat hanya diukur dari gugurnya lawan atau pengakuan secara nyata kepada juara, namun lebih dari itu, unggul adalah ketika mampu menempatkan saingan pada posisi lain, yang ia pun tidak tergesa-gesa memaknai kekalahan sebagai kegagalan.

Kisah Sengkuni

Sudah sewajarnya, setiap upaya untuk melakukan tindakan meraih kemenangan hendaknya dilakukan dengan menggunakan cara-cara yang wajar. Jangan sampai niat baik tidak diimbangi dengan cara yang kurang baik, malah upaya untuk menang ditempuh dengan cara yang culas. Atas hasil tersebut, tentu kemenangan yang diraih bakal cacat; kemenangan yang bukan lagi amanat. Perihal ini, di jagat pewayangan, hampir-hampir kita selalu melihat Sengkuni sebagai sosok yang tidak patut dijadikan panutan karena melakukan segala cara untuk meraih ambisi pribadinya.

Di hari terakhir perang Bharatayuda, Bima kesulitan untuk mengalahkan Sengkuni. Bima hampir kehabisan cara karena Sengkuni sangat sakti. Senjata yang ia miliki tak mampu untuk untuk sekadar melukai karena kulitnya yang sangat keras. Sebelum akhirnya Semar memberitahukan bahwa kelemahan Sengkuni ada di dubur.

Kesaktian itu didapat Sengkuni karena berhasil mendapat minyak tala, pusaka tinggalan Pandu yang dititipkan kepada Dretarasta untuk Pandhawa. Minyak tala waktu itu menjadi rebutan anak-anak Dretarasta, para Kurawa. Akan tetapi sifat Sengkuni yang tamak membuat dia ingin memiliki minyak yang mampu memberi daya kesaktian tersebut.

Ketika terjadi perebutan, Sengkuni dengan sengaja menyenggol cupu berisi minyak tala yang dipegang  Dretarasta yang buta itu. Cupu terjatuh dan minyak sakti pun tertumpah. Dengan segera Sengkuni menggulingkan badan di atas tumpahan. Walhasil, kulitnya menjadi kebal terhadap senjata apa pun.

Tidak hanya itu, sifat licik Sengkuni juga tercermin ketika ia melengserkan patih negara Astina, Gandamana. Dengan jebakan berupa luweng–lubang di tengah jalan, Sengkuni menjegal Gandamana saat perang antara Astina dan Pringgadani. Perang ini pun merupakan hasil kelicikan Sengkuni yang berhasil mengadu kedua negara tersebut. Dalam lakon Dewa Ruci, Sengkuni juga berhasil membujuk Drona supaya menyingkirkan Bima dengan menyuruhnya mencari “kayu gung susuhing angin”–yang sebenarnya perlambang kawruh sejatine urip.

Sekalipun semua cara Sengkuni membuahkan hasil, namun tidak pernah langgeng. Kebenaran tetaplah di atas segalanya. Untuk hasil ini, menang dengan cara licik ternyata bukan kemenangan yang abadi.

Sikap Jawa

Pada realitas lain, meski dalam medan persaingan yang amat ketat, orang Jawa acap besikap redah hati dan menjauhi sifat sombong, terlebih ketika memiliki kekuatan, kekuasaan, kekayaan, atau bahkan kepandaian. Bahkan ketika berbeda pendapat dengan orang lain, orang Jawa menghindari keinginan merendahkan atau menghinanya di hadapan umum. Dengan melakoni hal itulah, dapat dianggap sebagai sikap yang terpuji. Karena bisa mencegah nafsu amarah pribadi terhadap orang lain yang bersalah.

Sedangkan bagi orang yang menjadi “terdakwa” karena telah berlaku kasar atau berseberangan itu, setelah mendapat isyarat maupun pasemon, hendaknya kemudian menyadari “kesalahan”. Kesadaran pribadi atas kesalahan yang dilakukan itulah yang sangat diharapkan dalam kritikan yang dibungkus dalam isyarat. Meski mudah diucapkan, dalam praktiknya hal ini sulit dilakukan.

Dalam teks klasik Jawa ada pula istilah sekti tanpa aji, sugih tanpa bandha. Hal demikian bisa saja terjadi karena orang tersebut selalu berperilaku baik, jujur, maupun bijaksana. Dengan perilaku semacam itu, orang lain akan menyegani. Tidak perlu menunjukkan kekuatan yang tidak perlu. Ia sudah “sakti” dengan sendirinya.

Memaknai kekalahan memang bukan perkara gampang. Ngalah karena telah berlaku jujur adalah kemuliaan. Dari ngalah, sesungguhnyalah bakal menghasilkan kemenangan-kemenangan yang lebih gemilang di kemudian hari.

Kolom “Sang Pamomong” Suara Merdeka, 9/6/2013

Dhoni Zustiyantoro

One thought on “Mengalah dan Kemenangan Sejati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s