Bahasa Jawa di Tangan Gubernur Baru

basa jawa

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh telah sepenuhnya menyerahkan kewenangan pengelolaan Mulok Bahasa Jawa kepada pemerintah daerah. Hal itu dikarenakan daerah dianggap paling mengetahui kebutuhan pembelajaran di wilayah masing-masing (SM, 5/4/2013).

Selama ini, bahasa Jawa hadir di kelas sekolah dasar hingga menengah atas lantaran adanya Peraturan Daerah (Perda). Setelah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo terpilih, sejauh mana ia mengetahui dan memikirkan nasib jutaan guru bahasa Jawa dan implementasi pembelajarannya? Hal ini penting manakala masyarakat seolah mempunyai anggapan global; ganti pemimpin ganti kebijakan.

Pernyataan Nuh di atas sekaligus memberikan angin segar kepada para guru bahasa Jawa karena semenjak akhir tahun 2012 muncul polemik bahwa pelajaran ini tidak hadir pada Kurikulum 2013. Guru juga patut berlega hati karena pernyataan tersebut dikuatkan dalam seminar “Bahasa Jawa ing Kurikulum 2013” yang digelar di Universitas Negeri Semarang (Unnes), 4 April 2013.

Seperti diketahui, semenjak 2006 pelajaran bahasa Jawa menjadi pelajaran wajib di SD, SMP, hingga SMA di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY. Pelajaran ini diharap dapat menginternalisasikan nilai-nilai kehidupan Jawa kepada peserta didik, misalnya gotong-royong, andhap asor, toleransi, kemanusiaan, dan nilai luhur lainnya.

Setidaknya untuk dapat mencapai semua kompetensi itu, guru dituntut kreatif-inovatif. Melalui berbagai cara, guru sedapat mungkin menjadikan pembelajaran menarik. Melalui cara itu, siswa diharapkan mencecap pelajaran ini dengan cara yang menyenangkan.

Mudah? Tentu tidak. Kultur siswa yang kini tidak semua dalam keseharian keluarganya getol mengajarkan bahasa Jawa, lebih-lebih ragam krama, membuat guru harus kerja ekstra menjejalkan semua itu. Sedangkan kenyataan di lapangan, orang tua yang mempunyai waktu lebih bersama anak tidak semakin ingin tahu apalagi mengajarkan kepada anak. Bahasa Jawa semakin tidak menjadi idola di daerahnya sendiri.

Peran Mendasar

Harus diakui, untuk tumbuh dan berkembang, bahasa Jawa butuh dukungan berbagai lini. Di sekolah, selain kompetensi guru yang mumpuni dan menguasai pembelajaran, media yang digunakan pun harusnya menarik minat siswa untuk selalu kreatif. Fasilitas pendukung berupa ketersediaan buku bacaan maupun referensi lain sangatlah dibutuhkan siswa.

Selain berkewajiban mengawal kebijakan, pemerintah daerah juga berperan melakukan kontrol yang bersinambungan. Berbagai pelatihan peningkatan pembelajaran, pembuatan media yang interaktif, hingga penyediaan sarana pendukung pembelajaran, selalu dinantikan para guru di sekolah.

Tidak hanya itu, keberpihakan industri media pada ranah seni dan budaya Jawa juga punya peran besar. Saat ini, media cetak maupun elektronik tidak pernah memberikan porsi yang memadai untuk menayangkan wujud kebudayaan Jawa. Wayang, ketoprak, maupun sajian serupa lainnya tidak pernah menggema di jam tayang dengan trafic penonton tinggi. Bukan hal lain, hal itu dirasa penting sebagai upaya menginternalisasi nilai keadiluhungan budaya kepada siswa. Anggapan “tak kenal maka tak sayang” agaknya berlaku pula untuk ranah ini.

Memang tidak mudah memikat siswa yang kesehariannya –makin– jauh dari bahasa Jawa. Selain keluarga yang tidak lagi menggunakan bahasa ibu dalam berkomunikasi, anggapan bahasa Jawa sulit juga makin menjadi momok tersendiri bagi anak yang belajar.

Akan tetapi bila pemerintah daerah mampu memberikan perhatian lebih berupa membuat kebijakan yang berpihak sekaligus mengawalnya, bukan tidak mungkin bahasa Jawa menjadi pelajaran yang diidolakan. Sebut saja komodifikasi kesenian tradisi tanpa mengurangi esensi nilai dan memberikan porsi sesuai di media cetak maupun elektronik, tentu akan menarik minat siswa untuk belajar menjadi lebih besar. Dalam hal ini, pemerintah daerah tentu wajib menggandeng para ahli di bidang pendidikan, seniman-budayawan,  dan ahli media yang berkompeten.

Selain punya tujuan strategis pembelajaran, hal itu diharapkan juga mampu menepis anggapan budaya Jawa yang kuno dan ketinggalan zaman. Lebih jauh, bahasa Jawa diharap mampu menjadi media ekspresi yang muda yang dinamis.

Selama kampanye dalam ajang Pilgub Jateng kemarin, belum nampak keberpihakan gubernur terpilih Ganjar Pranowo dalam ranah ini, terlebih lagi dalam dunia pendidikan. Namun hal itu bukan tidak mungkin terlaksana jika politik anggaran seperti yang sering didengungkan Ganjar dalam berbagai kesempatan akan berpihak pada sektor kebutuhan dasar selain kesejahteraan dan infrastruktur. Kita tunggu saja.

-Dhoni Zustiyantoro

One thought on “Bahasa Jawa di Tangan Gubernur Baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s