Pendekar dari Lereng Pacitan

Catatan Perjalanan (2)

sudijono-di-ambarawa#2

Lahir di wilayah gersang nan tandus membuat ia punya angan-angan besar untuk selalu menanam. Di sebuah wilayah di selatan Jawa Timur itu, ia terbiasa dengan transportasi yang teramat sulit.

Menempuh studi Sarjana Pendidikan di Institut Keguruan dan Ilmu pengetahuan (IKIP) Semarang, Sudijono Sastroatmodjo harus menempuh perjalanan jauh. Dari Pacitan ke Jawa Tengah, hanya ada dua pilihan, melewati jalur selatan dengan rute lebih panjang atau melewati rute sedeng dengan jarak tempuh lebih pendek namun harus melewati tanjakan curam di desa Sedeng. Bus besar tak mungkin lewat rute terakhir. Nyatanya transportasi tak jadi hambatan. Tahun 1981, ia lulus dari jurusan Hukum di lembaga pendidikan itu.

Zaman bergerak. Setelah kelulusan itu, Sudijono menjadi dosen di almamaternya. 12 tahun kemudian, ia menjabat sebagai Pembantu Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) di almamaternya. Setelah itu, pria yang pernah menduduki posisi Sekretaris Jenderal Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial Indonesia (HISPISI) itu berperan lebih saat menjadi Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan di fakultas yang sama. Ingin lebih mendalami bidang ilmu, Sudijono pun melanjutkan studi S2 di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.

Telaten “merawat” mahasiswa berikut segala kegiatan dan organisasinya, suami dari Sri Hapsarining Rochyani ini menduduki kursi lebih tinggi. Jabatan Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan diraihnya. Pada tahun 2005, Sudijono meraih doktor pada bidang Ilmu Hukum dari Universitas Diponegoro Semarang.

Tahun 2006, ayah dari Lina Mahardiani, Banjar Ranu Anditya, dan Haryono Jati Kawekas ini menjadi rektor. Semasa menjabat, ia banyak melakukan perubahan besar di internal kampus. Membenahi birokrasi, sistem informasi, hingga melengkapi sarana kampus. Walhasil, berbagai kemudahan ini pun seakan menjadi lecutan bagi segenap unsur kampus untuk berkarya dan berprestasi.

Tak berhenti di situ. Menjelang masa akhir jabatan di tahun 2010, ia memproklamasikan kampus Sekaran sebagai Universitas Konservasi. Ia punya angan besar bahwa kampus bukan hanya tempat berolah intelektualitas, namun juga tempat menjaga lingkungan serta hasil cipta, rasa, dan karsa manusia; kebudayaan. Deklarasi dan konsep kuat inilah yang nyatanya kembali menjadi rektor pada tahun 2010 hingga 2014.

Tidak butuh waktu lama, setelah diluncurkan, gaung konservasi begitu “cetar membahana”. Upaya menjaga kelestarian alam dilakukan dengan cara menanami kampus dengan berbagai tumbuhan. Perawatan dan pembiakannya pun bukan hanya dilakukan oleh petugas kebersihan. Mahasiswa juga diwajibkan untuk menanam dan menjaga tanaman. Gerakan menanam massal itu acap dilakukan di kampus hingga di luar wilayah. Rekam jejak penanaman oleh mahasiswa dipantau secara berkelanjutan.

Kampus Sekaran kian rimbun. Sudijono memang ingin mengembalikan kawasan Sekaran dan Kecamatan Gunungpati sebagai daerah resapan air dan penyangga untuk wilayah Semarang bawah. Tak puas menanam, berbagai wilayah resapan dibuat, seperti embung dan pemaksimalan hutan kampus. “Pak Rektor pernah memegang semua tanaman di kampus ini. Beliau sangat sayang pada tanaman,” kata Widi Widayat, Kepala Sub Bagian Perlengkapan dan Rumah Tangga.

Pemanfaatan dan pengolahan energi pun dibuat secara taktis. Pemanfaatan panas matahari untuk panel tenaga surya, pengurangan konsumsi listrik oleh alat-alat yang membutuhkan voltase besar, hingga kebijakan mengurangi pandingin ruangan di berbagai ruangan. Supaya tidak hanya pandai memanfaatkan tanpa adanya upaya untuk selalu berhemat.

Agar hemat energi, penggunaan kendaraan bermotor pun diminimalisir. Di kampus, Sudijono gemar berjalan kaki. Di antara deru kendaraan yang berseliweran, ia adalah pejalan kaki yang setia. Mobil dinas “hanya” diparkirkan di luar kampus. Jika tak berjalan, untuk menyingkat waktu tempuh ia biasa bersepeda.

Kegemaran itu membuat ia mengamati perilaku banyak orang di jalan raya. Mereka seakan makin individualistis ketika berkendara. Tak kenal satu sama lain, apalagi akrab bertegur-sapa. Meskipun sesekali ada sapaan, itu pun sepintas lalu karena mereka saling kebut dan tidak sabar untuk mencapai tempat tujuan. Sudijono gelisah.

Di akhir tahun 2012, melalui Badan Pengembang Konservasi ia memaparkan konsep tentang transportasi ramah lingkungan. Kendaraan bermotor tidak akan lagi masuk kampus, melainkan parkir rapi di beberapa parkir sentral. Berbagai sarana penunjang pun langsung dikebut. Mulai 2013, mahasiswa, dosen, dan karyawan masuk kampus dengan berjalan kaki, bersepeda, atau naik bus yang setiap saat berkeliling.

Bidang budaya pun tak luput dari pandangannya. Kegeraman akan abainya generasi masa kini pada hal yang seyogianya mereka jaga, menjadikan Sudijono mengarahkan kampus pada pelestarian budaya lokal. Melalui jargon konservasi budaya, berbagai program untuk senantiasa menjaga dan mengembangkan budaya luhur bangsa itu terintegrasi ke dalam jiwa Unnes yang Sehat, Unggul, dan Sejahtera (Sutera).

Wujudnya, setiap kali kegiatan di tingkat universitas, hampir-hampir tak bisa meninggalkan sajian kesenian tradisi. Jangan heran jika mendapati mahasiswa-dosen menabuh gamelan, mengalunkan gending-gending Jawa sebelum acara, hingga penari yang menyambut tamu resmi di kampus ini. Hal itu selaras pula dengan fasilitas dan sarana pendukung. Enam perangkat gemelan Jawa dan Bali telah diboyong masuk kampus. Dimanfaatkan oleh siapa pun yang ingin belajar dan ambil bagian. Bukan hal lain, semua itu bertujuan mengukuhkan kembali kebudayaan lokal untuk memperteguh karakter bangsa.

Delegasi kesenian pun kerap diberangkatkan, baik pada tataran nasional maupun internasional. Tahun 2012, Unnes memberangkatkan tim seni ke Prancis, Thailand, Singapura. Mereka berangkat sambil membawa misi kerja sama. Berupaya menggaungkan Universitas Konservasi di kancah internasional. Di dalam kampus, Forum Selasa Legen rutin menggelar diskusi budaya, sebulan sekali tiap malam Selasa Legi. Hari itu dipilih karena weton kampus ini. Tiap Kamis, segenap warga kampus pun dianjurkan untuk berbahasa Jawa. “Kemis, eling basa Jawane,” begitu ia sering menyerukan.

Sudijono bukan tipikal kacang lali lanjaran. Santer dengan konservasi, ia masih ingat daerah di mana ia dilahirkan yang sebagian besar berupa pegunungan kapur nan gersang itu. Kerja sama pun ia jalin dengan pemerintah setempat. Di sana, Sudijono mengajak Mendikbud untuk menanam. Bersama Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Mukhlas Samani, dan Bupati Pacitan Indartarto, mereka menanam pohon di kompleks Pantai Teleng Ria Pacitan, 7 Januari 2012.

Bukan hanya menanam, setahun sebelumnya, Sudijono juga meneken kerja sama dalam hal pengelolaan sistem informasi dengan kabupaten Pacitan. Dia menyatakan, Unnes bersedia menyediakan Sistem Informasi Penyelenggaraan Administrasi Pemerintah dan Pengembangan Sistem Informasi Bidang Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. “Harapan ke depan, kerja sama ini mampu meningkatkan kinerja bidang adminsitrasi pemerintah dan hubungan kelembagaan antara Unnes dan Pemerintah Kabupaten Pacitan dalam penyelenggaraan pemerintahan,” ujar Sudijono, setelah meneken MoU dengan Bupati Pacitan, 27 Juli 2011.

Gratiskan Kuliah

Memfasilitasi orang miskin berprestasi yang ingin berkuliah di perguruan tinggi, menjadi salah satu rencana besar Sudijono. Dari tahun ke tahun, ia selalu meminta jatah beasiswa lebih dari Kemdikbud. Tahun 2010, ketika Kementerian Pendidikan Nasional meluncurkan beasiswa full study Bidikmisi, Unnes mendapat jatah sebanyak 400. Ini adalah langkah awal dimulainya gerbrakan besar itu.

Tahun berikutnya, universitas eks-IKIP ini mendapat jatah 450. Tak lantas mengiyakan, Sudijono berpikir ulang. Ternyata presentase penerima beasiswa di kampus Sekaran masih sangat kecil. Untuk itu, ia meminta tambahan kuota 1.000 beasiswa lagi. Walhasil, sebanyak 1.450 mahasiswa duduk di bangku kuliah tanpa biaya serupiah pun. “Ini adalah amanat besar. Kuota tambahan ini justru diberikan ketika jatah untuk perguruan tinggi lain diturunkan,” ujarnya, Januari dua tahun lalu. Saat itu, menurutnya tak ada lagi yang harus ditunda-tunda. Apa yang ia sebut “amanat” adalah hal yang harus disegerakan.

Dengan pelaksanaan amanat yang sebenarnya tertuang dalam PP Nomor 66 Tahun 2010 itu, Unnes menjadi perguruan tinggi pertama yang memelopori dibebaskannya 20% dari keseluruhan mahasiswa yang diterima. Tahun 2012, hal itu dikukuhkan oleh Muri dihadapan Mendikbud M Nuh. Tak lantas goyah, dari tahun ke tahun lembaga pencetak tenaga kependidikan ini selalu konsisten mewujudkan amanat itu.

Dalam berbagai kesempatan, Sudijono selalu menjelaskan, memberikan bangku kuliah untuk orang yang miskin berprestasi adalah amanat yang tidak mungkin lagi ditunda. “Tidak ada kata untung-rugi saat melakukan hal itu, yang ada hanyalah untung dan untung,” tegasnya.

Kiprahnya sebagai pendekar bidang pendidikan, membuat Sudijono meraih berbagai penghargaan. Tahun 2012, ia memperoleh Damandiri Award. Oleh Yayasan Damandiri, Sudijono dianggap punya kepedulian, komitmen, inisiatif, dan inovatif dalam pemberdayaan keluarga dan masyarakat melalui pos pemberdayaan keluarga (posdaya). Memang, ia memaksimalkan mahasiswa yang terjun langsung ke lapangan untuk memberdayakan masyarakat. Hal itu setelah sekian lama mahasiswa melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) berupaya mengentaskan buta aksara di wilayah Jawa Tengah. Posdaya menjadi pilihan untuk seantiasa memaksimalkan potensi di masing-masing wilayah sekaligus mengurangi angka pengangguran.

Pada tahun yang sama, upayanya untuk selalu menanam pun mendapat penghargaan dari Presiden RI. Pada peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional 2012, ia menerima penghargaan di kawasan hutan kompleks Bandara Soekarno Hatta.

Dua tahun sebelum itu, tepatnya 8 Juni 2010, presiden telah memberikan anugerah Kalpataru kepadanya. Bersama 11 orang yang dianggap berjasa dalam bidang lingkungan hidup, Sudijono meraih penghargaan dalam kategori penyelamat lingkungan.

Memimpin bukan halangan untuk tidak melakukan salah satu tugas utama seorang dosen, meneliti dan mengabdi. Di bidang pendidikan , penelitian yang telah dilakukannya adalah Peningkatan Kualitas Lulusan dan Efisiensi Penyelenggaraan Jenjang SLTA (2005), Model Pembinaan Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (2005), Potret Kemiskinan dan Alternatif Penanggulangannya (2004), Studi Model Pengelolaan guru di Era Otonomi Daerah Dalam Rangka Peningkatan Mutu Pendidikan (2005), Penelitian Pengusaha Kecil yang Berbasis Sumber Daya Lokal (2006), dan Peningkatan Kualitas Lulusan dan Efisiensi Penyelenggaraan Pendidikan Jenjang SLTP di Kab. Pacitan (2004).

-Dhoni Zustiyantoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s